Status

Hasil Belajar 18 Kata yang Kedua

Pada tanggal 1 Februari 2015, JKP mengadakan pertemuan untuk menggiatkan kegiatan perpuisian. Pertemuan itu dihadiri oleh 6 orang yang ingin serius belajar bersama menulis puisi. Pada pertemuan itu didapatkan sebuah kesepakatan, bahwa kami ber-6 berkewajiban menyetor 3 kata setiap minggu. 18 kata yang terkumpul itu akan kami digunakan untuk belajar-bersama menulis puisi.

Berikut ini adalah 5 buah puisi
Hasil Belajar 18 Kata yang Kedua

Atrari Senudinari SG:
luput, lusuh, luruh
Maulana Rizki:
buku, baku, baka
Arya Dhimas:
seng, pijar, spion
Dadi Reza:
kerikil, kelelawar, tarung,
Kim Al Ghozali:
awan, angin, gelombang,
Sulis Gingsul:
dian, daun, sekolah
——————————————————————————————————–

TENTANG INGATAN
Atrari Senudinari SG
Jika desir angin
Pantulkan gelombang pada awan
Iringan kelelawar bersembunyi di balik daun.
Sebelum gelap membawa cahayamu pulang
Buku lusuh menjelma spion
Memamerkan cerita yang luput
Luruh dalam ingatan
Pertarungan diri dan ingatan
Bukan kamuflase tentang cinta semata
Pun dian tak mungkin menyulut sedikit asa
Di atap rumah
Tempat engkau berlindung
Menjaga ingatan dari  putaran aksara waktu
” Aku bukan batu yang tersesat di kawah purnama. “
Di antara yang baka,  kau tetap lari dari nestapa

——————————————————————————————————–

MENUNGGU
Aryadimas Ngurah Hendratno
Dian yang tak kunjung datang
Di antara daun musim semi
Gelombang dingin membawa angin padaku
baju lusuh tak mampu menahan gigil
rinduku padamu
pijar yang tak kunjung pergi
dibalik dinding sekolah kujajar buku-buku
dibilik pertarungan kujajar seng-seng
di tubuh kelelawar kugantung spion
bukan bahasa baku ketika kuhantar baka
luruh pada tubuh lusuh
kuminta awan menemani
menabur kerikil pada dian
menabur malam pada pijar        tersisa isak
                                               dihimpit rindu
——————————————————————————————————–
surga android 2
Maulana Ramza Rizki

 
Kelakar-kelakar kerikil
yang menerpa ujung telinga
memijarkan batu hatimu
mendiani jalanmu
“Seperti apakah wajah surga itu?”
Bolak-balik lusuh buku kau lasah
Tak kau temukan pertanyaan seperti yang pernah kau baca
spion-spion itu juga tak lagi spons yang mampu menyerap pertanyaan-pertanyaanmu
Sekolah beratap seng itu tentu tak seluas sekolah beratapkan awan
Angin menghembuskan daun-daun bisu yang sudah terlalu lama kau capit
Gelombangnya menghempaskan suara lirihmu yang pernah luruh
“Keluarlah!
Keluarlah dari persembunyianmu!
Tarunglah taring kelelawar itu!
Atau Kau takkan bisa luput
dari bahan baku maut yang baka,
NYAWAMU!”
——————————————————————————————————–
DI TEPI FEBRUARI
Sulis Gingsul AS
Langitku kelam kertas hitam
Dan kata-katamu jadi bulan bintang.
Kauremangkan sajak tepi laut februari
yang sedang belajar mengutuhkan diri.
       “Mataharimu pijar dian haus
        Pelurumu pejal kerikil dingin
        Perisaimu rapuh daun kering.
        Petarung, pernahkah kau menang
                           melawan diri sendiri?”
Mari belajar bangun, katamu
meski cinta tak ada sekolahnya.
Mencatat yang terjadi di luar mimpi
tanpa mencacat
             yang lusuh, yang luruh,
             dan segala yang melintas
             di spion retak ini.
Gelombang seng produk pabrik-pabrik
Tak sebanding dengan gelombang rambutmu
      Yang seperti gelombang laut.
Yang baka melampaui segala yang baku
terluput dari sekapan buku-buku.
Sebentar lagi awan putih menaungi kita
Dan pupus daun pisang melindungi kelelawar kecil
dari mimpi manusia. Sebelum bocah penggiring angin
menjadikan hujan sebagai minuman kerbau dan sapi.
Aku berjaga di pinggiran sajak
Kulihat dirimu tampak utuh
tertidur di lembaran sajakku.
Kuingat kata-katamu. Lalu “Stttt!” kataku
kepada tanda baca yang berseru-seru
di selimutmu.
——————————————————————————————————–
PEMINTAL SUBUH
Kim Al Ghozali
karena hujan luput mengeja sungai
maka tubuh awan hangus terbakar
angin luruh di atas bulan subuh
malam ganjil
tubuh tubuh tumbuh di gelombang nuh
langit tak berpijar
di mana bayang daun berdiam?
cicit cicit kelelawar
bertarung suara gemerincing kerikil
gerimis diam bersanggul lusuh atap seng
angin luruh di atas bulan subuh
hadir jibril dengan dian di tangan
jelma buku baku pertarungan hidup
telapaknya membentuk spion
mengalirlah sungai sungai ayat
sekolah baka pemintal subuh
——————————————————————————————————–

Catatan: Dadi Reza Pujiadi belum sempat menulis puisi karena kesibukannya menjadi Artis.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s