Status

INSIDEN DI PASAR BADUNG

Kebakaran hebat telah terjadi di Pasar Badung, Denpasar, Bali, pada hari Senin  tanggal 29 Februari 2016. Efek dari kebakaran tersebut masih dirasakan oleh masyarakat hingga saat ini. Akibat dari kebakaran itu, area parkir pasar Badung dialihfungsikan menjadi tempat berjualan. Lapak-lapak para penjual diatur berderet-deret sedemikian rupa sehingga terciptalah semacam lurung-lurung sempit yang cukup untuk dilewati satu buah sepeda motor saja. Nah, kemarin, saya juga menikmati dampak kebakaran Pasar Badung yang terjadi 17 hari yang lalu itu. Ceritanya begini.

Sepulang kerja, saya mampir Pasar Badung untuk membeli seikat daun kelor dan setengah kilo ikan segar. Di tengah perjalanan keluar dari pasar, saya melihat seorang bapak bermuka sangat marah sedang menendang-nendang sebuah sepeda motor sambil berkali-kali mengumpat “Brengsek, goblok, motor sial…Parkir ko di tengah jalan, brengsek…dan seterusnya. Ada dua buah motor yang diparkir di tempat yang oleh bapak tadi disebut tengah jalan itu. Yang di depan adalah sebuah motor laki yang masih kinclong, yang di belakang adalah motor yang kelihatan tidak pernah dicuci oleh pemiliknya. Di motor itu ada stiker bertuliskan “MOTOR BEKAS”. Motor kotor inilah yang menjadi korban kejengkelan di sore hari yang cerah itu, sementara motor laki yang kinclong itu terselamatkan dari kejengkelan bapak itu oleh sebab jarak. Mungkin cukup menendang-nendang satu motor saja untuk menuntaskan emosinya.

Ketika Bapak itu sedang marah-marah, menendang-nendang, dan dengan sedikit usaha akhirnya bisa melewati dua motor itu, saya sedang ada di beberapa meter di depannya. Saya hanya memperhatikan saja dan tidak komentar apa-apa. Atas kejadian naas itu, tentunya tidak elok kalo Kebakaran Pasar Badung dijadikan kambing hitam.

Menurut saya, yang bisa disalahkan adalah, yang pertama, tukang Parkir. Mengapa tukang parkir tidak memberi tahu dimana tempat parkirnya, dan tidak melarang orang-orang yang parkir di tengah jalan parkir? Sebab, saya melihat beberapa motor diparkir, di lurung-lurung itu. Ada yang diparkir di dekat pintu masuk, ada pula yang diparkir di dekat kelokan lurung, ada yang diparkir sedikit agak di tengah, dekat yang dagang buah, pokoknya semrawut lah.

Yang ke-dua, bisa disalahkan juga, pengelola pasar sementara (kalau memang ada pengelolanya). Mengapa tidak dipasang anak panah penunjuk arah menuju tempat parkir yang benar.

Yang ke-tiga, yang mempunyai motor laki yang masih kinclong itu. Mengapa beliau memarkir motor di tengah jalan parkir? Akibat ulahnya, ada yang tiru-tiru memarkir motornya di situ.

Yang ke-empat, tentunya, yang mempunyai motor ber-stiker MOTOR BEKAS ITU. Mengapa beliau tidak bertanya kepada tukang parkir di manakah beliau bisa memarkir motornya dengan benar.

Tetapi, yang menurut saya paling bisa disalahkan adalah Bapak yang telah marah-marah, menendang-nendang, dan mengumpat-umpat itu. Kesalahan pertama adalah beliau cepat terbawa emosi sehingga tidak sempat berpikir jernih. Yang saya maksud berpikir jernih di sini adalah memikirkan hal apa yang paling mudah dilakukan untuk mengatasi hal itu. Apabila beliau sempat berpikir jernih, beliau sebenarnya tinggal turun dari motornya, meminggirkan kedua motor yang menghalanginya itu sampai semepet-mepetnya, kemudian melanjutkan tujuan hidupnya dengan lega. Andai demikian, Bapak itu tidak perlu kehilangan energi hanya untuk marah-marah dan melakukan gerakan menendang-nendang motor serta menumpat-umpat kepada entah siapa, tidak jelas. Kakinya tentu malah jadi sakit pula.

Kesalahan kedua Bapak yang telah marah-marah itu, dan ini saya pikir adalah kesalahan yang paling fatal, adalah tidak bertanya kepada saya, yang selama Bapak ini sedang mengekspresikan diri—saya sebut saja begitu, dengan tenang melihat sebuah aksi yang total, tulus dan ekspresif, dan tidak dibuat-buat itu. Jika Bapak itu bertanya kepada saya siapa pemilik motor itu, tentu saya bisa menjawabnya dengan benar. Dengan begitu, Bapak itu bisa melampiaskan kemarahannya kepada orang yang tepat. Ya, saya tahu pemilik motor yang berstiker MOTOR BEKAS itu adalah saya. Gak ditanya sih, ya diam saja…hehehe.

*
(insiden/in·si·den/ /insidén/ n peristiwa (khususnya yang kurang penting dalam hubungannya dengan peristiwa lainnya yang lebih besar); kejadian: janganlah — yang kecil itu sampai menimbulkan kekalutan dalam masyarakat)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s