Sebuah Apresiasi Sederhana terhadap Puisi Berjudul Sekali Waktu karya Frans Nadjira


Sebuah Apresiasi Sederhana terhadap Puisi Berjudul Sekali Waktu karya Frans Nadjira
Oleh Sulis Gingsul AS
Jatijagat Kampung Puisi, pada tanggal 27 Juni 2015, menggelar peluncuran buku kumpulan puisi karya Frans Nadjira yang berjudul Catatan di Kertas Basah. Yang berkesempatan membahas buku tersebut adalah Profesor Darma Putra Nyoman.
Profesor Darma Putra Nyoman, pada kesempatan itu mengungkapkan dua hal. 
Pertama, di dalam sajak-sajak Frans Nadjira bertebaran majas oksimora (oksimoron). Oksimora adalah majas yang menempatkan dua antonim dalam suatu hubungan sintaksis. Contoh oksimora yang terdapat di dalam buku ini  adalah frasa catatan di kertas basah, yang oleh penyairnya digunakan sebagai judul buku. Penggunaan majas ini, diduga, adalah sebuah upaya penyair dalam merumuskan perasaan (yang tidak dapat dirumuskan) secara lebih presisi. Dari kehidupan sehari-hari, dapat diambil contoh oksimora “jalan di tempat”.  Istilah “jalan di tempat” bisa menggambarkan dengan lebih jelas sebuah keadaan “tidak berjalan tetapi juga tidak mandek. Mencari dan mengamati Oksimora yang bertebaran dalam buku ini adalah salah satu cara yang dapat digunakan pembaca untuk mengintip ruang sajak dan melihat apa yang terjadi di dalamnya. Ini hanya sebuah ikhtiar untuk memahami satu segi dari sajak Frans Nadjira yang tampak seperti diamond yaitu bersegi banyak dan setiap seginya ada kemilau”. Bisa kita umpamakan demikian: Kita melihat sebuah bangunan sajak. Di dalam bangunan itu tersimpan sebuah diamon. Kita membuat lobang pada sebuah dinding, lalu mengintip diamon dalam ruang sajak itu.
Kedua, Sajak-sajak Frans Nadjira adalah sajak-sajak yang khas Indonesia. Frans Nadjira berasal dari Makasar, tetapi kesukuan Makasarnya tidak diangkat di dalam sajak-sajaknya. Semua orang, berasal dari suku apa pun, yang memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar, tidak akan menemukan kesulitan ketika membaca sajak-sajak Frans Nadjira karena di sana tidak terdapat hal-hal yang berbau kesukuan. 
Menanggapi hal ini, Penyair Wayan Jengki Sunarta, yang ketika itu menjadi moderator peluncuran buku tersebut, menyatakan bahwa sajak-sajak Frans Nadjira adalah sajak-sajak universal. Siapa pun, dari negara mana pun, asal mengerti bahasa Indonesia, akan dapat menimba sesuatu dari sajak-sajak Frans Nadjira.
Penyair Cok Sawitri, pada kesempatan itu, mengungkapkan pandangannya bahwa sajak-sajak Frans Nadjira dapat disandingakan dengan Sajak-sajak Rumi. Nuansa religius dan sufistik sangat kental dalam sajak-sajak Frans Nadjira.
Dalam kesempatan ini, saya mencoba menulis sebuah apresiasi sederhana untuk puisi berjudul “Sekali Waktu”.  “Sekali Waktu” adalah sebuah puisi yang terpilih sebagai puisi pembuka di dalam buku kumpulan puisi  Frans Nadjira—Catatan di Kertas Basah. 
Di dalam puisi berjudul “Sekali Waktu”, ada beberapa majas yang saya temukan.
Sekali waktu: majas litotes;
Sekali waktu kuharap sajak-sajakku (diulang tiga kali) : majas repetisi;
menjadi kolam sejuk bagi gerah siang: majas metafora;
Airnya beraroma wangi bunga dan Kecut keringat pekerja penyapu jalan: perbandingan sekaligus pertentangan yang boleh jadi paradoks;
Menjadi imamku di surau sederhana: personifikasi.
Majas-majas yang muncul dalam sajak ini menurut saya merupakan majas-majas yang berdaya-guna. Berdaya, dan berguna. Majas-majas di atas tidak menjadikan pembaca bingung (tidak membingungkan), sebaliknya, justru membantu pembaca untuk merasakan perasaan yang ingin diungkapkan oleh penyair dengan lebih tepat. Majas-majas yang terdapat dalam sajak ini, selain menawarkan imajinasi yang indah, mampu memberi nyawa pada sajak. Imajinasi yang indah akan merangsang nilai estetis yang terdapat dalam diri pembaca; nyawa sajak akan mewartakan kesadaran pembaca.
