DAN AMPUNILAH KEINDAHAN MIMPI KAMI

Ia seorang yang gampang tidur.
Begitu berbaring tiga menit, ia langsung terlelap. Pernah ia tidur pulas di pinggir Pelabuhan Padang Bai, berselimut jas hujan. Pada saat itu gerimis kecil dan teman karibnya, Petrus Eko , masih asik mancing di dekatnya.

Ia senang tidur dan sangat senang melihat orang tertidur pulas. Ia tidak akan membangunkan orang yang sedang tidur, kecuali ada gempa. Tidur itu ibadah. Ya, tidur itu ibadah terutama bagi para bos yang galak dan cerewet. Logikanya begini. Bos yang galak dan cerewet bikin resah para karyawan. Ketidakhadiran bos yang galak dan cerewet bisa bikin suasana kerja jadi kondusif. Itulah sebabnya ia pernah pengin jadi bos, bos besar yang galak dan cerewet dan sangat nyebelin. Dengan begitu tidurnya akan sangat-sangat ibadah. Betapa tidak, tidurnya akan membuat banyak orang merasa santai, aman, dan bahkan mungkin bahagia. Coba iseng-ideng ingat-ingatlah dan carilah apakah ada amal perbuatanmu yg lebih ibadah dari bos besar yang galak, cerewet, dan nyebelin yang sedang tidur di hari kerja?

Ia pernah memiliki sebuah mimpi indah. Eh, tepatnya, ia pernah dimiliki oleh sebuah mimpi indah. Ini seperti pepatah yang belum pernah ditulis: “Bukan kamu yang memiliki mimpi indah melainkan mimpi indahlah yang memiliki kamu.” Mimpi indah itu menyuruhnya berbuat ini lalu berbuat itu, berbuat ini lagi dan berbuat itu lagi, tak ada habisnya. Begitulah, mimpi indah mirip bos, pikirnya. Mimpi indah bikin orang gak bisa tidur.

Makanya ia berpendapat bahwa mimpi yang paling baik adalah mimpi buruk. Mimpi buruk bisa menyebabkan orang tiba-tiba terbangun dengan perasaan deg-degan. Deg-degan itu sangat penting dewasa ini bagi orang-orang yang hidupnya datar-datar saja seperti dia itu. Bukan hanya itu, setelah itu orang yang terbangun dari mimpi buruknya akan memperoleh perasaan lega,
“Astaga, ternyata itu tadi cuma mimpi”

Dan makanya, sebelum tidur, ia sering berdoa memohon sebuah mimpi yang buruk. Dikabulkan syukur, tidak ya syukur. Demikianlah rumusan doanya:

“Berilah kami pada acara tidur ini mimpi buruk yang secukupnya. Dan ampunilah keindahan mimpi kami seperti kami pun mengampuni keindahan mimpi mereka.

Karena saking indahnya mimpi kami,
sesungguhnya kami sering tidak sengaja
telah menyusahkan diri kami sendiri
dan menyusahkan mereka semua.

Dan karena saking indahnya mimpi mereka, sungguh mati, mereka juga tidak sengaja telah menyusahkan diri mereka sendiri dan menyusahkan kami semua.

Amin”

Sg

Silsilah Keluarga

[20/4 23.30] Om didik: silsilah itu berdasar atas susunan yg di buat oleh buyut2 kita putro dari nyi Prawiro Semangun ditanda tangani oleh :H Ahmat Bajuri
[20/4 23.46] Om didik: karena ada permintaan dari saudaraku maka aku tulis lagi kuteruskan sampai turunan mbah buyut abdul qodir sampai mbah satariah adik mbah badar yg mengasuh mbak wiwik dari umur 11th sampai dewasa

Kiriman dari Om Didik

Tosodimar bin Sulistiyanta bin Dwi Retno Yuliani binti Supiah binti Moh badar bin Abdul Qodir bin Prawiro Semangun bin Abdur Rohman bin Kyai Moh Imam bin Nurodi Condro Kusumo bin Sri Gading Nurodi bin Sri Gading Sulaeman 2 bin Sri Gading Ela bin Sri Gading Sulaeman1 bin Nyi Ragil Kuning binti R. Trenggono (Panembahan Bodho) bin R. Husen (Adipati Terung Demak ) bin Aryo Damar (Adipati Palembang ) bin Prabu Brawijaya Pamungkas Raja Majapahit yg terakhir

BERCAKAP-CAKAP DENGAN SEBUAH LUKISAN Song of The Silent Forest

BERCAKAP-CAKAP DENGAN SEBUAH LUKISAN
Song of The Silent Forest, lukisan karya Tatang Bsp

Aku pernah melihat sebuah lukisan yang aneh. Seorang konduktor terlihat sedang memimpin sebuah orkestra di tepi hutan. Tepi hutan itu terasa sepi sekali, hanya ada pohon-hohon berdiri. Mereka berdiri sendiri-sendiri, seperti tidak saling peduli, tetapi juga tidak saling berselisih. Ya, konduktor itu nampaknya hanya sendirian saja di hutan itu. Di hadapannya, tidak ada pemain musik seorang pun. Apakah ia, si konduktor itu, sedang tidak waras? Mungkin saja. Tetapi menjadi hakim atas apa yang tidak kuketahui kebenarannya adalah kebiasaan burukku yang sedang aku coba hindari. Sebaliknya, aku ingin sekali bercakap-cakap dengan lukisan ini, barangkali melalui tanda-tanda yang ada di dalamnya, ada beberapa pesan yang digoreskan oleh sang pelukis untuk kita.

