Status

5 Puisi Sulis Gingsul AS di Bali Pos 30 Juli 2016

JEJAK KATA

Setapak demi setapak, kata menuntunku
Aku sering tersesat di belantaranya yang rawan.
Kutengok belakang, jejak kakiku telah hilang
Dan jejak-jejak kata telah raib diraup langit.

Baiklah aku bertanya kepada sungai
yang sedang berjalan sambil tidur di sana.
Sungai, ke mana kau berpulang?

Aai, mungkin kata-kataku sudah terlalu kosong
Aku berteriak ai dan tiada yang menangkapnya.
Lagi aku berteriak ai…

Tiada terdengar gema dari seberang sungai.

Gerimis turun menyapaku
Kali ini aku tidak berteduh.
Ia cuma awan kecil, mendung kelam,
air kata-kata yang sedang bernostalgia
dengan samsara, karibnya.

Gerimis, ke mana kamu menghilang?
Setetes demi setetes kata dituntun pulang.
Asalnya dari jejak kata yang raib dihirup langit.

 

SEBUAH CARA

Aku hinggap
Di sebuah pangkal yang baru
Menyandang rindu yang baru.

Kupelajari sepi
Yang bernyanyi di puisimu.

Sepi membelitmu
sekaligus menumbuhkan sayap.

Kau menggeliat, terlepas
dan terbang meninggalkan aku.

Kau hinggap
Di sebuah pangkal yang baru
Menyandang sepi yang sama.

Aku berdiam
Di sebuah pangkal yang baru
mempelajari sepi, sekali lagi.

Selalu ada senyum baru
Kemudian, senyap baru.

Selalu ada yang terpendam
Ditinggalkan, dan dilupakan.

Baiklah
Ketika sepi membelitku
Aku membelitnya.

YANG TERSELIP

Diriku sebutir debu genting kota
Dirimu seekor lembu desa. Sementara
Takdir adalah gembala baik yang tak terduga.
Seekor lembu desa duduk apik di butik
dalam rupa sepatu biru yang cantik.

Waktu adalah cleaning service yang sigap
Siap siaga membersihkan dirimu dari diriku.
Sementara hujan hendak meluruhkan diriku
agar dirimu terluput dari sebuah kisahku.

Sebelum hujan, semilir angin terus kunanti
Sambil terus mengumpamakan diri. Bukankah
Kita ada, bersama-sama dan bersendiri-sendiri
sebagai umpama, yang terselip di sajak ini.

JALUR SUNYI

Akar-akar sulur sirih muncul dari ruas-ruas hijau
Yang lunak dan yang ringkih mampu menancapi batu-batu.
Menjulurlah batang-batang belia mengantarkan rindu
kuncup-kuncup muda merambat menuju cahaya baru.

Lumut dan ganggang tumbuh di setiap yang lembab
Berkembang biak memenuhi segala rupa permukaan.
Mendekati sumber yang mengandung hangat dan sinar
Surya, dan sepasang kantung mata airmu yang dalam.

Aku memunguti nada-nada yang berdenting
menjelmakannya sebagai tanda dan sarana
Hadirnya bening matamu, bening celotehmu
yang tak tergantikan, tak terkatakan.

 

AMBANG JENDELA

Duka mengintip
Luka jendela tertutup gorden.
Di langit rumah sakit, pipit bernyanyi.

‘Di bawah matahari
Siapa tahan berdiam diri
Dari balik jeruji ini
Siapa lolos dari mimpi?’

Angin adalah udara yang bergerak
Geraknya memberi sekaligus mencuri
Yang di dalam sekaligus yang di luar diri.

Layang-layang tersangkut di dahan
Tegang-kendur tali pengikatnya
Demikianlah angin suka bermain.

Yang sedang terpontang-panting
Makin terkoyak.

Biarkanlah yang di luar itu, kataku
Biar hujan melipur laraku, katamu
Dengan bening, cair, dan tawarnya.

Nafas hujan
Bikin buram kaca.
Meski begini meski begitu
Ambang jendela tidak turut berduka.

 

 

 

 

 

 

 

5 Puisi Sulis Gingsul AS Juli 2016

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s