Status

Pertemuan dengan Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira

Saya bertemu Umbu untuk yang pertama kali pada tgl 10 Agustus 2014, 2 tahun yang lalu.
Pada hari itu juga saya bertemu dengan Frans Nadjira untuk yang pertama kali.
Frans Nadjira membacakan Puisi di bawah ini pada hari itu.

Rahim Buat Puisi

Frans Nadjira

: kado untuk Umbu

Cuaca telah berubah
sejak jendela orang-orang miskin
tak dapat dibuka.
Aku bersandar di dinding hampa
Malam mendirikan benteng kokoh
Antara dunia dan diriku.

Kunang-kunang telah menyalakan
lentera dan kandil-kandil
Udara dingin dan kering.
Sebatang pohon memeluk cahaya bulan
Di tirai samar cabang-cabangnya.
Seperti api yang memendam sejuk nyalanya
Umbu membacakan sajak-sajak gumam.
Masuk ke mimpi-mimpi tak berpintu
Masuk ke relung-relung petir malam.

Umbu, puisi rindu teduh rahim
Puisi ingin menulis di bukit-bukit terjal berbatu.
Penyair hanya pencatat kata-kata penderita vertigo
Tersesat di antara sunyi tidur
Terjebak di lorong-lorong gelisah malam hari.
Sepasang mata menatap riak halus puisimu
Huruf-huruf penderita delusi
Tercenung di rahasia kata-katamu.

Kau dengar teriakan orang-orang miskin itu?
Mereka adalah seribu burung camar
Menukik ke dasar jantungmu
Menyelam ke palung terdalam mimpi-mimpimu.

Di pusat mimpi liar itu
Kita berdiri sepanjang malam
Menyaksikan orang-orang lapar
Mengunyah lumat tubuh mereka sendiri.

Sampai kapan kita bisa diam, Umbu?
Sampai kapan?
Indonesia, apa yang telah kau perbuat pada mereka?
Mereka lapar
Mereka tersedak dalam angin malam.

Lihat wajah mereka    Lihat sinar mata mereka
Mereka tidak bicara    Mereka tubuh cahaya.
Perut mereka adalah luka bakar    Luka cuka
Luka pecahan kaca di jalan-jalan.

Mari Umbu, kita peluk mereka dalam sajak
Kita bongkar kuburan tak bertanda.
Kau hidupkan mereka dalam sajak-sajak airmu
Aku bangkitkan mereka dengan sajak-sajak apiku.

2014

 

Ini fotonya
Frans & Umbu

 

Di bawah ini adalah puisi untuk mengenang malam itu. Puisi ini saya tulis sebelum saya belajar menulis puisi kepada Frans Nadjira secara berkala di Rumah Unda bersama Atrari , Aryadimas, Maulana Rizky, dan Kim Al Ghozali.

 

PURNAMA DI JATI JAGAT

Malam menyalakan aku,  dan engkau dimana
Purnama serius menerangi kantong-kantong sajak.
Satu demi satu kata kurogoh. Deg, deg, deg…hingga
Kosong kantong sajak ini, engkau belum kutemukan.

Bulan ini, apa engkau telah menemukan engkau
Agustus bermimpi di bawah daun jati telungkup.
Dua ribu percik apiku merindukan tetes airmu
Empat belas embun umur enam tujuh tahun.

Engkau, Nah hampir kucoret namamu dari sajak
Ulang ini berlaku tidak untuk lain kesempatan.
Tahun tahun berlalu,  biar kali ini kutulis engkau
Aku? Biar kali ini kusingkirkan diriku. Kemarilah.

Datang! Bawakan daku sedikit sunyimu.



KPB Renon 2014
sg

 

Di bawah ini adalah lukisan yang saya buat menggunakan cat air pada kertas gambar berukuran A 4. Dua tahun setelah pertemuan yang pertama itu.

 

 

umbu jkp

Umbu Landu Paranggi Cat Air Sulis Gingsul

Umbu Landu Paranggi, Cat air pada kertas A4, 10 Agustus 2016

 

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s