Sekumpulan Hampir Sajak

HUJAN YANG BERSAHAJA

Hujan yang turun bersahaja itu tak hendak menabuh
atap kamarmu yang sepi; tak hendak menjatuhkan
daun hidupmu yang kuning; tak hendak menyentuh
luka hatimu yang hampir kering.

Jika turun hujan, cobalah engkau bertanya
kepada segala yang masih kauanggap luka
pernahkah hujan yang bersahaja melukaimu
Jika tidak pernah, maka berterimakasihlah

Sebab pada hujan yang bersahaja itu
ada embun yang ingin kembali embun
menggantung seperti giwang berlian
demi mekar kuncup-kuncup hidupmu

Jika masih kautemukan hujan yang tak bersahaja
Maafkan dirimu. Sebab semua hujan bersahaja

Hujan yang dibikin-bikin bukanlah hujan. Beneran
segala yang seperti itu pasti juga segera berlalu.

tum
—————————————————renon 2014

 

YANG BEKERJA DENGAN SENYAP

1

seperti akar ringkih sulur sirih

yang muncul dari ruas-ruasnya

menancap erat pada bebatuan

menjulurkan batang-batang belia

mengantarkan kuncup-kuncup muda

merambat menuju cahaya

2

seperti lumut dan ganggang

tumbuh di setiap yang lembab

berkembang biak, menggempur permukaan

menuju tempat yang paling palung

kantung matamu yang bening airnya

3

seperti memungut nada-nada

menjelmakannya tanda-tanda

supaya bisa sampai terbaca

dan mencapai surga:

pita suara engkau

yang menggetarkan

 

Depok, 2010
———————————-tum

 

 

EFATA

Parau lagu gregorian perlahan menaik

Gagak-gagak hitam berarak-arak

hitamhitamhitam tanpa berjarak

Ditelannya langit, tapi kenapa

hatiku yang tercabik-cabik

Duka hitam tanpa cela menutup matamu

Padam pelitaku diangkut perahu

Kekasihku yang pergi, tapi mengapa

Kakiku yang tiba-tiba terdampar di karang asing

Dua bocah yang kukasihi matanya

Kaukasih cahaya air mata piatumu

Mata mereka lilin-lilin paskah

Yang meleleh redup tertiup angin

Ya Bapak, bersabdalah
“Efata-ku” “Terbukalah sukacitamu”

 

Dua pasang lilin paskah bercahaya di tengah gulita

Sukacita menyalalah di tengah tengah dukacita

O, Efata Candra

O, Efata Bagaskara

Terbukalah pintu pelitamu

Jadilah seperti bulan

Jadilah seperti matahari

Dengarlah

Lantunan gregorian menaik perlahan

“Ora pro nobis pecatoribus

nunc et in hora mortis nostrae

et in hora mortis nostrae

Amen

 

Parang Kusuma, 7 Januari 2013
—————————–tum———————————–

 

SURAT DARI JAUH

Kakekku dikarunia kemiskinan yang baik
Kemiskinan yang baik memberkati kakekku
dengan kesederhanaan yang baik
Keuangan diatur dengan hemat
Keinginan diawasi dengan ketat
Kata dikeluarkan di saat tepat

Maka nenekku mengajariku tabah
Menahan segalanya air mata misalnya

“Di saat yang keliru, air mata bikin tanah tandus, Le
Air mata jangan dihambur-hamburkan. Sedikit demi sedikit
tabunglah air matamu supaya kelak berbunga pelangi”

Nenek pernah lihat kakek menangis
Sekali, sewaktu nenek bilang ailofyu
sambil menyerahkan gigi tanggal
Apa jawaban kakek? tanyaku
Kakek jawab dengan setia
hidup sederhana seumur hidupnya

Burung-burung berloncatan di dahan bugenfil
Surat kecil dari jauh menemukan sepasang mata tua
Embun-embun bergelayutan dengan gembira
Aih, lihat, ada warna-warni pelangi
Benar-benar ada, di setiap tetesnya
Memberkati kertas pucat pasi
dengan kehangatan

Apa itu Nek, tanyaku. Ini, jawab nenekku:

“Mbok, sekarang aku berhasil
jadi manusia”

Surat kecil dari jauh cuma begitu
Pipi merahku belum tahu air mata
yang baik, yang baik ada pelanginya?
O, bahagia itu sungguh-sungguh rahasia

—————————–tum———————————–

 

 

 

50) Bermain dengan 14 Pintu

1/
Kata pintu kali ini kujadikan kata kunci
bagi engkau memasuki ruang sajakku
yang sempit dan melulu pintu-pintu.

2/
Dulu engkau orang asing kini engkau pemilik
pintu pantiku, ruang sajak berpintu banyak,
ruang sajakku yang piatu.

3/
Belum pernah aku mengutuki rindu
Kubiarkan saja rindu-rindu mengetuki
pintu-pintu sajakku.

4/
Rindu terkadang mengganggu.
Tapi rindu selalu meyakinkan.
Bahwa sajak adalah pintu.

5/
Pada paku yang berkarat di pintu
kamar yang kaukunci dari dalam
itu, ada kertas bertuliskan BUKA.

6/
Seperti suatu kesengajaan
agar selalu terbaca olehku
“angan-anganku tergantung tali
terkatung-katung di daun pintumu”

7/
Di dalam kamar, dari celah itu,
engkau seperti tak pernah ingin
mengintip. Aku sebuah patung penjaga
yang sudah semestinya berjaga di luar.

8/
Sebuah pintu tak mampu meminta
supaya engkau menutup atau membukanya.
Ada tapi tak kaudengar sebuah pinta
yang kuketukkan senyaring-nyaringnya.

9/
Pintu itu tenang saja, tak bergerak
Toh gempa terjadi hanya di luar sini.
Pintu dan engkau seperti bersepakat
mengabaikan setiap kecemasan.

10/
Pernah kubikin ruang sempit
tak berpintu, tak berjendela, tak bercelah.
Kudekap tubuhku, melakukan percobaan.
Ada yang bisa terbang menembus tembok-tembok.

11/
Hidup tanpa cahaya itu hidup yang sia-sia.
Maka kubikin ambang-ambang pintu
sebanyak-banyaknya, tanpa daunnya.

12/
Engkau tahu engkau tak perlu mengetuk pintu.
Sewaktu-waktu bisa masuk, menjenguk
hidupku yang sakit.

13/
Engkau tahu aku ingin kau dekat aku.
Sewaktu-waktu, sedekat ambang dan daun
pintu. Sewaktu tertutup berdekapan,
sewaktu dibuka tetap berdekatan.

14/
Akhirnya, kuakhiri sajak-sajak, pintu-pintu,
dengan menutupnya. Perlahan-lahan, Amin.