Lukisan ini berukuran 180 x 140 cm, terpajang di sebuah dinding putih yang sangat luas, di aula yang sangat besar. Tidak ada orang di sana. Jujur saja, aku sangat menyukai suasana seperti ini: berada sendirian di ruangan yang sangat luas kesepiannya. Kadang-kadang aku merasa tatapan mata seorang kepada seorang yang lain itu seperti tatapan seorang pemburu kepada hewan buruannya. Ngeri betul. Ah, betapa aman rasanya aku di sini. Aku ditemani oleh sebuah lukisan yang begitu tenang menghadapi kesepiannya. Dan aku ditemani juga oleh dua buah lampu yang dengan ketenangan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang manusia sedang menyoroti sebuah lukisan tentang kesepian. Lukisan itu juga sedang kesepian nampaknya.

“Apakah kau menyukai warna hijau?”

Aku terkejut setengah mati. Konduktor itu melompat keluar dari dalam lukisan.

“Jangan takut, aku hanya ingin bercakap-cakap tentang lukisan Tatang B.Sp kepadamu.”

Aku mulai was-was, apakah aku ini sedang bermimpi atau bagaimana. Tetapi ini tidak mungkin hanya sebuah mimpi. Tidak ada mimpi yang berwarna. Sementara itu aku melihat jas yang dipakai konduktor itu berwarna dan warnanya jelas sekali, merah bata. Benar kan itu merah bata? Untung saya mendengar nama mas Tatang disebut. Insya Allah aman, aku menenangkan diriku.

“Ya, aku menyukai warna hijau. Tetapi aku lebih menyukai warna biru langit.” Apakah kau menyukai warna merah bata?”

“Tidak. Aku mengenakan ini dan itu dengan warna ini dan itu bukanlah untuk memenuhi keinginanku. Aku adalah utusan. Sebagai utusan aku terima tugas-tugas yang diberikan kepadaku oleh sang pengutus.”

“Kau diutus untuk apa?”

“Cobalah sekarang kau lihat lukisan itu. Lukisan yang sedang tidak ada aku di dalamnya itu”

Mataku sekonyong-konyong mengamati lukisan itu: sebuah tepi hutan yang dipenuhi oleh pohon hijau. Aku jadi teringat betapa banyak lukisan hutan hijau seperti itu, bertumpuk-tumpuk di kios-kios lukis. Dengan tidak adanya seorang konduktor berdiri di pinggir hutan itu, lukisan ini jadi tidak aneh, jadi mirip dengan lukisan-lukisan yang sering kulihat di mana-mana.

“Sekarang aku paham mengapa kau diutus berdiri dan beraksi di tepi hutan itu. Tanpa dirimu, lukisan ini tidak mengatakan sesuatu selain sepi. Kehadiranmu memberikan suasana aneh di dalam lukisan itu. Kalau boleh tahu, mana lebih dulu dilukis, kau atau pohon-pohon itu?”

“Tentu saja pohon-pohon dilukis lebih dahulu baru kemudian aku. Apakah kau tidak tahu, pohon-pohon adalah saudara tertua dari hewan dan manusia. Kalian manusia harus belajar dari pohon-pohon. Pohon-pohon bekerja tiada henti, dengan ketekunan dan ketulusan yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Maklumlah, hingga saat ini, bagi pohon-pohon, manusia itu masih seperti bayi kemarin sore. Sebagai saudara tertua, dengan pemahaman seperti itu, mereka mengalah. Mereka tidak menasehati manusia karena manusia tidak ada yang suka dinasehati. Manusia sukanya menasehati. Manusia memang begitu, jadi mereka maklumlah. Dan mereka hanya memberi contoh dengan cara tumbuh dan memberikan manfaat bagi dunia ini. Pohon-pohon membiarkan manusia sekarang yang makin getol menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh utama. Manusia sangat sering tidak sadar. Ketidaksadarannya itu menjadikan semua yang selain dirinya sebagai background semata, sebagai panggung bagi aktualisasi diri. Begitu, bukan? Sekarang lihatlah. Aku akan pulang, kembali ke dalam lukisan. Dan perhatikanlah apakah sang pelukis menempatkan aku sebagai tokoh utama?”

