Sarinah

Hai Sarinah, hai lipstik kecil yang teselip di tas jinjing hilang.
Akhirnya kita kembali pulang, meski kita tak sempat jumpa,
kepada rumah yang lebih besar daripada segala keyakinan
: rasa sakit, usia tua, dan kematian yang tak terobohkan;
kepada hidup yang lebih besar daripada semua cerita
: mujair-mujair kecil dalam mulut mujair induk.
Cinta menjelma tiap detak, kadang kala
dalam citra yang begitu buruk.
Ya, kita harus sudah pulang kepada cinta
sebelum menandai ini itu sebagai apa apa.

14 Januari 2016

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s