 

39) Bermain dengan 10 hujan kecil

1
“Hujan itu terbuat dari cuma lima huruf: r, i, n, d, u “
Pelangi, engkau tak perlu nge-twit senekat itu.

2
Langit dan bumi sepasang kekasih
Awan-awan, surat yang dikirim bumi
Langit membalasnya dengan hujan

pelangi itu puisi yang paling manis
ciptaan mentari cilik di hujan kecil

3
Musabab hujan
adalah kesetiaan

air setia menjadi air
air didiamkan menjadi air
~ yang berwujud cair
air dipanaskan menjadi air
~ yang berwujud gas
air didinginkan menjadi air
~ yang berwujud padat.

4
Hujan membersihkan bumi dari debu
meski tahu niscaya debu lagi debu lagi.
Pertemuan membereskan hati dari rindu
meski tahu-tahu cemas lagi cemas lagi.

Kata kakek, katak suka musikalisasi
puisi reuni di musim hujan

5
Menguap adalah upaya
setetes air menuju langit

Tapi waktu mengatur segalanya:
supaya kembali tak selalu berpulang
supaya kesempatan selalu tak terulang

Hujan kecil , yang sedang sekolah di mataku
mereka pernah punya cita-cita sederhana
menjadi embun mungil, di sudut matamu

6
Sejak juni tahun itu, seusai Sapardi menulis
puisi, anak-anak air yang dijatah jatuh di bulan
juni tidak lantas jadi besar-besar kepalanya.

7
Aku

berjalan

pelan-pelan

memikirkan hujan.

Di tengah jalan

aku kepikiran

hujan itu terbuat cuma…

“Hus!” ketus hujan. Ia cuma bilang “hus”

dan aku harus menepi untuk menunggu

8
Hujan pernah menjatuhkan diriku
di hadapan mawarmu yang hampir layu–gerah
panas mendengar makianmu kepada hujan
yang memaksamu tinggal di rumah kesedihan

9
Sudah kali ke sembilan
ditulisnya kata hujan di halaman
namun puisinya tak basah-basah juga.

10
Setiap tetes air punya tempat tanggal lahir.
(seperti pada KTP)
misalnya:
matamu, tanggal satu/ bulan duka/ tahun hilang

Tapi hujan menuruni kita tanpa butuh data-data
Hujan tidak bertanya siapa tempat lahirmu,
Hujan tidak menyebut berapa tahun kematianku

Kepadamu dan kepadaku diturunkannya

kesempatan menanam dan menabur

38) Puisi Sederhana

aku mencintai hal-hal sederhana
bunga, kicauan burung, senyummu
dan mimpi-mimpi kita

tak ada yang istimewa di dunia ini
bunga bermekaran kemudian berguguran
telur menetas dan burung berkicau-kicau
engkau tak akan pernah kehabisan senyum
dan mimpi-mimpi masih banyak tersedia

aku mencintai hal-hal sederhana itu
untuk engkau cukup-cukupkanlah semuanya
cukup kutulis di dalam puisi yang sederhana
cukup kaubaca dengan cara yang sederhana

setelah kita tiada semoga masih ada kelak
yang berlari-lari kecil menerobos  gerimis
kepada yang terbaring berselimut resah
disodorkanlah wajahnya yang sedikit basah

“kawan, lihalah dan tersenyumlah
di buku tipis ini, air mata kita telah ditulis
besar-besar”

maka datanglah sesuatu yang sederhana
menghinggapi dan mengecupi pipi-pipi
wajah-wajah jadilah cerah merona-rona
air mata bertambah hangat, berkali-kali

37) Kuncup Oek-Oek

sehelai daun kering
terlepas dari dahan nangka
dilayangkan entah kepada siapa
entah oleh angin kapan

sehelai daun kering
yang terlepas dari dahan nangka itu
telah tersangkut di seutas benang laba-laba
sekian lama berputar-putar, tak jatuh-jatuh

di atas tanah kering, dedaunan berserakan
disepaki anak-anak angin, berhamburan
seperti bocah ramai main sepaksekong

padahal ada kuncup oek-oek
sedang dimandiin cahaya surya
sedang dielus-elus bayu

ssst, jangan berisik
kinjeng tangis menghimbau

 

BOCAH PENCIPTA SEPEDA

seorang bocah kepingin sepeda
seperti yang dipunyai temannya
kakek tak punya uang

bocah itu lari ke kebun tebu
tebang sebatang dikupas, lalu disesap
botol sirup strobery di kulkas temannya
tergambar di benaknya

mata bocah barkaca-kaca seperti telaga
gelagah bergoyang ke kanan dan ke kiri
semilir angin membelai rambutnya

tiba-tiba bibirnya melengkung
senyum indahnya melebihi pelangi
berlari ke rumah membawa gelagah
sambil bersiul bernyanyi-nyanyi

”sepedaku sangat gagah
kubikin dari gelagah”

di belakang rumah
sebatang bambu dibelah

”roda sepedaku sudah jadi
akan kupasang ruji-ruji”

gelagah dipotong-potong
jadi ruji delapan biji

”ini roda sepedaku
akan kutunjukkan ayahku”

sayup suara bocah dari jauh
kakek itu meletakkan cangkul
menyongsong bocah itu
dipanggulnya, dikudangnya

“tang tang tang gus
anakku cah bagus
tang tang tang ter
bocahku sing pinter”

bocah itu dipanggul kakeknya pulang
di belakang rumah bikin sepeda-sepedaan

dari balik bilik tua
kebahagiaan dan kesedihan biasa mengalir
bersamaan dari dalam hati nenek tua
“anak kalian sudah besar!”

SEPLASTIK CAHAYA

bocah itu menimba air dari sumur berlumut hijau
ke pengaron coklat yang sudah lama pecah bibirnya
jemari mungilnya meremas-remas dua genggam
bugenfil merah
disaringnya, dimasukan ke plastik bening.

seplastik air merah belia diangkat tinggi-tinggi
terperangkap di sana cahaya matahari pagi
“cahaya matahari ibu lebih indah dari ini?”
ia bertanya kepada langit yang jauh itu

kepada sepasang mata
yang entah aduh gusti jauhnya
ingin ditunjukkannya seplastik cahaya

ketika ia menunduk
berkilau-kilau air yang hampir tergelincir
masih menggantung di sudut-sudut mendung

KEMBANG API

ibu memelihara bunga yang kautanam di tahun itu
hiasan pagar rumah kita, sudah bertahun-tahun lamanya
kata ibu, kau pergi mencari bunga yang lebih cantik
untuk memperindah halaman rumah kita

setiap akhir tahun, kami menyongsong malam tahun baru
menyalakan lilin di depan foto kita yang selalu bahagia
bergantian menjaga nyala api dari gangguan kesedihan
hingga terompet tahun baru selesai bersahut-sahutan
mereka itu seperti mewakili doa-doa kami untukmu

