Tei

Sebelum mengenal kata, saya orang antusias.
Tei pun saya jilat dengan penuh ketakjuban.
Lama-lama saya mengenal kata, termasuk “tei”

Sejak itu, tei tak lagi bikin saya bergairah.
Dngan kata, saya bisa memeluk gunung
“Itu tei, ini tei. Itu musti disingkirkan!”

Kata seperti raksasa ganas
Yang menelan bulat-bulat segala keberadaan?
Keberadaanmu, keberadaanku, keberadaan kita,

keberadaan tei, bahkan keberadaan Tei
Mentah-mentah! Dan oleh karena kata
perang pun pecah.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s