Tetapi sekarang sudah sampai waktunya; dan Maria menyimpan semua perkara di dalam facebook-nya.

Iklan

Belajar dari Maleakhi

Di dalam puisi
aku bersukacita
Di dalam puisi
aku kembalikan,  sedikit,
pemberian hidup yang melimpah.

Kertas kosong adalah mezbah
dan kata-katalah hewan kurbanku.
Domba tambun berbulu lebat
yang tidak buta, tidak timpang
dan tidak sedang sakit.
Jantan atau betina sama saja.

Kesendirian ini telah
aku pilih sendiri, setelah

aku cari kumpulkan lilin-lilin kecil
yang belum menamatkan bakti.
Kutemukan, kita di sini masih

Adakah sesuatu layak dibuang
cuma karena hari sedang terang?

Di dalam Puisi
aku bersukacita
pun dalam gulita

sehening mungkin menyusuri jalan-jalan kecil
memelukmu dari jarak jauh, sejauh mungkin.

Tahun 2018 adalah Tahun Melawat Puisi

 

1. MEMBACA
Bacalah dua kali, pelan-pelan, sambil seolah-olah bukan kamu yang menulisnya.

2. MAKNA HARAFIAH DAN TEMA
Sebelum Anda bisa memahami puisi secara keseluruhan. Cobalah mengerti makna harafiahnya.

3. JUDUL
Apakah judul dipilih dengan cermat.
Informasi apa yang diberikan oleh judul?
Ekspektasi apa yang diciptakan oleh judul?
Apakah judul mengandung simbol?

4. NADA
Siapa yang berbicara?
Apakah itu laki-laki atau perempuan
Seseorang muda atau tua?
Apakah ada ras, kebangsaan, agama, yang ingin ditunjukkan?
Apakah suaranya terdengar seperti suara langsung si penyair yang berbicara kepada Anda,
mengekspresikan pikiran dan perasaan?

Apakah suatu karakter tersendiri tercipta, seseorang lain?
Apakah pembicara menangani seseorang secara khusus?
Siapa atau apa?
Apakah puisi itu berusaha mengakhiri sesuatu, memenangkan sebuah argumen, menggerakkan seseorang untuk bertindak?
Atau hanya sekedar mengekspresikan sesuatu?
Apa mood pembicara? Apakah pembicara marah, sedih, bahagia, sinis?

5. STRUKTUR
Bagaimana pembagian baitnya?
Apa yang dibicarakan setiap bagian atau bait?
Bagaimana bait satu dengan bait lainnya saling terkait?
Mungkin ada semacam gerakan,
seperti langkah-langkah dalam sebuah pembelaan,
gerakan waktu,
perubahan lokasi
atau sudut pandang,
atau perubahan suasana hati.
Jika tidak, Puisi kadang-kadang tampak tidak rasional, tapi apakah itu masih masuk akal?
Struktur yang sangat terkontrol bisa memberi tahu Anda banyak tentang sikap si penyair terhadap subjek.
Apakah ini topik yang sangat formal?
Apakah penyair mencoba mencengkeram sesuatu yang kacau?
Atau lebih bebas?

6. SUARA DAN RHYTHM
Puisi berakar pada musik.
Bagaimana rimanya, cepat lambatnya.
Puisi sedih atau bahagia ritme dan rimanya.
Menekan-nekan atau berulang-berulang, atau bagaimana?

7. BAHASA DAN IMAGE
Apa lukisan konkritnya sesuai dengan suasana/makna puisi
Adakah pola tertentu dibangun, kumpulan kata-kata yang membangun rupa.
Sebagai contoh, tunas di pohon, anak domba, dan anak-anak: semua mengarah ke sebuah tema yg melibatkan musim semi, pemuda dan kelahiran baru.

Simbol?
juga sering digunakan dalam sebuah puisi.
cincin adalah simbol persatuan dan pernikahan;
pohon tunas di musim semi bisa melambangkan hidup dan kesuburan;
Pohon yang tidak berdaun di musim dingin bisa menjadi simbol kematian.

Perangkat puisi
metafora, perumpamaan, personifikasi, simbolisme dan analogi untuk membandingkan satu hal dengan yang lain,

dengan cepat dan sederhana (“Dia adalah harimau”) atau
perlahan di atas bait atau keseluruhan puisi (sebuah metafora yang diperluas)
Carilah rinciannya dengan saksama.

Perbandingan apa yang ditekankan?

Apakah mereka semua positif?

Bagaimana mereka terhubung?

Deskripsi burung terbang bisa memiliki bermacam makna.
Apakah burung-burung berkelahi melawan angin?
Melonjak di atas gunung?
Mengerumuni bangkai?
Perhatikan dan ambil petunjuknya.
Puisi, seperti video dan film musik, menggunakan serangkaian gambar dan simbol untuk membangun suasana hati dan makna. Anda perlu meluangkan waktu untuk merasakan mood dan menemukan maknanya, menemukan ketidakberesannya kemudian memperbaikinya.

*. tipe puisi?
* epik-cerita kepahlawanan,
* naratif-cerita,
* lirik-luapan batin penyair,
* dramatik-dialog/monolog,
* didaktik-nilai kependidikan eksplisit.,
* satirik- sindiran kritik,
* Romance,-luapan cinta Elegi-ratap duka,
* Ode-pujian kepahlawanan,
* Hymne tanah air Tuhan.

Many thanks to Pat Salmon

NAKAL DI MONAS

Itu sama dengan memperingati keprihatinan secara berhura-hura.