“bersihkan debu pigura ini sebelum mimpi, nak
esok kita akan bertamasya dan foto bersama”
telah lama kami rencanakan foto bersama kau
memperbarui foto tua keluarga baru yang usang
di tahun baru ini ibu berdandan lebih cantik

pagi-pagi sekali, ia mengajakku ke taman kota
bergandengan, kami pamerkan baju baru
gambar bunga-bunga dan seekor kupu-kupu
menenteng kado ungu, hadiah untukmu
tanggal dua januari pagi ibu mencuci baju
baju baru saya nampak bahagia dijemuran
diapit baju seorang ayah dan baju seorang ibu
tiga lembar baju cerah melambai-lambai
percayalah ayah, sangat serasi

“ kenapa ayah sangat kerasan pergi?”
mata ibu jendela berkaca bening di saat hujan

”percayalah anakku, tahun-tahun pasti berlalu
cepat berganti menjadi tahun yang lebih baru.”

 

32) Layang-Layang Ikan

jika langit cerah, selalu kulihat ada seekor layang-layang ikan
berenang-renang di langit, bergerak-gerak kesana-kemari
–tinggi, tinggi sekali sampai di awan-awan

jika angin semakin kencang, hatinya bertambah girang

ketika layang-layang ikan putus, bertepuk tanganlah ia
sambil mendoakan sebuah hal yang hampir mustahil
: semoga jatuh, tersangkut di kawat jemuran bajumu

hingga petang ia masih duduk di pematang
menggulung benang sambil bercakap-cakap
dengan bayang-bayang tentang benang panjang

 

 

31) Bulan dalam Tempayan

di langit malam ada awan-awan
seperti penjaga berseragam hitam-hitam
yang mabok terlena lalai berjaga
sedang bulanku bermandi cahaya

bintang berdayang-dayang
dihiasi berhelai-helai kabut tipis
aku mengendap-endap menatap kolam
merangkak merayu-rayu, bulanpun tersipu

“kugendong pakai tempayan
mari main di pelataran”
girang bukan kepalang
telah kuculik bulan
kupandangi hingga menghilang
pagi berdendang
dadaku lonceng penanti petang
berdentang-dentang

30) Helm Kura-Kura

1)
malam telah memberinya mimpi buruk dan lucu
menjadi kura-kura yang dikucilkan sebab lamban
di pagi itu cita-cita baru hinggap di kepalanya
: pembalap

2)
di toko, aneka helm tersedia
dari yang murah hingga jutaan rupiah
ia menghibur diri janganlah sampai putus asa
semahal apapun helm tak bisa merapikan isi kepala

3)
“engkau keberuntungan saya” mencium helm
bergambar kura-kura seperti pada mimpinya
sejak itu ia mencintainya dan tak lupa berdoa
”jangan engkau meninggalkan daku ya, helm!”

4)
sejak berpisah dengan yang paling ia cintai
ia sulit tidur sebab tidak pernah lupa mengenakan helm
pikirnya: supaya aman jika di mimpi buruk ia terjatuh
terbentur-bentur kenangan dan harapan yang tajam-tajam

5)
ia mengenakan helm di ruang resepsi
orang-orang terpesona melihat pemandangan itu
tak ada yang tahu, di balik helm itu melulu air mata
kecuali mempelai wanita

6)
nasib memaksanya
menjadi ternama di dunia balap motor
beribu-ribu helm penggemar telah ditandatanginya
dan benar, tak ada yang tidak membosankan

7)
telah ditandatanganinya sebuah rumah masa depan
sebuah nisan yang lucu seperti mimpinya yang buruk
kepala nisan itu berbentuk helm, bergambar kura-kura

29) Peri Bunga Kenanga

aku sedang menyusun pertanyaan yang ingin kuajukan kepada diriku sendiri tentang sebuah hal yang kuingin mendapat jawaban dari seseorang yang telah lama pergi dari sejak aku belum mengerti siapakah sejatinya kau yang meninggalkanku itu dan untuk apa serta kenapa kaulakukan tindakan yang sampai kini membuatku bertanya-tanya apakah benar belum pernah ada sepi yang tajamnya mampu mengorek-ngorek ingatanmu dalam-dalam sehingga kenangan akan masa lalu yang barangkali—ibarat sampah-sampah dedaun kering di kebun yang tidak pernah dirawat—kenangan itu telah berada di tumpukan paling bawah dalam keadaan hampir musnah karena sudah hampir kembali menjadi tanah ataukah bahkan malah sudah menjadi tanah yang sayangnya belum pernah dipakai untuk menanam pohon kenanga yang harum bunganya oleh para penyedih dipercaya dapat menyebarkan keharuman yang berkhasiat mendatangkan peri-peri yang suka menyelinap di dalam mimpi siapa saja yang sedang dirindukan oleh pemilik hidung yang sedang menghirup aroma harumnya peri bunga kenanga itu: kau.

kau jangan mati dulu.
aku ingin ketemu.

28) Sajak Terbalik

aku membenci engkau
meskipun engkau mencintai aku
ketika matahari seperti bercahaya
tetaplah gelap sepertinya yang aku cinta

ada yang menangis
duka-duka menjadi manis
ada yang membaca ulang
sebait sajak dari belakang

27) Sajak Biasa

orang biasa yang suka menulis hal-hal biasa
kedatangan sajak biasa yang belum bernama
orang biasa itu tergerak, memberinya nama
nama biasa yang disebutkan di setiap doanya

ini  sudah hari biasa yang kesekian tahun
seperti biasa, angin rutin gugurkan daun-daun
suara  yang biasa itu kenapa aku menyukainya
sehingga seperti biasa rindu selalu tiba-tiba tiba

“kita sudah biasa menyaksikan terbit-terbenam
tuliskanlah kisah biasa ini wahai penulis biasa”
beginilah kisah engkau yang sangat dalam biasa
embun masih seperti mata engkau yang biasa
sejuk dan bening
fajar masih seperti senyum engkau yang biasa
ada merah-merahnya
ada hangat-hangatnya

sedangkan bahagia
terkadang nampak dari celah  baju sajak
yang biasa, kumal, bolong  –   bolong
kancingnya  tanggal               dua
biasa, belum sempat dibetulkan.

