Siapa Aku-Lirik, Hudan Hidayat

HUDAN HIDAYAT

(5) Siapa Aku-Lirik

Hingga petang ia masih duduk di pematang menggulung benang 
sambil bercakap-cakap dengan bayang-bayang tentang benang panjang.
Kesunyian Sulis Gingsul. Aku kembali memikirkan aku-lirik itu dengan membawa sebuah sajak yang indah, sajak sulis gingsul, sebuah sajak yang berbeda dengan sajak moh ghufron cholid, yang indah tapi tidak seimbang kalau kita pandangi dari sudut-sudut ukuran sebuah sajak.
Sulis Gingsul
Ikan dan Layang-Layang
Jika langit cerah, selalu kulihat ada seekor layang-layang ikan
berenang-renang di langit, bergerak-gerak kesana-kemari
–tinggi, tinggi sekali sampai di awan-awan.

Jika angin semakin kencang, hatinya bertambah girang.
ketika layang-layang ikan putus, bertepuk tanganlah ia
sambil mendoakan sebuah hal yang hampir mustahil
: semoga jatuh, tersangkut di kawat jemuran bajumu.

Hingga petang ia masih duduk di pematang
menggulung benang sambil bercakap-cakap
dengan bayang-bayang tentang benang panjang.
(sg)

   Rasa bahasa sajak Sulis ini, atau setiap kita membaca puisi-puisi sulis, seolah bahasa-bahasa yang pernah kita akrabi. Kita terkenang kepada sajak-sajak Sapardi, apakah sajak-sajak ini yang ada di rasa bahasa sajak sulis? Sulis mungkin pernah membaca Sapardi dan jiwa bahasa mereka bertemu – jiwa bahasa sapardi bertemu dengan siapa saat ia pertama kali membaca? Lintasan-lintasan ada itu mengingatkan kita, bahwa setiap ada pasti akan bertemu di lintasannya tanpa harus disesali, atau mencari-cari sebuah kata baru di selanya. baru atau sama tidak memiliki arti yang spesial di lintasan ada yang satu, mungkin dalam dan indah itu, bukan baru, yang masih kita harapkan dari balik bahasa. mencari-cari (pengucapan) baru tapi tersesat di makna repot juga, sebaliknya tanpa suatu kebaruan pun sajak, kalau ia berhasil, bisa begitu bermakna. bermaknakah sajak sulis ini? kita ingat lagi apa yang sedang kita “pursuit” ini.

   Ada bahasa di buku Jonathan Culler, The Pursuit of Signs, seperti ini: “Criticism is thus a pursuit of signs in a second sense: a pastime or activity that is in and of the sign.” Jadi kritik sastra itu mencari apa yang ada di balik tanda-tanda agar yang di balik tanda itu kita ketahui maknanya, yang berlapis-lapis itu – bukan dua, tapi tak terhingga. Ya boleh saja ilmu membatasi diri tapi lingkaran yang telah kita lihat dan tuliskan itu menunjukkan jenjang-jenjang tangga yang tak terhingga. Seolah kaki manusia yang naik ke langit, berjalan di cakrawala, lapis demi lapis langit, naik terus ke langit lewat udara yang menjadi pijakan kaki.

   Segalanya seakan-akan kebetulan untuk sebuah ada yang memang begitu: pagi ini kita menggayakan diri lewat kaki yang naik ke langit, tapi bertemu dengan ucapan layang-layang yang naik ke langit, selalu begitu perjumpaan bahasa itu: aku-lirik keluar jadi aku-manusia: mereka bertemu di dua aku dalam esai. Layang-layang menjadi tangan dan kaki yang naik ke langit – dibaca secara tanda, mereka itu adalah hatinya, hati si penyair, hati aku-lirik – saya kira hati semua manusia kalau langit itu kita turunkan lewat jalur tanda lain: ibaratan tentang mimpi yang jauh di sana. Jadi langit juga arah kita, arah bahasa ini, langit dalam rupa-rupa warnanya – bahwa bahasa itu lewat kata-nya kuasa menjadikan warna-warni langit ke dalam dirinya. Warna murung seperti sajak kisah kasih tak sampai Keats kemarin itu, ode on melancholy – orang bisa membaca sajak ini dalam english romantic poetry, antologi, edited by stanley appelbaum. Atau membacanya lewat google saja, begitu banyak bahan-bahan dari seantero dunia, seperti kesedihan saja bahan itu: keluar dari hati setiap manusia sedunia, bergerak-gerak masuk dan menyelinap jadi kesedihan kita sendiri. Kesedihan batin kecil-kecilan dari hidup sunyi di bahasa. Segalanya kecil-kecilan saja di lingkaran raksasa ada, ruang waktu kita yang kecil ada di dalamnya.

