Sulur-Sulur Yang Melilit

Mengapa tak bisa aku beranjak membuka pintu
Dan mencintaimu sedalam kolam yang kaurindu?
Terjebak sendiri di kursi goyang yang tak bisa berhenti
Enak dan namun kian rusak dihinggapi rasa sepi
Tiada terasa, seperti memutihnya uban sedari abad lampau
Setiap pori-pori waktu menumbuhkan isyarat musim pudar
Kesederhanaan berjalan lindap setiap hari, dan o kasihku
Kesombongan tumbuh rimbun di kebun sendiri, kuat dan kekar
Seperti sulur-sulur melilit daun jendela daun pintu rumah ini
Dan seluruh kisi-kisi tak cukup buatku melihat senyummu.
Bantu aku, bantu aku dari luar
o Kasihku, putuskan sulur-sulur itu
Aku akan
membuka jendela dan pintuku sendiri.
Aku akan pergi dari diriku merunduk menyapu kebun
Dan tamasya bersamamu menyapa embun
yang tergantung pada mata bayi waktu.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s