Kategori
SKETCH WATERCOLOR

Saya Suka Melukis karena Melukis itu Menyenangkan tetapi Saya Suka Menulis karena Menulis itu Menyenangkan

Sulis Gingsul AS
1 Juni pada 01.56 ·
Dibagikan kepada Publik
Belajar Menyederhanakan
pemandangan dari foto pak Mick Lo
Tes Kertas Baohong Artis Grade 300 gram ukuran A5.
 
 
 
 
 
 
Bonk Ava
pengamatan kurang teliti mas. kurang detail lukisannya…. sori. coba amati lagi pencahayaannya

 

Sulis Gingsul AS
Terimakasih Bonk Ava 🙏
· Balas · 2 mgg


Bayu Bergas
Bonk Ava maksudnya “kurang detail” dan “amati lagi pencahayaannya” itu gmn, mas? Nuwun sewu sy pgn lebih paham.

Bonk Ava
kalau dalam dunia seni terutama seni lukis, ada istilah ATM, artinya amati tiru modifikasi. kau coba lihat sekeliling, perhatikan sekelilingmu, amati. begitu cara belajar yang baik mas, coba kau perhatikan poto asli diatas. amati, objek yang ada di poto, garis, warna, pencayahan dan segala tetek bengeknya. belajar ngambar itu nggak sekali langsung jadi, butuh kesabaran keuletan dan kerja keras….
· Balas · 2 mgg · Diedit


Gm Sukawidana
Benar apa yang Bonk Ava katakan sebagai sebuah teori, tapi telitilah dalam membaca caption Sulis Gingsul AS, dia mengatakan belajar ‘menyederhanakan! Itu lho kata kuncinya!
· Balas · 2 mgg


Bayu Bergas
Bonk Ava wah maaf, mas. Saya masih kurang paham. Jawaban mas-nya mengulang komen yg paling atas. Justru itu yg saya ingin tau. Mungkin bs lebih konkrit lagi.

 

Sulis Gingsul AS
Baiklah, Bonk dan Mas Bayu,
mungkin baik kalau saya menjelaskan sedikit bagaimana proses saya melukis ini.
Pertama, saya sangat tertarik dengan foto yang diupload oleh Pak Mick Lo di Instagram. Foto itu mengingatkan saya pada suasana kedekatan, keamanan, kedamaian, dan hangatnya cahaya pagi. Saya ingin melukis itu.
Kedua, saya memang tidak sedang melukis realis. Saya melukis ini dengan “M” pada ATM seperti yg Bonk sebut di atas. Modifikasi atau lebih tepatnya me-rekomposisi. Komposisi warna hangat-dingin, komposisi gelap terang, komposisi tegas/blur, komposisi penempatan obyek dan sebagainya, semuanya, saya ubah dengan tujuan agar lukisan menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti, paling tidak untuk saya pribadi. Di dalam fotografi ada Deep of Field (kedalaman ruang); di dalam sebuah teater ada latar, tokoh utama, dan background. Ketika melukis, saya selalu mempertimbangakan kedua hal itu.
Sebagai contohnya. 1) Copa perhatikan sejenak foto asli. Ke mana saja mata Anda diarahkan ketika pertama kali melihat foto tersebut? Kalau pengalaman saya melihat foto itu, mata saya langsung terarah pada cahaya terang pada tembok di belakang payung kemudian turun ke plastik biru, baru kemudian ke pundak mas-mas yg duduk baca koran. Itu terjadi karena mata saya secara default langsung terarah pada sesuatu yang kontras dan atau berwarna. Cahaya terang yg ada pada payung itu juga merebut perhatian mata saya. Di dalam lukisan, saya berusaha menarik perhatian mata pada keintiman dua insan di bawah naungan cahaya.
2) Bayangan pada sisi tembok yg menonjol dan pada kosen pintu terlihat sangat jelas di foto. Itu sangat menarik memang–meyuguhkan garis-garis vertikal yang ritmis seperti itu. Bagus komposisi repetisinya. Tetapi itu saya kalahkan, dengan cara saya kurangi tone-nya (tingkat kegelapannya) supaya tidak menciptakan kontras, karena menurut saya itu tidak penting. Penyanyi latar tidak boleh lebih cantik dari penyanti utama. 3) Dan sebagainya, bisa Anda lihat sendiri perbedaannya. Banyak barang yang saya buang, sedikit yang saya tambahkan. Ini supaya pemandangan tidak terlihat sibuk, agar tenang dan hangat. dsb. dsb.
Apakah tujuan-tujuan saya tercapai? Ya, tujuan saya telah tercapai. Saya cukup sudah puas dengan hasilnya dan merasa senang telah menyelesaikan lukisan kecil ini. Saya memang gampangan orangnya :Dma
Semoga penjelasan ini bisa membuat Bonk Ava dan mas Bayu Bergas menjadi lebih jelas ya. Kalau memang sih memerlukan diskusi, silahkan diteruskan. Atau kalau mau bertanya kepada saya untuk penjelasan lebih lanjut bisa menggunakan messenger. Kadang-kadang kita bisa tidak sengaja terbawa situasi terlalu serius saat berkomentar. Padahal yg dimentari itu sesungguhnya bukan sesuatu yg serius 😃.
Seminggu yg lalu saya dikasih kertas oleh bali artemedia untuk dicoba. Ya saya coba dengan senang hati. Lukisan ini cuma tes kertas Baohong apakah bagus jika saya gunakan untuk melukis cat air. Ukuran kertasnya pun super kecil (A5 itu separonya A4) Lumayan untuk latihan.
Terimakasih 🙏🙏

