Talking To Myself, Linkin Park

LINKING PARK
TALKING TO MYSHELF
 
Coba kaukatakan
Apa yang seharusnya aku lakukan
Menujumu, aku kehabisan jalan
Di tengah gelap, rumah kita gemerlap
Tapi tak ada siapa-siapa
Kecuali sepi senyap.
 
Kau bilang akulah yang tak pernah paham
Tapi kau tak memberiku kesempatan
Bila kautinggalkan diriku, kemana dirimu
Pergi?
 
Semua dinding yang terus kaubangun
Semua waktu yang telah kuhabiskan
—demi mengejarmu
Dan semua cara yang telah kutempuh
adalah jalan menuju kehilangan dirimu.
 
Kebenarannya adalah
Kau menjadi orang lain
Kau terus berlari
Seperti langit runtuh
Aku bisa berbisik,
Aku bisa berteriak
Tapi aku tahu,
Aku tahu, ya aku tahu
Aku hanya berbicara kepada diriku sendiri
Berbicara sendiri
 
Berbicara sendiri
 
Aku mengakui
Aku telah membuat kesalahan
Tapi kesalahanmu mungkin mengakibatkan
kau akan kehilangan semuanya.
 
Tidak bisakah kaudengar
Kupanggili namamu pulang?
 
Aku tahu, ya aku tahu
Aku hanya berbicara
Kepada diriku sendiri
Berbicara sendiri
Berbicara sendiri
 
Berbicara
 
Sendiri
 
Seperti
 
Langit runtuh.
 
 
(Terjemahan bebas)

 

Perihal Larangan Membuang Sampah Di Sungai

Larangan itu, dulu, sempat bikin bingung
anak-anak kecil, teman-temanmu yang di sana.
Mereka sulit membayangkan betapa lelah dirimu
–jika ingin sesekali melanggar larangan itu–
harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya
di jalan mereka yang terjal berbatu-batu.
Karena tidak tahu, mereka mengira
jarak rumah mereka dari sungai mereka
sama dengan jarak rumahmu dari sungaimu.
Sungguh, mereka tidak mungkin tahu
tetapi sungguh, mereka suka mengira-ngira
bagaimana kau hidup dengan dia.
 
Setelah dewasa, dan jaman memang harus berubah
Kita tinggal duduk dan informasi akan mencari kita.
Tetapi tetap saja masih banyak yang suka keliru.
Karena tidak tahu, mereka mengira
jarak antara mereka dengan
yang selalu mereka tinggikan
sama dengan jarak antara dirimu
dengan yang sering kaupeluk.
Sungguh, mereka tidak mungkin tahu
bagaimana kau hidup tanpa dia.
 
Tetapi sungguh
Kita pun suka mengira-ngira.
Dan percaya bahwa kebenaran
adalah sebuah perkiraan.

KITA

Lampu kafe itu tidak sengaja
menerangi sepasang perindu
yang berbinar bersama-sama
dalam toples terpisah itu.

Dirimu gula giling,
diriku kopi giling
Kita adalah yang tergiling
sebagai yang terdampar.

Kita tak perlu khawatir
Waktulah yang akan meracik semua
Dengan hening, dan, sesuai takarannya.
Beberapa sendok dirimu bersama
(semoga) beberapa sendok diriku
nanti terseduh dalam bening.

Pada waktunya kita dimampukan
merima bahwa kita adalah rasamu
dan kita adalah aromaku, dan kita
adalah yang akan tergiling
dan kembali sebagai yang terdampar
adalah yang mau tidak mau menunggu
dijadikan sesuatu, buah tangan panjang waktu.

Maka, baiklah kita menunggu
sambil menikmati apa yang ada.
Rindu, misalnya.