 

26) Sajak Seorang Bisu
kepada Kekasihnya yang Buta

saya si bisu, cuma bisa menuliskan perasaan
sedangkan mata kekasih saya memang bening
tapi tak kenal huruf, tak bisa melihat sajak-sajak
serindu-secinta apa pun usaha saya menuliskannya

tahukah engkau yang paling orang rindukan
ialah sesuatu yang paling jauh dari kenyataan
seperti engkau, kekasih, sering saya bayangkan
jemari engkau yang berbahagia rancak menulis
mengubah perasaan menjadi sajak-sajak manis

tahukah engkau apakah yang sedang saya rindukan
ialah yang jatuhnya sedang terjauh dari jangkauan
seperti engkau, kekasih, sering saya mengharapkan
pada telinga engkaulah bibir sajak saya bergetaran
menghaturkan udara yang bisu, gugup, dan gugup

“pada suatu keajaiban engkau bisa membaca syair
kutuliskan dengan bening air, hangat yang terlahir
di pipi langit sore kita” bisikmu. aih, engkau mahir
bikin bebunyian, menumbuhkan kuncup kenikir.

 

25) Puisi yang Berjudul Hore

penyair tua itu terlihat sangat sedih
ketika membaca kembali puisi-puisinya
yang telah mendapat penghargaan
sebagai puisi-puisi yang sangat setia

“puisiku yang paling setia pun tak tahan
menemani aku merayakan kesepian”
katanya kepada sebuah rak buku tua
sambil membuang buku-buku puisinya
melalui jendela loteng, satu per satu

seorang wanita tua memungut buku puisi
seusai membaca geleng-geleng kepala
seorang pemuda memungut buku puisi
seusai membaca, matanya berkaca-kaca

bocah itu menemukan buku puisi
merobek satu halaman dibikin mainan
“hore” teriaknya kegirangan
pesawat terbang melayang tinggi
tersangkut di ambang jendela loteng

baru kali itu penyair tua itu benar-benar bahagia
ia membaca sebuah puisi yang kembali padanya
“hore” teriak peyair tua memungut pesawat itu
menerbangkannya
dari jendela loteng melayang-layang turun
”hore” teriak bocah itu pula
sebelum pesawat itu ditangkapnya

puisi itu berjudul hore

24) Ho Re

meski melompat setinggi-tingginya sambil berteriak
ho tak mencapai langit. bumi kecil tapi dekat. lebih kuat
menarik rupa-rupa sumber kesedihan yang kaulontarkan
“re” bisik ho setiap kali kembali terkapar

ditulislah puisi seratus kata di langit-langit kamar
sendiri dibaca pelan-pelan, sebelum sesudah tidur
sambil berbaring ho hendak belajar membaca lagi
re, re, re, hingga seratus kali, tanpa ho

di tempat ibadah ho berdoa kepada mahahore
satu permohonan besar semoga re terhindar
dari segala ketidakhorean
”re” bisik hatinya menutup doa itu
setiap kali ia terjatuh dan terluka lagi
ho mengucapkan re lebih banyak lagi

23) Sepatah Kata
yang Dinanti-nanti

sejak bebas dari hukuman tak boleh bicara seumur hidup
ia belum mengucapkan sepatah kata, cuma tertawa-tawa
seperti gembira memikirkan kata apa paling indah di dunia
yang sepantasnya ia lepas pelan-pelan melalui bibirnya

senja yang ditunggu-tunggu datang juga kepadanya
membawakannya seseorang dengan telinga merekah
dan sekuncup bibir yang sering bergetar
mereka betah berdiam bersama
saling menanti, saling menebak

“kata apa yang engkau pikir paling dinantikan
telinga kiri dan kanan saya sama-sama kedinginan”

malam sunyi senyap bintang-bintang gemerlap
mereka seperti  keluarga besar yang bersiaga
ikut menanti-nanti kelahiran anak pertama

 

22) Aku Arium

si  ikan sapu-sapu suka menciumi hingga tubuhku bersih
dari lumut dan jamur yang tak dapat hidup tanpa menempel
aku dibikin untuk memelihara sesuatu yang bisa tumbuh
dan berkembang biak

aku tak mampu menutupi diriku sendiri dari apapun
yang akan dimasukkan maupun yang akan dikeluarkan
sebab tubuhku terbuka, tak berpintu dan tak bertangan

ikan-ikan berenang-renang di dalam tubuhku yang dihias
sepertinya senang sekedar melihat gambar terumbu karang
tanpa bisa memasukkan ke dalam perutnya yang gendut
melalui mulut mungil yang komat-kamit seperti berdoa

aku arium, penampung rupa-rupa
tanpa bisa apa-apa selain pasrah dipindah-pindah
sebelum yang punya bosan, sebelum aku dikosongkan
sebelum pecah, sekosong-kosongnya tubuhku masih berisi
seekor ikan tak kasat mata yang tahan hidup tanpa air

 

21) Sajak Yang Tidak Memiliki
Bait Satu dan Dua

3)
ini bait tiga, cuma ada sebuah tenda
koyak-koyak ditambal-tambal terpal
warna-warni

4)
cukup untuk berteduh
dari hujan panas, pun dingin malam
sangat praktis, mudah dibongkar-pasang.

5)
di sepanjang sajak pendek ini
dari bait tiga sampai bait lima
tak ada yang pantas untuk mengundang
pencuri.

6)
ini bait enam, cuma ada sebuah tanda
apakah tak cukup untuk engkau mampir
berteduh bersama saya

 

20) Lelaki Ikan

kutuk yang dirapalnya manjur
otaknya mengecil perlahan-lahan
dan jadilah ia seekor ikan lucu
di tengah kolam berdinding cermin

padahal perubahan sudah terjadi
mulutnya masih saja komat-kamit
”kamikamikani nikanikanikam
kamikamikani nikanikanikam…

rasanya aku seperti tak pakai celana
kok tak bisa melihat kemaluanku sendiri
perasaannya makin senang ia berenang-renang
kesana, kemari mencari rupa senyumnya sendiri

di sudut kolam ikan itu berhenti
terpukau melihat bayangannya sendiri
ikan gemuk nan lucu. lauk! pikirnya
ia mengejar untuk digoreng tapi sial
“dewa tak mengijinkanku jadi ikan
jadi penangkap ikan pun aku tak”

”kamikamikani nikanikanikam
kamikamikani nikanikanikam…

 

19) Sajak Cinta
dari Seseorang yang Tidak Bisa Menulis Sajak

tak cukupkah engkau baca saja  ini dari  mata  saya
ataukah saya  dilahirkan supaya belajar  menulis sajak
sekedar  supaya  bisa mengajak engkau duduk-duduk
di  pematang  sore, tempat  sekar suket liar merimbun
andai saya selipkan sekuntum itu pada rambut engkau
akankah mekar merah-merah cerah di pipipipi engkau?