Bayu Bergas
Sulis Gingsul AS Respon soal pencahayaan dan lainnya tidak konteks.
Ada dua hal yg sy yakin Mas Sulis lebih paham drpd saya:
1. Medium. Hakikatnya tidak ada realitas yg bs direkam ‘sempurna’. Mata, yg kali pertama, pun adalah medium. Salahsatu sifat medium adlh dia subjektif, versi. Bahkan pd medium yg sama pun tidak ada hasil yg sama. Kamera foto tak terkecuali. Alih medium pd akhirnya bukanlah sebuah proses layaknya repro (pun repro tetaplah repro!). Alih medium melibatkan subjektivitas, framing, interpretasi, semiotik sosial seniman, dll. Maka bagi saya, membandingkan gambar Mas Sulis dg foto dr Pak Mick, sudah tidak relevan. Selain itu, bukankah seni justru bergerak maju dg adanya keterbatasan2, distorsi, tafsir dan kemampuan eksekusi senimannya?! 🙂
2. Seniman. Sejak semula seseorang mencecap (dlm hal ini visual) sudah tentu menghasilkan kebenaran versi. Subjektif. Di dalamnya ada tafsir, interpretasi, sistem tanda yg dipahami, dll. Di respon Mas Sulis disebutkan motif utk melukisnya dan proses2 selanjutnya. Tepat spt yg ditulis mas itulah subjektivitas bekerja. Dan itu tidak bisa divonis sbg kekurangan atau bahkan kesalahan. Berkarya sesungguhnya perihal isi kepala (dan rasa?). Ikuo Hirayama, yg ‘bermula’ dari sketch macam yg Mas bikin itu misalnya, nggak akan bs dilihat sebagai seniman dg karya seni yg progresif kalo sekadar diapresiasi soal pencahayaan tidak menonjol, kurang detail, dan sejenisnya 🙂 Ada maksud2 tertentu dr seniman dalam penciptaannya.
Seni bergerak maju. Sangat maju. Pemahaman juga harus bisa mengimbangi. Krn keduanya saling membutuhkan.
Kira2 begitu, mas. Saya berterimakasih sekali panjenengan sudah berkenan utk sering2 posting gambar2 karya, Mas Sulis. Saya selalu ikut menikmati karya2 panjenengan. Saya suka sekali. Nuwun.

 

Sulis Gingsul AS
Bayu Bergas penjelasan yg sangat runtut dan mencerahkan. Memang demikian kurang lebih yg saya hayati. Terimakasih, mas Bayu
malah bisa membantu saya dapet rumusannya dari komenmu 👆🙏 akan saya simpan di blog untuk sinau.
· Balas · 2 mgg
Bayu Bergas
Sulis Gingsul AS nuwun sanget, mas Sulis 🙏🏾

 

Referensi foto Lukisan.
Terimakasih, Pak Mick Lo atas fotonya yang indah.


·
Salam bergerak.
Kategori
gembiraloka

Lebaran Bersama Corona

Tidak bersalam-salaman tidak mengapa, ya. Inilah kesempatan terbaik kita

rasakan indahnya salam damai

di dalam hati sahaja.

Tidak pakai baju baru tidak mengapa, ya. Inilah kesempatan terbaik kita

rasakan denyut hati baru

di sebalik baju butut.

Tidak ketemu tidak mengapa, ya.

O anak, o istri, o suami, o orang tua.

Inilah kesempatan terbaik kita

mengenakan perhiasan hidup

yg paling mewah: rindu yg megah.

Maafkan aku ya 🥰

Baiklah, tapi bertahap ya 😁

Eh, kamu kok gak minta maaf? 😍

Dosa apa aku sama kamu?😁

Baiklah, tetap kumaafkan. Aku pe-maaf, so

maafin yang bersalah maupun yang tidak.😍

Yeah 😁 Emang kau pernah berhasil

maafkan yg bersalah?