Tidak, tidak. Itu seperti memandikan bocah yang menggigil kehausan di malam hari dengan es soda gembira.

Ah, itu tidak begitu. Itu seumpama daun jendela bertuliskan * INI adalah PINTU * yang bergeser-geser mendekatimu supaya kamu mengetuknya.

Ah, tidak, tidak. Itu seperti kakus yang bergetar dan berisik karena kebelet kepingin kita, yang sedang ngobrol santai di sofa, segera mendudukinya.

Ah, bukan begitu, ternyata sangat sulit membikin sebuah perumpamaan yang bisa menunjukkan bahwa itu adalah seperti itu.

Natalan Di Monas

Misalkan saya ini pegawai pemprov DKI dan misalkan Pemprov DKI mewajibkan seluruh pegawai yg kristen/katolik merayakan natal di monas, maka saya akan natalan di Monas. Sebab natalan di mana pun tidak ada hubungannya dengan menjadi pengikut Kristus.

Jika pemprov DKI benar-benar “menghimbau” seluruh pegawainya untuk natalan di monas, bagi saya, itu menjijikkan.

Selamat Ulang Tahun, Kim Al Ghozali

18 Kata Dari Kita Yang Pertama

18 Kata

yang Pertama

Atra Senudin:

telinga, bisu, imajinasi

Maulana Rizki:

gambar, kokoh, tikar

Arya Dhimas:

lirih, terpa, gurih

Dadi Reza:

putih, kota, tersesat

Kim Al Ghozali:

kerikil, debu, cahaya

Sulis Gingsul:

kepiting, sederhana, android

———————————————————————————–

IMAJINASI  BISU

Telinga tuaku sulit diberi kata waktu

Hanya kebisuan  yang mengisi ruang kosong

Jauh dan entah kapan sampai di pikiran

Wajah penuh luka oleh debu kata

Pikiran hampa tanpa cahaya

Ini imajinasi bisu dari kata yang tersesat

Membayang android seperti kepiting

Mencapit setiap jiwa yang gurih

Tersantap cahaya kota    tersaji sederhana

Putih nyala

Telinga tuaku kini berbaring di atasdipan kokoh

Diselimuti tikar pandan lusuh dan berdebu

Adakah gambar presiden  di dinding itu juga membisu

Kerikil kata rakus dan  senator senator yang tersesat

Imajinasiku luruh diterpa                   lirih di kata

Aryadimas Ngurah Hendratno, 2015

———————————————————————————–

Imajinasi

Imajinasimu masih berkeliaran
Diantara kokoh tiang penyanggah ucapan lirih si Bisu

Kepiting ini mulai linglung
Sebentar lagi mungkin saja akan limbung
Diterpa gurih selera tikar bergambar sebilah belati

Kelak telingamu mendengar
Bisikan makna sajak ini
Dari pendar cahaya lampu kota
Atau dari kerikil yang melubangi telapak kakimu
Atau mungkin saja dari debu yang luput dibasuh

Jika belum kau temukan juga
Ambil saja androidmu
Mulai menulis sajak baru dan
Lafalkan ini “Hehehe”

Sederhana bukan?
Aku sedang bergurau
Padamu yang tersesat di lugu putihku.

Atra Senudin, 2015

———————————————————————————–

Surga Android

suaramu lirih nyanyi lagu sedih

seperti nyanyian bisu kepiting

yang tersaji gurih

                  di tikar persembahan

                           warung sari laut

putih imajinasimu itu bukan cahaya

itu angan yang berasal

                  dari gambar lampu kota

suara debu kerikil

         menerpa ujung telingamu

“sulitkah bagimu membaca

petunjuk sederhana

                  yang kokoh terpancang

pada sisi perjalananmu ?”

“atau kau lebih suka tersesat

di jalan menuju

surga androidmu itu ?”

=

Maulana Ramza Rizki

———————————————————————————–

                      SERUPA PUISI

                   selembar telinga

   bergambar imajinasi

                          nempel di dinding buku

                  bersampul puisi

ada tangan bisu

          membalik halaman buku

kata dan suara menghampar

seperti tikar menggelepar

kokoh namun gurih

                    lirih bahasa sederhana

                       diterpa  cahaya

      sesat melesat di atas punggung angin

dan kelepak sayap dingin

kala malam telah menghamba

               pada kota dan kaki gulita

ia beranjak dari samudera

ekornya yang putih    menyentuh

     seluruh kerikil  dan debu gang gang buntu

di seberang kelam   seekor kepiting bernyanyi

ode buat perempuan yang berkekasih android

(Kim Al Ghozali)

———————————————————————————–

Android

“Sungguh sederhana lukamu hari ini!”

Kakekku berkelakar mengelus perihku di atas tikar

Setelah  kepiting sungaimu  nyapit  ibu jari kecilku.

Kerikil gunung kokohmu tersesat di kota rapuhku.

Sering tergesa aku berlalu, tak tahu mengucap rindu

kepada  semua yang sabar  mencintaiku secara bisu.

“Sudahkah imajinasi menyelamatkanmu dari waktu?”

Jerit android yang bercahaya   dari waktu ke waktu.

Kulihat gambar kepiting sungai nampak kian gurih

                      merayu kekasihku yang kian canggih.

O langit bisu yang tak pernah putih,   berilah kami

lirih rintikmu . Agar telingaku jauh dari derit rindu

Supaya mataku bersih dari terpaan debu.

Sulis Gingsul, 2015