tak cukupkah engkau dengar saja ini dari dada saya
ataukah saya dilahirkan  supaya belajar menulis sajak
sekedar  supaya  bisa memperdengarkan suara-suara
dada saya yang tiba-tiba begitu laut, membaca pesan
”rabu besok  kita  ketemu lagi  di tempat biasa”
di bawah gambar pohon, ditulisnya
~ do you love you~

apa  cuma  karena  saya tidak bisa menulis sajak cinta
engkau hilang begitu saja, yang ada tinggal cuma saya
lelaki  biasa  yang  tetap  tidak bisa  menulis  apa-apa
sejak itulah,  saya  lebih  suka  menjadi  penggembala
kambing-kambing  bapak di pematang  sore  bersama
sekar suket liar yang saban hari ludes beberapa hari
kemudian tumbuh lagi dan lagi  seperti sesuatu
yang hidup, tumbuh dan  tak  mengenal mati.

pada setiap senja kambing-kambing tambun berjalan
pulang dan gembira bersama, dan saya berjalan juga
berdua saja dengan bayangan kurus saya tentu saja

ini bukan sajak sedih, bukan doa pemanggil kekasih
di  pematang pada setiap sore sesepi begini
meskipun saya sudah berusaha menata akhir
sedemikian  aaaa,  uuuu, dan sedemikian iiii
dan  sedemikian diusahakan  rata kanan-kiri

tetapi tetap kaku barangkali cuma karena  hal sepele
kita ternyata sedang ditulis, sebagai engkau dan saya
bersama-sama disajakratakan oleh sebuah kehilangan
apa cuma karena saya tidak bisa menulis sajak

 

18) Sebelum Malam

sebelum fajar
saya pernah ingin jadi gorden cerah
warna kesukaanmu
menggantung di cendela kamar tidurmu.
setiap pagi ada orang yang mencintaimu
perlahan-lahan membuka tubuh belah saya,
mempersilahkan matahari pagi mengecup
hangat ujung jari kakimu hingga bulu mata
engkau yang masih rebahan, supaya sehat

sebelum siang
saya pernah ingin jadi sepasang alat bantu dengar
yang suka menempel
di sepasang
telinga tua yang tapi masih manja
: ingin mendengar engkau selamanya
tugas saya sederhana:
memperjelas  getar-getar puisi lirih,
kicauan sedih, lagu senja
atau sekedar kata iya

sebelum senja
saya pernah ingin jadi kotak musik yang kauputar di sepanjang
berbunyi-bunyi menyusuri lorong-lorong tersepi
relung-relung tersembunyi
tempat luka-luka masa lalu betah tinggal di sana.
di sanalah saya bernyanyi
tidurlah sayang, tidurlah,
sembuhlah sayang, sembuhlah
berulang-ulang

sebelum malam
kita tidak tahu malam seperti apa
tapi setiap malam punya langit
saya suka mencari engkau
di sana

 

17) Biru yang Paling Biru

ia duduk di pantai pasir putih
berteduh di bawah tebing tinggi
mengamati air laut yang membiru
makin jauh nampak makin biru rupanya.

ia menggambar senyum di pasir putih
senyum batu karang kepada buih
seperti pernah melukai tumit kekasih

ia menaiki tebing paling tinggi, berdiri
memandang ke seberang tersepi
di seberang sana, di biru yang nampak paling biru
adakah yang memandang ke arahnya dan berseru

”dari sini kulihat engkau
engkau berdiri di biru yang paling biru”

si sore datang
menghadiahinya  sepotong langit temaram
merah kekuning-kenangan yang tak menyilaukan
yang indah sebelum semua matahari tenggelam
yang gundah setelah sekian biru menghitam

 

16) Sehabis Gerimis

trotoar ini selalu berlobang apakah demi genangan
supaya gerimis kecil pun sempat bikin kenangan
supaya dua pasang kaki yang saling mencari
sempat terperosok di rindu yang kuyup
sebelum dikeringkan perlahan-lahan
oleh hangat sebuah pelukan

gerimis barusan bikin genangan keruh
waktu yang sabar, menyulapnya jadi cermin
aku melongok ke jauh bening. di bawah sana
ada awan-awan berjalan, burung-burung melintas
daun-daun bergerak, dan langit yang mencerah. olala
langit abu-abu tua itu sedang membiru muda kembali

 

15) Air Sungai
yang Mengalir ke Atas

langit menampung segala macam air
dari segala penjuru, dari mata-mata basah
ke sana jualah air duka bahagia mengarah
menuju kebekuan yang niscaya mencair

pernah engkau menunggu matahari engkau itu
mata yang sejuk pagi hari, mata yang hangat sore hari
mata yang menjadi cahaya di siang-malam engkau
yang datang dari jauh menghadiri pertemuan air mata

demi bersama-sama membentuk selarik awan putih
sebelum mendung kelabu, meski pecah pada waktunya
meski nanti setiap titik air jatuh sendiri-sendiri ke bumi

selalu ada yang berkilau meski cuma secercah
begitu menggantung di ujung-ujung sebelum pecah
terkadang menggenang, meresap, lalu seperti musnah

tidakkah dari batinmu air sungaimu mengalir ke atas?

 

14) Yang  Diam-Diam Mekar

nantinya engkau tahu, tak pernah ada sajak
setulus bunga yang tumbuh di tengah belukar
kelopaknya selembut sentuhan bayangan
warna-warninya secerah senyum pengagum

embun-embun berkilauan
menggantung di ujung-ujung

nantinya engkau tahu juga
tak ada yang akan tetap utuh mencintaimu
tanpa berhenti, gugur tumbuh sampai mati

setiap senyum pucat fasih mengandung racun-racun tua
diam-diam mekar adalah penawar, seperti senyum bocah

 

13) Yang Dilakukan Istrimu
Semenjak Engkau Pergi

bila langit mendung wajahnya malah cerah
dicucinya beberapa potong pakaian kotor
tak pernah ketinggalan baju kesukaanmu
yang padahal sudah tidak pernah kaupakai

gerimis datang, senyumnya jadi pelanginya
bajumu dibiarkan jadi yang terlanjur basah
”cepatlah bantu aku sayang” bisik pelan
kepada baju yang (apakah) sudah kaulupakan

di rumah tubuhnya dibiarkan tetap basah
di gerimis itu tentu ada air matamu
pastilah kau nanti pulang bawa oleh-oleh
air mata yang asli, benar-benar dari matamu

di ruang tamu, ia bercakap-cakap dengan bajumu
sambil sebentar-sebentar didekap, dan didekap
”lebih eratlah sayang. kurang hangat?”
lalu didekap-dekap ”ataukah sudah terasa kering?”