   “tiga baris hidup seuntai : betapa sunyi mata kaki kita itu”

   Mulai mengalami lagi perubahan letak aku lirik saat Sulis, mengubah-ngubah letak dirinya di dalam puis dari “aku” – “kulihat ada seekor layang-layang ikan” (seperti frasa dalam esai polemik dulu itu: “beginilah nasib seekor hh”) ke “ia” – “Jika angin semakin kencang, hatinya bertambah girang.” Siapakah yang mengubah letak “aku-lirik” di “aku-subjek” ini? Suliskah atau oleh kemandirian si ikan dan layang-layang, keduanya berembuk bahwa kita saling mengaksiskan diri demi sudut pandang akan si aku – diri mereka sendiri. Atau ia kita keluarkan seperti sudah sejak dari awal kita membelahnya lewat “tiga baris hidup seuntai”: aku-benda-ke-aku-manusia (penyair)ke-aku-bahasa: puisi ikan dan layang-layang. atau ia kita naikkan sedikit lagi: Aku-Tuhan yang sedang maujud ke tiap ciptaan-Nya yang mengambil waktu miliran tahun lewat evolusi.

   Kita tertarik dengan pergerakan itu, karena pergerakan seperti itulah yang kita maksudkan, seperti dari buku Culler tadi kita menjumpai bahasa: tanda bergerak ke makna dan makna bertingkat-tingkat wujudnya: makna bahasa dalam artian kata dan makna bahasa kedua dalam artian tanda, yang tak pernah berhenti sehingga angka dua (second) tersesat di dalam lingkaran tanda, ia mengalih dan ia mengalih, ia kuasa menjadi wujud tanda apa pun, seperti tanda di lingkaran hidup nyata yang kini pindah ke bahasa: hati tum yang mencari, sulis gingsul, ibunya sendiri yang telah pergi, terbang ke langit seakan, kiasan layang-layang yang dipursuitnya lewat mengajak ikan di lautan seraya mengubah langit jadi lautan air, atau lautan cakrawala dan ikan kini yang menjadi pasangan kiasan layang-layang. apa arti dua dunia yang ditumpukkan seperti itu? bahwa lautan di-dekat-kan ke langit, seraya pada saat yang sama langit, lewat layang-layang, di-dekat-kan ke lautan lewat ikan. mungkin sulis jenis dari lelaki ikan itu, yang terus menghidupkan nuraninya bertanya tentang betapa sunyi sepinya mata kakinya.

   “bentuk dalam puisi, bukan, bentuk di dalam puisi”

   Bahwa aku, yang di luar dengan nama “tiga hidup seuntai” (empat seuntai dengan diri-Nya, atau sebenarnya hanya “seuntai” alias Satu saja), kini menempati rumah barunya – bukan rumah terakhirnya, karena aku di dalam puisi ikan dan layang-layang sulis gingsul mau tak mau akan kembali ke daerah asalnya lagi. tapi kini kita menghadapinya, lewat jalan menghayatinya, mencari-cari ruang ruang bagaimana keindahan dan kiasan itu kini mengambil, menjadi bentuk dalam puisi. Bentuk “dalam” puisi, bukan bentuk “di dalam” puisi, sebagai serangkai penanda yang menyokong dirinya sebagai bahasa.

