SAPUTANGAN 1

Nenek itu menggunting ujung jarit lawas mega-mendung biru yang terkoyak pada sebuah sore kelabu yang telah lama berlalu tapi tak tersingkirkan, tersimpan di sepanjang uban. Bagian utuhnya dijahit keliling sambil mengenang kepul-kepul. Entah kepul-kepul kepergian entah kepul-kepul kepulangan.“Jadilah engkau saputangan baru yang kuat tapi lembut bagi pipi-pipi belia di sepanjang musim kehilangan.”

Ketika burung-burung berkicau dan seekor sapi melenguh dan sebuah siang berjalan seperti biasanya, nenek itu dikuburkan. Sendirian. Tidak bersama saputangan. Tidak, tidak bersama saputangan. Sapu tangan mega-mendung biru buatan nenek itu telah kutempelkan di sini, dan engkau sedang membacanya. Pada saputangan itu tertulis: Tak ada kesedihan yang tak terhapuskan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s