Status

Murdawa dan Djomulyo

Setiap kali mendengar atau membaca kalimat “Hidup adalah perjalanan”, saya pasti selalu langsung teringat kepada Murdawa. Murdawa adalah lelaki berperawakan tinggi besar dan sehat yang berasal dari tetangga desa kami, yang kegiatannya sehari-hari adalah berkeliling menyusuri jalan-jalan dari desa yang satu ke desa yang lain. Terakhir kali saya melihat Murdawa, sekitar 3 bulan yang lalu, tetap seperti dulu: tinggi besar, sehat, dan ramah. Tapi ada perkembangan baru; dia tidak lagi berjalan kaki, melainkan naik sepeda. Sudah tua dia, tapi nampak sehat. Entah apakah ada sesuatu yang diperjuangkan dalam kehidupannya.

Setiap kali mendengar atau membaca kalimat “Hidup adalah perjalanan”, saya pasti selalu langsung teringat juga kepada Djomulyo almarhum. Ia seorang guru SMP yang setiap hari kerja naik sepeda sejauh kurang lebih 8 km untuk pergi-pulang mengajar. Sewaktu kecil saya sering melihatnya mengayuh sepeda ontel-nya pelan-pelan melintasi jalan di depan rumah kakek saya. Saya tidak begitu mengenal Bapak Djomulyo almarhum. Tapi kesan saya, naik sepeda adalah pilihan hidupnya, pilihan hidup seorang guru biasa yang memperjuangkan kebahagiaan melalui pengorbanan, kejujuran, kesederhanaan hidup, dan keberserahannya kepada sang guru sejati.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s