Status

Dermaga

VARIASI 1
Air diam-diam mengalir

Basahi perpisahan dan perjumpaan 

Para pengantar dan para penunggu.
Gelap datang menjadi panggung 

bagi segala yang memantulkan cahaya.

: gelas-gelas pesta, petilasan senyumnya

dan dingin gedung kota yang berkaca-kaca.
Remang bersamaku menunggumu

Berhentilah mencari naungan palsu.
Aku dulu sebatang tebu yang ditanam 

lalu ditebang waktu. Kau selembar daun

hijau teh yang dikeringkan di jauh hari.
Demi dermaga kita telah disampaikan

Kepada satu cangkir penyair yang setia

Menyeduh pahit manis ke dalam satu.
Ia mencintaimu lebih hebat dari air

yang mengalir tanpa kata cinta.

VARIASI 2

Air mengalir tanpa henti

Tanpa bicara membasahi hari-hari.

Menuntun kapal-kapal kita ke dermaga

tempat perjumpaan dan perpisahan.
Di bawah naungan mata senja 

Menyimak remang, menyibak gamang

Kutunggu kau bersamaku menyimak

Air yang mengalir tanpa henti
Kita butuh lampu kecil penerang hari gelap

Yang datang melepas berbagai kepedihan.

Di bawah malam berlanskap hujan

Air mengalir tanpa henti.
Mari menyeduh secangkir teh di sini

Menghirup aroma sedap pahit manis 

bunga-bunga tanah, buah-buah tangan waktu.

Mengapa bertanya siapa akan tiba lebih dulu

Di rumah entah, di pulau-pulau yang tak kita tahu

Apakah padamu ada air yang mengalir tanpa henti?
Peristiwa tiba dengan cadar 

Berlapis-lapis seperti kabut di lereng-lereng.

Berhalaman-halaman kau akan mengeja kesusahan

tanpa bisa menebak semanis apa wajah asli pencipta

Air yang mengalir tanpa henti ini.
Luas cerita pohon tebu yang ditanam untuk ditebang

Dan pucuk-pucuk daun teh yang direnggutkeringkan

Sampai pada buah pertemuan yang hangat dan manis

Oleh karena air yang mengalir tanpa henti.
Siapa pernah nenatap dingin langit mendung kelabu

Sendiri, berdiri di halaman terpencil dan merasa 

Sebagai yang terlahir demi kesia-siaan belaka

Adakah air yang akan tergenang selama-lamanya?
Cermin memang bisu, tetapi ia melihat kita.

Tersenyumlah kepadanya, maka ia pun tersenyum kepadamu.

Ia akan mengembalikan sebuah kuntum yang tercuri dari kita.

Tanpa bicara, air mengalir tanpa henti membasahi dermagamu.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s