setiap hampir senja, ia menyeduh teh hangat dua cangkir
sebentar-sebentar duduk, sebentar-sebentar melongok
ke pagar dari jendela kamar—tempat dulu kalian suka
berdoa sebelum tidur

setiap pagi-pagi sekali ia minum teh kemarin
dua cangkir sekaligus
sambil berdoa supaya kau dijauhkan dari haus.
“nanti sore aku buatin yang lebih hangat”

 

12) Bulan Nyaris Bulat di Dermaga

cahaya bulan terapung-apung di dermaga
para nelayan bercakap-cakap tentang sampah
membenahi jaring-jaring yang robek
empat kapal merapat
serapat sambutan istri setia

tong-tong biru melongo, lho
kemana ikan-ikan?
benarkah bulan itu tersipu-sipu
malu, sembunyi di balik mendung?

konon, ikan-ikan cemburu pada bulan
sebab bulan lebih sering disapa penyair
bulan kian bulat bikin ikan-ikan kian cemberut
menyelinap, sembunyi di balik terumbu karang

maka tiap purnama nelayan enggan melaut
mereka cuma membayangkan para istri jadi kapal
kasur jadi lautnya, main nelayan-nelayanan
sambil terpejam mereka mimpi macam-macam

malam kian larut
dingin angin berbisik lembut
dermaga ini menyimpan banyak rahasia
milik orang-orang yang masih memelihara rindu

sedangkan bulan yang tertuduh tetap menunduk
ia tak komentar walau tahu sebuah hati tergetar
ketika mendung di mata saya telah bergeser
terlihat bulan itu nyaris bulat

 

11) Memilih Mimpi

jika diberi hak pilih mimpi
malam nanti engkau ingin mimpi apa?

1/

jika malam ini saya mimpi bertemu engkau

barangkali dada saya ini jadi berdebar-debar

kita berpelukan sambil membuka mata lebar-lebar

memastikan bahwa ini bukanlah cuma mimpi

dan andai engkau bertanya

“apakah ini benar-benar nyata, sayang?”

oh, alangkah indahnya mimpi saya itu

2/

jika malam ini saya mimpi bertemu Tuhan

tak akan ada yang saya tanyakan selain engkau

lalu saya ketemu engkau di tempat yang benar

untuk segera saya tempatkan di pelukan

engkau membuka mata lebar-lebar, memastikan

bahwa ini bukan cuma mimpi

dan andai kau berbisik

“ini seperti benar-benar nyata, sayang!”

oh, alangkah indahnya mimpi saya itu

betapapun indahnya mimpi malam nanti

saya belum diijinkan untuk tidur selamanya

ketika bangun pagi pikiran saya semakin nganga

sangat lebar kemungkinan yang tidak saya suka

kau benar-benar sudah lupa, misalnya.

maka malam ini saya tak ingin bermimpi

semoga harapan ikut tertidur nyenyak

sampai kelak

sampai waktu engkau pandangi saya

ketika saya katakana “akhirnya”

dengan mata terbuka lebar, bertanyalah

“ini sudah bukan mimpi, kan?”

 

10) Lagu Sedih Sederhana

ia merekam suaranya sendiri “lagu sedih sederhana”

begitulah ia bersungguh-sungguh melagukannya

seolah-olah engkau ada dan cuma engkau seorang
yang mendengar, tergetar, tapi malah berbahagia
telah menjadi penyebab utama kesedihannya

sambil terpejam ia dengar rekaman suara hatinya
demi mencari-cari harmoni—notasi suara dua—
supaya bisa kesedihan itu dinyanyikan kelak, duet

barangkali bersama engkau, ia menduga

lagu sedih sederhana bakal menjadi duet indah

 

9) Deretan Pohon

ada deretan pohon
yang berbaris menjadi pagar hidup
di sepanjang pinggir jalan itu

pohon-pohon hidup itu seperti sengaja dipisahkan
sebuah jalan yang tak terlalu lebar tetapi panjang

yang di pinggir kiri jalan agak condong ke kanan
yang di pinggir kanan jalan agak condong ke kiri
ranting-ranting merentang nampak saling gapai

seperti ribuan lengan dengan berjuta-juta jemari
membawakan saputangan hijau berjuntai-juntai

seperti berpasang-pasang kekasih terpisah
hendak saling mengusap wajah sedih resah

di sepanjang pinggir jalan itu
pernah ada sepasang bergandengan
berjalan pelan-pelan
memperhatikan deretan pohon

 

8) Blue Hour

matahari seperti meninggalkan langit demi mencium cakrawala

langit sore perlahan-lahan semakin suram, kelam sebentar lagi

ada yang setia dan tabah menghayati peristiwa sedih itu

demi menangkap pemandangan—senja yang langka—

sebisa-bisanya dan sehabis-habisnya

awan sore bergerak ke selatan

ia hanya diam, memperhatikan

burung-burung pulang dari laut

ia hanya diam, memperhatikan

sesuatu menggumpal di dadamu

ia hanya diam, memperhatikan

sehingga gumpalan itu mencair

mengairi matamu yang berwarna biru

ia tetap hanya diam dan masih memperhatikan

sebab ia ingin menyimpan gambar-gambar, suara-suara

desir-desir dan aroma perpisahan antara pantai dan matahari

sebelum cahaya penghabisan mengantarkan kau pergi sebentar lagi

”matahari hampir tenggelam, sunset sudah selesai”

katamu, sambil bangkit dan perlahan menuju jauh

sejak itulah ia berdiri di tempat berdiam

berdiam di tempat bersetia dan bertabah

sebab ia meyakini sesuatu setelah sunset

akan ada blue hour–gradasi warna yang mempesona

hitam paling kelam akan berada tepat di atas kepalanya

dan di ufuk barat sana langit nanti kuning cemerlang

engkau menjadi siluet yang tergesa menghilang

di sebuah sunset yang paling gemilang

 

7) Kembang Katu

ada yang senantiasa secara diam-diam merubah tubuhku

menanggalkan yang layu dan menumbuhkan kucup baru

ada yang senantiasa secara diam-diam merubah warnaku

memudarkan hijau-hijauku dan menambah merah-merahku

ada yang senantiasa secara diam-diam merubah aromaku

mengurangi wangi kelopakku dipindahkan ke kuncup itu

ada yang senantiasa secara diam-diam melukis bayangku

hitam samar-samar menuju pekat, memudar hingga lenyap

sehingga kau yang tak sempat-sempat mengamati

senantiasa terkejut “eh, kok ini sudah jadi begini?”

pada suatu nanti, akankah engkau terlambat menyadari

pada hari entah sore entah pagi aku sudah tiada lagi

 