Majas Oksimora tidak saya temukan dalam sajak ini. Tetapi saya mencium aroma “ paradoks”.  Aroma “ paradoks’ itu menguar di dalam sebuah kalimat pada bait pertama puisi, demikian:  /Airnya beraroma wangi bunga/ dan kecut keringat pekerja penyapu jalan//. Kalimat ini mengisyaratkan sebuah tema besar “keindahan dan kemanusiaan” sedang diusung oleh Frans Nadjira melalui sajak-sajak yang terdapat di dalam buku itu.
Waktu telah berjalan sebelum aku bisa merangkak. Sesudah aku tidak lagi bisa bergerak, waktu akan terus berlari. Sebelum aku ada dan sesudah aku tiada, waktu telah ada dan akan tetap ada untuk selama-lamanya. Jadi mengapa aku musti menulis sajak? Tetapi mengapa aku tidak menulis sajak? Aku tidak musti menulis sajak, tetapi aku akan menulis sajak. Demi apa? Demi keindahan dan kemanusiaan. 
Nuansa Religius apakah terasa ada di dalam sajak  “Sekali Waktu” seperti yang telah diisyaratkan oleh Cok Sawitri? 
Mari kita baca, secara parafrase sederhana, bait ke tiga puisi ini, demikian: Sekali waktu, aku akan menulis sajak. Dan kuharap sajak-sajakku menjadi imamku. Aku tidak pandai sembahyang. Aku perlu seorang imam. Adakah seorang imam yang mengenali diriku melebihi diriku sendiri? Bagaimana mungkin seorang yang tidak mengenali diriku melebihi diriku sendiri dapat menuntunku menemukan arti kasih yang kucari? Mungkin ada seorang imam yang mengenali diriku melebihi diriku sendiri, tetapi aku merasa belum menemukannya. Aku mencintai kebenaran. Maka biarlah sajak-sajakku menjadi imamku, menjadi imamku di sebuah surau sederhana. Apakah aku lirik adalah seorang eksistensialis? Seorang eksistensialis bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Seorang eksistensialis adalah seorang yang sadar bahwa kebenaran bersifat relatif. Oleh karena itu, seorang eksistensialis sejati sangat menghormati masing-masing individu untuk menentukan pandangan, sikap, dan tindakan sesuai dengan apa yang menurutnya benar. Pandangan aku lirik ini tercemin juga, secara sangat jelas, di dalam sebuah cerpen karya Frans Nadjira yang berjudul Anggur. Mengandaikan aku lirik di dalam sajak ini adalah seorang eksistensialis sejati, dengan demikian sebuah sajak bukannya berasal dari kekosongan, melainkan berasal dari perenungan mendalam tentang kehidupan, yang diolah dengan segenap daya imajinasi.
Perasaan apakah kira-kira yang menyertai penciptaan sajak “Sekali Waktu” ? 
Bagaimanakah perasaanmu apabila tidak ada satu hal pun di dunia ini yang perlu kauharapkan? Jika hal itu terjadi pada saya, saya kira saya akan diliputi oleh kekosongan yang hampa. Tetapi saya menangkap perasaan yang sangat berlawanan dengan perasaan kosong dan hampa di dalam sajak ini. Si aku lirik sedang mengalami perasaan tenang yang diliputi oleh pengharapan dan kasih. Kita dapat melihat ketenangannya melalui bentuk puisi ini yang telah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sangat rapi. Bahasanya pun mengalir tenang dan lugas. Pengharapan yang kuat dapat dengan mudah kita temukan pada baris pertama pada setiap bait; /sekali waktu kuharap sajak-sajakku/. Baris itu diulangi sampai tiga kali. Dan ditutup dengan baris terakhir: /Sekali waktu akan kutulis sajak-sajak itu//. Sekali waktu, aku akan menulis sajak-sajak itu. Betapa bahagia rasanya aku menyadari bahwa ternyata, di saat ini, aku masih mempunyai harapan-harapan ini. Tanpa sesuatu yang dapat kuharapkan lagi, aku berhenti.
Bagaimanakah sikap penyair kepada pembaca?  
Nada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, patriotik, mencemooh, atau bagaimana? Nada yang telah saya tulis itu tidak saya rasakan dalam sajak ini. Yang saya rasakan adalah nuansa empati yang mendalam bagi kemanusiaan. Tidak menggurui, melainkan menyapa. /mengucapkan salam bagi siapa saja/ menuntunku menemukan arti kasih.
Amanat apa yang ada di dalam puisi ini? Mari kita baca secara parafrase bait dua.