Memaafkan itu bukan sebuah kata

Memaafkan itu sebuah proses

Ini masih dalam proses sih

Tampak kan 🥰

Yeah 😁

Lebaran kali ini

mengingatkan mas Eko kepada fitrah.

Katanya. Kesucian, sifat asal

yang hening.

🙏🙏🙏

Kategori
gembiraloka WATERCOLOR

Melukis Kegembiraan

Kategori
gembiraloka

21 BUAH PERTANYAAN PERIHAL PANDEMI COVID 19 YANG AKHIRNYA SAYA SAMPAIKAN KEPADA MADE ADNYANA OLE KARENA SAYA TIDAK TAHU KEPADA SIAPAKAH SEHARUSNYA PERTANYAAN-PERTANYAAN INI DISAMPAIKAN DAN KARENA SAYA MENDUGA MADE ADNYANA OLE BERSEDIA MENYAMPAIKAN BEBERAPA PERTANYAAN KEPADA PIHAK YANG TEPAT APABILA MERASA ADA BEBERAPA PERTANYAAN YANG RELEVAN DAN BERGUNA UNTUK KESIAPAN KITA BERSAMA MENGHADAPI COVID 19

Pertengahan April 2020

1) Mengingat uang adalah salah satu media penyebar virus, tidakkah semestinya sudah menjadi keharusan bahwa hand sanitizer disediakan gratis di setiap pintu masuk minimarket?

2) Selain uang, pegangan pintu juga bisa menjadi media penyebaran virus covid 19. Bagaimana jika minimarket menyediakan satu karyawan khusus untuk membuka dan menutup pintu masuk? 3) Jika hal itu terlalu memberatkan pemilik minimarket, apakah yang bisa dilakukan oleh pemda? 4) Jika semua itu tidak memungkinkan, bagaimana misalnya minimarket dibiarkan terbuka? 5) Bukankah keselamatan perlu diutamakan daripada kenyamanan?

6) Apakah pemda sudah mengadakan pertemuan, memberikan pengarahan, dan melayangkan perintah, atau mengadakan pengawasan kepada semua pemilik minimarket di daerahnya berkaitan dengan hal baik yang bisa dilakukan minimarket kepada supplier, pelanggan/para pembelinya?

Kalau tidak salah ingat, pada hari Kamis pagi tanggal 9 April 2020, saya melihat beberapa polisi melakukan aksi himbauan pemakaian masker untuk pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah dekat Mal Matahari. Tidak hanya itu, bapak-bapak polisi juga membagi-bagi masker secara gratis untuk pengendara sepeda motor yang belum memakai masker. Terimakasih, pak polisi, saya sangat gembira menyaksikan peristiwa ini. Tetapi setelah itu saya masih melihat banyak sekali pengendara motor yang tidak mengenakan masker, dan di sepanjang jalan yang saya lalu beberapa hari ini tidak saya lihat ada polisi yg berjaga untuk memberikan peringatan. 7) Bukankah ini adalah waktu yang sangat baik bagi Polri dan TNI untuk bekerjasama memberikan bantuan, entah bagaimana pun bentuknya, kepada masyarakat dalam menghadapi pandemi ini?

Beberapa ahli telah melakukan prediksi mengenai jumlah kasus positif di seluruh Indonesia. Diberitakan di beberapa media bahwa Bin juga sudah mengeluarkan angka-angkanya. 😎 Apakah tidak memungkinkan apabila dari data itu dipecah-pecah jumlahnya untuk setiap daerah, sehingga Pemda bisa menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi kasus terburuk? 9) Apakah sebetulnya data itu sudah ada tetapi tidak disampaikan kepada masyarakat karena menghindari kepanikan masal? 10) Menurut saya, informasi mengenai kemungkinan terburuk di setiap daerah itu juga berguna untuk disampaikan kepada masyarakat agar masyarakat bisa lebih berhati-hati dan terutama untuk mencari jalan keluar, mengingat sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah kerja di luar rumah. Pengusaha tentu akan mendapatkan manfaat juga dari informasi ini untuk digunakan mengambil suatu keputusan terbaik. Prediksi memang tidak selalu tepat. 11) Tetapi bukankah kesiapan untuk mengatasi situasi terburuk adalah lebih baik daripada ketidaksiapan mengatasi situasi yang tidak terlalu baik?

Saya mendapat informasi bahwa salah satu perusahaan ojol telah memfasilitasi para drivernya agar mendapat keringanan dalam mengangsur kredit motor/mobil. Salah satu teman saya, seorang driver grab juga menginformasikan kalau dia mendapat bantuan sembako. Saya menanyakan apakah bantuan sembako itu dari grab. Bukan, sembako itu dari orang-orang, jawabnya. 12) Jadi, benarkah memang belum ada bantuan secara materi dari pemilik usaha ojol? Misalnya, bonus, sembako, dan lain semampunya?