Konduktor itu melompat masuk ke dalam lukisan. Kuperhatikan betapa gagah pohon-pohon itu. Pohon-pohon besar kecil berdiri tegak. Daun yang rimbun menyuguhkan hijau yang teduh. Sering aku mendengar bahwa hijau adalah warna yang melambangkan kehidupan. Jamur dan lumut menghiasi batang-batang pohon, dari jauh terlihat seperti tebaran titik-titik pada lembaran batik. Kurasakan betapa besar tepi hutan itu. Dan betapa kecil jadinya conductor itu. Dari sela-sela dedaunan, terlihat sedikit biru langit yang melingkupi hutan sepi itu. Aku jadi merasakan betapa kecilnya aku, manusia, jika dibandingkan dengan pohon, dengan hutan, dengan bumi, dengan galaksi, apa lagi dengan semesta. Lalu mengapa manusia diciptakan ke dalam dunia ini? Bukankah tanpa manusia semesta ini akan baik-baik saja?

Tiba-tiba konduktor itu menggerakkan tangannya perlahan-lahan ke atas, lalu memainkan tongkat dengan tangan kanannya, memberi aba-aba dengan lincahnya. Aku mendengar pohon-pohon itu bernyanyi. Nyanyian tanpa kata-kata yang menyayat hati: tentang pohon-pohon yang bergelimpangan, tentang burung- burung yang rumahnya terbakar, tentang macan-macan yang kulitnya menghiasi sofa mewah milik seorang manusia. Dan di antara semua lagu pilu itu, yang paling pilu adalah lagu tentang manusia yang telah sekian lama salah sangka kepada dirinya sendiri.

Ah, betapa indah andai yang terjadi adalah sebaliknya. Andai makhluk yang merasa unggul karena berakal budi ini bisa menjadikan hutan menjadi lebih semarak, menjadi lebih indah, menjadi sebuah orkestra yang menghibur hati.

“Lihatlah dan perhatikanlah. Bukan senapan yang aku bawa. Aku membawa sebatang tongkat kecil dan berharap bisa menyatukan seribu keindahan. Pohon-pohon yang bisu, hewan-hewan tidak berdosa, mereka adalah sahabat-sahabatku. Mereka akan mengajari aku bagaimana cara bernyanyi bersama.”

Aku kembali menyadari di mana aku berdiri. Pohon-pohon, o pohon-pohon, boleh aku menebangmu? Konon menurut cerita, setelah Adam dan hawa terjatuh ke dalam dosa, barulah mereka mengenal rasa malu. Lalu Adam membuat dua buah cawat. Satu untuk sipakai sendiri; satudiberikan kepada Hawa. Lalu Allah membuatkan mereka pakaian dari kulit binatang. Bolehkah begitu, manusia bisa dan boleh menggunakan tumbuhan dan hewan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya? Tetapi sekarang manusia menebang dan membakar hutan karena mengikuti kerakusan harinya yang tiada tara.

Aku mengamati sekali lagi lukisan hutan yang sepi ini. Ada tiga kelopak anggrek mekar di sana. Mungkin pelukisnya ingin menggunakan anggrek ini sebagai simbol. Mungkin menurutnya hutan ini telah dihias sedemikian rupa, tetapi mata manusia dibutakan oleh kerakusannya. Aku jadi teringat salah satu falsafah hidup yang sering diucapkan oleh kakekku: Memayu hayuning bawana. Bawana atau alam ini, tanpa campur tangan manusia pun, sudah memiliki kandungan keindahannya sendiri. Manusia sebagai bagian dari alam juga mempunyai kandungan keindahannya sendiri yang unik. Dengan keunikannya, manusia sesungguhnya mempunyai andil dalam memperindah keindahan alam ini. Jika yang kini terjadi adalah sebaliknya, siapa yang harus dipersalahkan?

Sambil keluar dari aula, aku mengingat kembali puisi yang ditulis oleh Frans Nadjira.


POHON KESAYANGAN BURUNG-BURUNG TERBAKAR

Frans Nadjira

..bagaimana kau temukan bintik hitam biji mata di dalam tumpukan abu? Bagaimana hendak kausamakan cairan kuning itu dengan lingkaran pucat di bawah pelupuk mataku?

Sampai terdengar gemertak ranting-ranting terbakar
aku tak sadar dari mana datangnya cahaya menyilaukan itu
Ia tiba-tiba berdentam pecah
seperti gumpalan api terhempas ke dalam terik.

Pohon kesayangan burung-burung terbakar
Halilintar siang mengalirkan apinya
Sampai ke akar. Telur Telur!
Telur-telur meletus
Gugur jadi cairan mengental
ke dalam racikan api.

Suara parau seseorang
Menyusup ke denyar darahku:
“Robek lambungnya ia yang menyulut api!

Tapi Siapa?”

Dalam udara panas
Tak ada yang mau mengacungkan jarinya.
Bahkan tak aka ada yang mau mengaku memiliki tangan.


Sekarang aku tahu, pohon-pohon tidak pernah kesepian. Hutan itu bernyanyi, merayakan hidup yang adalah simponi. Dan konduktor itu tidak sedang tidak waras. Ia sedang ingin ikut ambil bagian dalam sebuah nyanyian tentang sebuah harapan di masa depan.

Terimakasih Kim Al Ghozali atas info puisi dan video youtube-nya.

Jatijagat Kampung Puisi
15 April 2021
Sulis Gingsul AS