BARI


TERMENUNG

Aku sudah akan pernah mempunyai jejak
di hamparan pasir pantai yang perawan itu
Pulau-pulau bergeming. Tiada menunggu 
Sampan-sampan dari jauh membelah selat
mengangkut sekarung bulir-bulir harapan.



MELANGKAH

Ketika melangkah, aku tidak menoleh
Di belakang, segala jejak niscaya terhapus.
Mereka akan menjadi yang tak perlu tampak
Mereka akan pernah ada dan akan tetap ada
hinggap di sudut-sudut curam kening karang.


BERHENTI

Sesampai di rumahmu, aku merasa belum sampai. 
Meskipun telah banyak pulau yang telah kulewati
Di manakah sebenarnya perhentian terakhirku?
“Duduklah di sini” katamu sambil menatap senja
O, betapa damai sejenak berdiam dalam matamu.


SAKRAMEN

Secangkir tuak telah digunakan secara lain
Menjadi tanda, sekaligus sarana sederhana 
Untuk menghadirkan yang tak kelihatan
Mengungkapkan yang tak terucapkan.
Kepadamu sebungkus rahasia telah kuberi
Sebagai rahasia yang boleh kau kuak sendiri.


PENGAKUAN

Sebagian dari rahasiaku telah menjadi milikmu
Dan akan menjadi rahasia kita. Kau percaya?
Aku ini orang yang berdosa kepada engkau
bahkan sebelum menjumpai siapa-siapa.


PENERIMAAN

Tetapi kami mencintai mata pagimu 
melebihi bebayang yang tercipta malam lalu
Dan kami ingin menghormati perasaan-perasaanmu
Seperti kami pun menghormati perasaan-perasaan kami
Seperti jejak-jejak di hamparan pasir pantai yang perawan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s