Status

TOPI MIRING

Pada waktu aku dilahirkan di dunia ini, bapakku tidak menutupi kepalanya dengan topi. Ibuku juga tidak menutupi kepalanya dengan topi. Dan aku? Tentu saja tidak! Bagaimana dunia ini berputar, sama sekali aku tidak mengerti. Sekarang, bapakku, kadang-kadang, menutupi kepalanya dengan topi. Ssst! Secara sembunyi-sembunyi! Mengapa? Ibuku membenci topi! Dan aku? Aku selalu pakai topi. Sekarang, dan selalu!

Mengapa sekarang ke mana-mana aku selalu pakai topi?

Pada suatu malam di bulan mati, di bawah remang lampu kota, tujuh sahabatku menggelar topi yang berwarna-warni. “Cobalah tutupi kepalamu yang botak itu dengan topi!” Ragu-ragu, dengan gemetar, aku mencoba topi itu. “Pas!” kata mereka. “Bagaimana rasanya?” Kulepas topi itu. “Sedikit pusing!” Lalu kucoba-coba lagi. Mereka melihatku dengan penuh perhatian. “Pas?” tanyaku. “Coba dimiringkan sedikit ke kanan!” Kumiringkan topi itu sedikit ke kanan, dan mereka manggut-manggut. “Pas. Sungguh-sungguh pas!”

Lama setelah suatu malam di bulan mati itu, pada suatu siang, sahabatku yang paling setia, ialah sebuah weker tua, berhasil membangunkan aku. Bergegas, kucari topi itu di tempat biasanya, tapi tidak ketemu. Sudah kuobrak-abrik kamarku yang pengap itu, tetap saja tidak ketemu. Lemas. Tubuhku lunglai seperti jaket basah tersampir di sebuah tongkat doyong. Dengan lesu, aku berdiri di depan cermin. Kulihat wajahku yang pucat mirip kertas koran yang kehilangan teks-nya. Kutegak-tegakkan kepalaku yang miring ke kiri, tapi tidak bisa. Begitulah, kepalaku selalu miring ke kiri kalau tidak pakai topi itu.

“Bro, pinjam topimu!” Begitulah sebuah sms kukirimkan. Sebentar kemudian, seorang sahabat, yang kumengerti dan mengerti aku, datang membawakan topinya untukku. Aku berdiri di depan cermin. Kulihat wajahku yang pucat. Kutegak-tegakkan kepalaku yang miring ke kiri, tapi tidak bisa. Begitulah, kepalaku selalu miring ke kiri kalau tidak pakai topi itu. Lalu, dengan gerakan teramat pelan, kukenakan topi itu di depan cermin. Kumiringkan topi itu sedikit ke kanan. Sebentar kemudian, tanpa kutegak-tegakkan, kepalaku perlahan-lahan meluruskan diri. Sekarang kepalaku bisa tegak lurus, tidak miring lagi. “Gimana bro, pas?” dia bertanya. “Pas! Sungguh-sungguh pas!.

Sebenarnya, sungguh merepotkan topi miring ini. Tapi aku belum mampu untuk meninggalkannya. Akhirnya, sambil menikmati topi miring kami masing-masing, kami pun menyanyi bersama. Kami menyanyikan lagu pilu ciptaan kami sendiri, dengan penuh penghayatan, dengan iringan yang kami bikin sendiri. Ting ting ting, ting ting ting, “Anakku, o, anakku!” Ting ting ting, ting ting ting, “Anakku, o, anakku, mengapa topi miring tidak meninggalkan daku?”

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s