6) Biji Senyum Engkau

kesedihan menghampiri perlahan-lahan

mengajak saya berkunjung ke masa silam

di mana biji-bijian itu pernah engkau tanam

ada yang berbunga ada yang berbuah

dan kesedihan mengangguk-angguk

sudah, engkaulah perihal yang telah

tak bisa lagi mentah

telah kami petik buah pohon kehidupan

bebiji senyum yang engkau pernah tanam

dipelihara hujan berbuah manis perih

 

5) Muara

air berkilau

menuju muara itu

dari kelopak mata engkau

menjauh

menuju aduh

melambat

seperti hendak berhenti

lalu berbalik

begitu melihat kelopak mata

saya yang hampir kering

 

4) Seperti ini Ia Merindukan Engkau

seperti akar ringkih pohon sirih yang keluar dari setiap ruas

menancap erat pada bebatuan tempat menjalar batang belia

yang mengantar kuncup-kuncup merambat menuju cahaya

seperti lumut yang mampu tumbuh di setiap yang lembab

berkembang biak, hendak memenuhi setiap permukaan

menuju tempat yang paling dekat dengan air matamu

seperti nada-nada yang tak bisa menemukan alat musik

tak menemukan pula pita suaramu yang menggetarkan

 

3) Negri Tanpa Mata Uang

ibu saya pembuat roti

sejak saya kecil, ibu memberi saya sarapan

sebait puisi yang ditulis oleh para penyair

saya selalu membacanya dan selalu menjadi heran

kenapa wanita itu suka menukarkan roti dengan puisi

ayah saya nelayan

ikan hasil tangkapannya lumayan, cukup

untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok

untuk ditukar dengan bunga-bunga penghias kebun

untuk ditukar dengan karcis menonton konser musik

untuk ditukar dengan aneka keahlian yang tidak dimilikinya

misalnya, keahlian tukang kayu membuat bangku taman

sekarang saya sudah dewasa,

saya lupa sejak kapan saya suka menulis puisi

dengan cara puisi saya hidup dengan gembira di negri saya

saya menukarkan puisi saya dengan barang-barang

yang saya butuhkan untuk hidup secara cukup sederhana

bisa begitu karena di negri saya uang sudah tidak laku

dan masih banyak orang yang seperti ibu saya

“saya hidup bukan hanya dari membuat roti saja” kata ibu saya

tadi pagi, seseorang datang kepada saya

hendak menukar puisi dengan beberapa tetes air mata

telah saya serahkan puisi saya yang paling sedih
bugenfil yang saya tanam di pot gerabah

saya berikan pula, sebagai bonusnya

 

2) Di Pantai Sanur

di pantai sanur matahari tak pernah tenggelam

terbit setiap pagi seperti kesedihanku, katamu

engkau lemparkan karang kecil jauh ke laut

demikianlah rinduku, engkau mendengarnya?

di jauh sana gunung agung menjulang. ia melihat kita,

ia melihat kita, katamu sambil menunjuk hidung saya

ia membiarkan kita menceburkan diri dalam kegembiraan

yang sebentar saja surut sebentar pasang seperti air laut

wanita itu berteriak-teriak minta tolong dengan manja

sengaja menjatuhkan diri dari kano ke dada seorang pria

engkau ingin main tenggelam-tenggelaman seperti mereka?

seorang bocah berlari-lari kecil mengejar ombak

sepasang orang dewasa bertengkar tentang masa lalu

kita sedang sengit-sengitnya mencintai masa peralihan

di pantai sanur, matahari tak pernah tenggelam

terbit setiap pagi, seperti harapan saya, kata saya

 

1) Saya Tidak Tahu Engkau

saya tidak tahu engkau

apakah engkau melirik yang terpetik

kembang yang ditaruh di ambang-ambang

saya tidak tahu engkau

siapakah yang engkau paling rindu

betapa yang bertapa di hatimu

”ini bunga dari bibir siapa?”

saya tidak tahu engkau

telahkah kaubuang yang segar baru

masihkah kausimpan yang lepas layu

saya tidak tahu engkau

selepas apakah engkau tersenyum telah

bolehkah mata saya mengintip dari celah

saya tidak tahu engkau

barangkali seseorang yang bukan engkau

menyapu bunga dengan sapu lidi atau sapu ijuk

saya tidak tahu engkau

barangkali seseorang yang lain engkau

mendekapnya sambil memikirkan orang jauh

saya tidak tahu engkau

bunga yang pada setiap kelopaknya saya hirup

harapan tidak lepas layu, semoga wangi selalu

saya tidak tahu engkau

sampaikah kepadamu

 

40) Sasadara

sinarnya menerobos kerenggangan awan-awan, sela-sela dedaunan, kisi-kisi jendela. menyusup ke dalam kamar menerpa wajah sendu, remang-remang terhalang kelambu. o, engkau yang seolah bergerak mendekat dan menjauh, yang diam-diam tabah tak terpengaruh riuh. bulan o bulan. Jangan bersedih o tapi marilah bersedih. bulan o mendung merampas cahyamu. mendung o gelap o tapi bahkan gerimis tak mampu memadamkan rindu. kenangan menggenangi jalan-jalan itu, berkilauan memantulkan cahaya lampau-lampau.

 

41) Anjing Tua dan Tuan Tua

seekor anjing tua

belum boleh mati

jika anjing tua itu mati
siapa akan tahu kegelisahan tuan tuanya?

tuan mudanya seorang penyair yang suka pesta

selalu buru-buru pergi setelah lupa mengingat-ingat
sudahkah memberi makan anjing tua dan tuan tua hari ini

anjing tua dan tuan tua saling membaca

sepasang kesepian yang tidak suka berbicara

tentang apakah perlu bersedih-sedih

anjing tua dan tuan tua hidup berdampingan

tetapi sendiri-sendiri, cuma saling menjaga

anjing tua dan tuan tua

pasangan pendiam yang serasi

tuan tua tahu apa yang anjing tua tunggu

tuan tua tahu anjing tua tidak perlu setuju

 

42) Arloji

1)

Telah dikoleksinya arloji-arloji
mewah, dari berbagai belahan dunia
tiada satu pun mampu menolongnya
menambah sedetik  waktu bahagia
mengurangi sedetik  waktu bersedih
Sekarang, pikirnya, siapa tahu sudah ada
arloji otomatis bahagia keluaran terbaru

2)

Dinding toko itu dipenuhi jam-jam mati
Jarum pendek  menunjuk angka sepuluh
Jarum panjang menunjuk angka dua
membentuk huruf  V
Pedagang arloji percaya  rahasia kuno
bumi ini berputar, memutar rasa ingin
huruf V pun dipercaya keampuhannya
mengarahkan keinginan kolektor
pada posisi sempurna: sepuluh,
lebih sepuluh

3)

Entah karena huruf-huruf V itu
entah karena mata berlian berkilauan
lupa ia pada tujuan utama, mencari
adakah arloji mewah keluaran terbaru
dengan dua fungsi: otomatis
menambah detik-detik waktu bahagia
mengurangi detik-detik waktu bersedih.
Otomatis.