Sekali waktu, aku akan menulis sajak. Dan kuharap sajak-sajakku menjadi peniup nafiri—sebuah terompet panjang yang biasa ditiup menjelang sebuah peristiwa agung. Ketika ada yang sedang terlelap dalam buaian dunia ini, aku ingin sajakku membangunkannya “Bangunlah! Bangunlah dari mimpi panjangmu. Di depan sana masih ada harapan. Mari kutuntun kau menyeberang ke sana. Melewati jalan-jalan gelap malam hari, melewati jalan-jalan siang hari yang tak tampak di mana ujungnya”

Selain ajakan untuk bangun, secara tersirat terungkap pendangan penyair terhadap sebuah karya seni pada umumnya, khususnya sajak. Boleh Anda berpandangan bahwa seni itu untuk seni. Tetapi, bagi aku lirik, seni itu untuk kemanusiaan dan, lebih luas lagi, kehidupan. Membaca sajak ini, saya merasa diajak untuk menulis sajak. Dan saya tergugah untuk menulis sajak, demi kemanusiaan. Kadang-kadang bolehlah cengeng, sebab cengeng itu sebuah tanda kemanusiaan juga. Pernahkah melihat hewan cengeng? hehe “Tapi masak cengeng terus, ayo kawan!”
SEKALI WAKTU
Frans Nadjira
Sekali waktu kuharap sajak-sajakku
Menjadi kolam sejuk bagi gerah siang.
Airnya beraroma wangi bunga dan
Kecut keringat pekerja penyapu jalan.
Sekali waktu kuharap sajak-sajakku
Meniup nafiri membangunkan yang lelap.
Mengundang makhluk-makhluk agung
Membimbing tangan penyeberang jalan.
Di jalan-jalan gelap waktu malam
Di jalan-jalan tak berujung ketika siang.
Sekali waktu kuharap sajak-sajakku
Menjadi imamku di surau sederhana.
Memberikan salam bagi siapa saja
Menuntunku menemukan arti kasih.
Sekali waktu akan kutulis sajak-sajak itu.


Setiap karya seni berbuah nilai intrinski dan nilai ekstrinsik. Baik nilai intrinsik maupun nilai ekstrinsik dapat memperkaya setiap orang yang, setelah menghadapi karya seni itu, dapat memetik buah-buah itu.



Salam
Sulis Gingsul AS

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s