COVER, KATA PENGANTAR, DAN UCAPAN TERIMAKASIH

COVER Antologi Puisi Lima Penyair
ENSIKLOPEDI Pejalan Sunyi



KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMAKASIH
Jatijagat Kampung Puisi (JKP) merupakan sebuah komunitas sastra yang berada di Denpasar, Bali.  JKP memberikan ruang yang cukup luas dan nyaman bagi seniman dan pecinta seni untuk berkumpul, berdiskusi, berekspresi, dan saling berbagi. Di situlah, kami dipertemukan. Di situlah, kami belajar bersama sekaligus menjalin persahabatan.
Sebagai pendatang baru di jagat kesusasteraan (puisi), kami membutuhkan kompas, penunjuk arah di jalan kesusastraan. Dan sungguh beruntung, kami dipertemukan dengan seorang penyair yang mumpuni dalam  bidang perpuisian,  Frans Nadjira.
“Tidak ada senioritas di dunia seni. Ukuran keberhasilan seorang seniman adalah kematangan karya.” Demikianlah, kira-kira, yang kami rekam dari apa yang sering disampaikannya pada sebuah kesempatan. Dialah yang secara intensif mengajari kami cara menggali ke dalam diri. membekali trik-trik dalam berproses, memberikan rambu-rambu saat diperlukan, serta  memberi palu untuk memecah kebuntuan ide.
Unda adalah ibu bagi kami. Dengan senyum ketabahan, beliau sabar meladeni kerewelan anak-anaknya. Sekali waktu ia mengundang kami berlima untuk makan malam bersama. Di meja makan, kami duduk melingkar, memperbincangkan banyak hal. Salah satunya hasil perbincangan kami adalah keputusan untuk menerbitkan antologi puisi ini. Unda, seperti halnya ibu yang lain, selalu mendukung hal baik yang dilakukan anak-anaknya.
Sementara itu, Umbu Landu Paranggi tidak ketinggalan memberikan spirit kepada kami untuk terus berkarya. Melalui rubrik Apresiasi di Bali Post yang diasuhnya, Umbu memberikan cukup ruang bagi kami untuk mempublikasikan karya kami.
Dukungan-dukungan semacam itulah yang akhirnya memberikan semangat besar kepada kami untuk berkarya. Karya-karya yang berasal dari proses belajar bersama inilah yang kemudian kami kumpulkan menjadi antologi puisi lima penyair, Ensiklopedi Pejalan Sunyi.
Antologi ini merupakan tonggak awal kami berlima dalam menapaki jalan puisi. Sejauh mana kami masing-masing akan setia menapaki jalan ini, akan tampak pada suatu hari nanti, sejauh nanti kami masih menulis puisi. Puisi bukan sekedar tempat berteduh sementara ketika terik, atau segelas minuman segar ketika haus.  Puisi adalah sebuah jalan sunyi.
Terimakasih kepada Frans Nadjira, ayah kami; kepada Unda, bunda kami; kepada Umbu Landu Paranggi, guru kami. Dan terimakasih kepada Goenawan Monoharto, yang membantu penerbitan buku ini. Terimakasih juga kepada JKP, wadah kami; kepada Puisi, yang mempertemukan kami. Tanpa semua yang tersebut di atas, antologi puisi Ensiklopedi Pejalan Sunyi ini tidak akan sampai ke tangan pembaca, ke tangan Anda. Terimakasih juga kepada Anda yang sudi membaca buku ini. Semoga bermanfaat. Salam Puisi.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s