Pun ia lupa teliti sebelum membeli
apa kartu garansinya berlaku juga
sebagai jaminan perbaikan gratis
atas hidupnya, yang telah rusak,
jika tiba-tiba tak berdetak

4)

Sebuah mobil meluncur
menabrak warung sederhana.
Sopir tua mati, tuan muda juga mati
hanya satu yang masih hidup. tik tak
tik tak…sebuah arloji bermata berlian

“rejeki kah?” batin pemilik warung.

 

 

43) Peti Mati Berukir Puisi

saya seorang pembuat peti

biasanya seseorang memesan peti mati
bukan untuk dirinya sendiri

pagi cerah, anak muda berwajah ceria
datang memesan sebuah peti mati.

”gunakanlah kayu-kayu bekas

ukirlah dengan huruf indah kalimat ini”

Ketika aku mati kalian menyangka aku hidup

Ketika aku hidup kalian menuyangka aku mati

“jangan lupa, ukirlah sebuah emosikon tersenyum
diameter lingkarannya kurang-lebih duapuluh senti
persis seperti sketsa ini, pas di tengah-tengah peti

ini uang muka, jangan mendoakan saya lekas mati

jangan takut kepada sesiapa yang disangka hidup
ia yang akan berbaring di peti ini sebentar lagi

 

44) Di Saat Cemas, Ada  yang di Atas

1)

matahari tak pernah terlambat terbit

tak pernah bergadang semalaman

meski  engkau sedang membencinya

atau tak sabar ingin segera menjumpainya

2)

bintang-bintang tak pernah gusar

walau mendung menghalangi matamu

yang sedang diselimuti kegalauan

3)

bulan tak pernah iri

pada matahari yang cahayanya bisa mengubah

kelabu gerimis menjadi warna warni bianglala

4)

burung pipit tak pernah bertengkar

tentang siapa yang harus menanam padi

dan selalu bernyanyi

 

45) Rumah Bahagia

di atas tanah itu sebuah rumah dibangun

diberi nama rumah bahagia “nama itu doa”

begitulah katanya kepada orang-orang

rumah bahagia itu pernah menjadi ramai

orang-orang pulang membawa oleh-oleh

mainan anak-anak, makanan, selusin beha,

sepasang cerita, terkadang beberapa rindu

rumah bahagia itu kian jadi tempat pergi

cuma beberapa orang sesekali pergi ke sana

membersihkan sarang laba-laba, rumah rayap

debu di pintu kenangan. “hmm” begitu katanya

belum ada lagi orang yang butuh bahagia di sana

sepi betah berkembang biak, o, rumah bahagia itu

direnovasi atau dirubuhkan sama sekali, entahlah

konon mantan pemiliknya sudah pindah

rumah bahagia baru yang dibangun di atas

bukan di atas tanah melainkan di atas konon

anugerah yang tak bisa diusahakan

setiap orang lewat pasti tergoda membaca

tulisan di pintu kenangan: rumah bahagia

padahal tak ada orang yang tinggal di sana

 

46) Kalender Bulan Desember

kalender tahun ini desember cerianya

tinggal setengah lembar lagi umurnya

ingin saya pasang sepasang kalender baru

di depan dan belakang pintu kamar engkau

bergambar sosok yang diam di bulan

januari, februari, sampai habis tahun

seperti pemerhati yang selalu bertanya

“pintu terbuka engkau hendak kemana”

meski sudah  saya boroskan setiap hari

habis semua untuk mecintai diri sendiri

matahari gak pernah melotot marah-marah

barangkali besok pagi kita boleh bangun lagi

 

47) Bingkai Jendela

saya berdiri di belakang jendela yang terbuka

langit masih berwarna biru remaja, bersih dan luas

andaikan segala macam air di dunia ini dimendungkan

apa kelabunya cukup untuk menutupi keterbukaannya

langit seluas itu seluas apa telapak tangan penciptanya

andaikan segala macam kejahatan di dunia ini digumpalkan

tidak terlalu kecilkah baginya untuk dibikin sebutir kelerang

dan jika telapak

tangannya lebih luas dari langit, sayang

mampukah engkau bayangkan dadanya yang lapang

saya memandang awan itu yang santai tidur-tiduran

saya kukumpulkan segala yang menyesakkan dada

saya hadapkan ke sana pandangan saya yang terbatas

tapi barangkali engkau tidak sedang di atas sana

tidak di balik awan itu, tapi sedang bekerja di saya

dari jarak lebih jauh dari awan itu.  apakah engkau
sedang tersenyum sendirian menonton saya sendirian

seperti pelukis yang terpesona sendiri mengamat-amati

lukisannya sendiri yang disendirikan

dan bingkai jendelalah yang memigura separuh tubuh saya

menjadi lukisan diam melangut  yang       jauh              engkau

eh…siapa yang diam-diam menjatuhkan daun-daun itu

yang diam-diam menumbuhkan kuncup-kuncup baru?

 

48) Sekolah

saya telah membongkar isi rumah

baju, radio, kulkas, buku-buku, ranjang

aneka barang ini dulu sangat saya inginkan

saya kumpulkan dengan bersusah-susah

yang dulu baru kini telah menjadi usang

banyak barang sudah tidak saya perlukan

terpaksa dibuang supaya tidak memberatkan

sebab tiba-tiba saya harus pergi pagi ini

cuma ada sedikit yang perlu saya bawa

kenang-kenang, rindu-rindu, mimpi-mimpi

bekal pergi ke tanah terjanji yang entah

ah, tidak. itu terlalu banyak

di tempat baru akan saya temukan

orang-orang baru barang-barang baru

detik-detik yang akan segera berlalu

dan sebuah peringatan

tidak ada yang bertahan

belum ada yang awet melebihi kenangan

di sana saya disekolahkan

mata pelajarannya cuma dua

mata pelajaran tersenyum dan rela

ujiannya pun cuma dua

diberi yang tak kupinta dan kehilangan yang kucinta

“kau perlu banyak belajar tabah

supaya jiwamu bisa selamat sampai kepadanya

hadiahnya suka cita yang asli” kata pak guru

sambil terbahak-bahak keluarlah air matanya

49) Sebatangkara

ketika pergi si sebatangkara ingat tak mengunci pintu

ketika kembali seseorang telah menguncinya

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s