13) Apakah benar karantina mandiri untuk orang-orang yang baru saja datang di Bali dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing? 14) Apakah hal ini tidak menambah kemungkinan penyebaran wabah ke mana-mana? 15) Bukankah sudah ada penelitian yang menemukan bahwa ada beberapa kasus positif yang sama sekali tidak menunjukkan suatu gejala? 16) Ataukah itu merupakan hoax?Jika itu bukan hoax, apakah kemungkinan terburuknya jika seseorang kasus positif covid 19 yang tidak menunjukkan gejala dikarantina secara mandiri di rumahnya? 20) Tidakkah akan sangat besar kemungkinannya kemudian anggota keluarganya tertular? 21) Atau memang kebijakan ini terpaksa diambil karena belum tersedianya fasilitas yang memadai?

Kategori
gembiraloka

UPDATE

Selamat malam, para pemberi kabar dan penyebar kabar. Di masa ini kalianlah yg kami tunggu-tunggu. Apa kabar, update hari ini?

Tetapi tidak mendapatkan informasi sama sekali adalah lebih baik bagi kami daripada kami mendapatkan informasi yang melenceng jauh dari kenyataan. Informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan berpotensi menyesatkan, bahkan mencelakakan, ketika informasi yg tidak benar itu kami jadikan dasar untuk melakukan suatu tindakan.

Kategori
gembiraloka

WELA

WELA

Dulu, sewaktu saya tersesat 4 tahun di sebuah asrama, ada lauk yang dinamakan WELA.

WELA itu terbuat dari tahu yang digoreng dengan entah, pakai bawang dan garam atau tidak. Yg jelas, rasanya seperti kehampaan yang begitu akrab.

Konon, nama WELA itu mulai ngetren setelah ada salah satu anggota asrama kami yang spontan berteriak dengan emosi tidak terkendali, keras sekali, setelah melihat menu di meja makan: “We…lha…tahu maneh”

Maklumlah, tahu goreng adalah lauk yg paling sering menghiasi meja makan di asrama kami dulu. WELA bersahabat amat dekat dengan SAWI.

Mungkin ekonom asrama kami pada waktu itu telah melakukan riset besar-besaran tentang makanan termurah yang mengandung gizi paling banyak.

“Teeet” sebuah bel makan siang pun ternyata mampu menciptakan beragam harapan dan kecemasan.

“Apa lawuhe saiki, cah?”
“WELAAAAA, su!!!

Kategori
gembiraloka

Kunci Gitar Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

via Kunci Gitar Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

Kategori
gembiraloka

PERASAAN ITU

Saya itu tidak gampang jengkel.
Tetapi bikin jengkel orang adalah salah satu bakat saya yang paling menonjol.

Jadi, ketika ada orang yang saking njekelinnya bisa bikin saya jengkel, saya tentu jengkel juga. Sedikit. Dan salut 👍.

Tetapi, eh…kok tetapi lagi. E…namun, setelah sempat jengkel sedikit itu, saya akhirnya malah sangat senang.
Karena, sesungguhnya semua perasaan itu kan berharga.
Senang, susah, gamang, dan jengkel pun berharga

dan semuanya itu tidak dijual di toko-toko.

Kalau misalnya jual-beli perasaan itu ada,
wo, saya bisa kaya mendadak,
sekarang juga buka lapak,
jualan rindu banyak-banyak.

Kategori
PUISI SKETCH WATERCOLOR

SKETSA-SKETSA DI RUMAH SEMINGGU

Pohon-pohon ingin memelukmuYa, pohon-pohon yang kau abaikan itu seperti aku

ingin sekali memelukmuDERETAN POHON

aku ingin mengajakmu ke pulau dewata.

Kepadamu akan kutunjukkan deretan pohon

di sepanjang pinggir jalan gilimanuk-ubung.

Mereka seperti mengucapkan semoga selamat

kepada yang berpergian

dan kepada yang berpulangan.

pohon-pohon itu, ah, seperti sengaja dipisahkan

oleh sebuah jalan yang kecil, tetapi amat panjang.

Barangkali karena itulah mereka berdiri agak condong:

Yang di pinggir kiri jalan agak condong ke kanan

Yang di pinggir kanan jalan agak condong ke kiri

Ranting-ranting mereka seperti berjuta-juta jemari

membawa saputangan berjuntai-juntai.

aku ingin mengajakmu ke pulau dewata.

Kau perlu memperhatikan deretan pohon itu.

Mereka seperti berpasang-pasang kekasih terpisah

hendak saling mengusap wajah yang sedih resah.

mengapa pohon-pohon itu berangkulan?

Bagaimana mereka nanti tahu

daun siapa yang sedang berguguran

dan daun siapa sedang bikin teduh kita?

Ada, tetapi tidak selalu

Puisi-puisi menjadi awan

yang menjadi hujan.

Sg