   “hukum di luar yang diubah itu, seperti kelak, hukum di dalam bahasa juga kena sentuhan perubahan, sepasang tangan menjadi sepasang sayap pesawat terbang”

   Apakah oleh mereka sama, satu, walau satu ini telah memecah dan menempuh dirinya sendiri, adalah sebuah keadaan di mana hukum yang mengendalikan mereka kini otomatis memecah juga, tidak satu lagi sehingga kita harus melihatnya dari hukum yang telah tumbuh di keadaan diri mereka kini, dan kini keadaannya adalah puisi, ruang bahasa yang kita sebut sebagai “aku lirik” yang kita bedakan dengan aku-penyair adalah sulis gingsul. Mulai melihat prinsip ada di luar, ruang diri kita manusia terbatas, misal kita hendak terbang ke langit, kita tidak mampu, tapi batas ini sekatnya diterobos saat tangan dan kaki kita yang mengepak-ngepak kini diberi bentuknya yang baru: adalah ilmu sehingga sayap kini menjadi kiasan tangan dan kaki yang mengepak-ngepak di cakrawala. Jadi ada yang sedang diubah di sini seperti ada yang sedang diubah di bahasa: kata ditatah menjadi tanda, kiasa, seperti kata yang sama ditatah di luar itu menjadi ilmu: sepasang kaki jadi sepasang sayap pesawat terbang, hal yang mungkin sehingga tubuh Sulis Gingsul kini kuasa melayang di awan, seperti prosa Afrilia Utami atau sajak Abdul Hadi, terbang, ke cakrawala, ke awan meninggalkan bumi mereka.

   Jadi hukum apa yang mengendalikan puisi sulis, ikan dan layang-layang, sebuah pertanyaan yang mengena juga ke buku puisi sapardi, hukum apa yang mengendalikan puisi puisi yang terhimpun dalam perahu kertas, ruang yang membuat kesenyapan hati sulis gingsul bertemu dengan kesenyapan dan betapa sunyi, kadang kita rasakan, sela sela dari pojok hati sapardi sebagai penyair. apakah kita pernah menuliskan, di esai ini karena kadang apa yang kita tuliskan kita tidak ingat lagi oleh kita ini menulis langsung dan tak ada hard copy di tangan, untuk jangan sampai ketelingsut, alur tulisan kita ini. tapi baiklah: sumbangan bahasa itu saat ia kuasa mengisolir hati si penyair ke dalam bahasa, sehingga di layang layang lelaki ikan ini misalnya, kita menjumpai kesenyapan itu dan itulah ruang tempat kita melakukan stop dalam hidup ini. kita berhenti di ruang puisi, untuk mengambil jarak dalam hidup nyata, tenggelam dalam bahasa untuk melakukan tubuh dan jiwa baru di luar sana. begitulah adanya puisi di antara fungsinya, ia merawat kita dengan cara menarik tubuh dan jiwa ke dalamnya. soalnya, puisi harus memiliki empasan emosi yang halus agar fungsi ini bisa ia tunaikan, dan alangkah halus hati penyair sulis gingsul bisa kita lihat dari hati bahasa puisinya ini, sehalus hati bahasa sapardi dan kini perkenankan kita membuat sebuah pernyataan: kalau memang kata segala galanya dalam puisi, mengapa si kata ini begitu miskin direnungi oleh para pemikir di negeri kita ini? seadanya saja disentuh dalam pemikiran tapi tidak di dalam puisi puisi para penyair yang menjadi dewa bagi kita di masa kini.

   Kita menyimak puisi mereka karena puisi mereka itu begitu digdayanya membawa pembaca ke ruang-ruang, saya sebutkan saja pitstop dalam hidup nyata kita ini. seperti ruang yang sedang kita perbandingan di antara ruang hati sulis dan ruang hati sapardi, apakah pernah kita menuliskan ini? penyair tentulah bertemu di bahasa dan bahasa pastilah tak terelakkan diseret/keseret ke mana-mana. semacam pujian kita ulurkan: alangkah mulia orang masa lalu saat puisinya dijadikan ukuran bagi puisi puisi orang masa kini. bahwa mereka menjadi tonggak, seperti sapardi menjadi mercu suar di antara semercu suar sedunia, kita memandangi langit langit yang jauh ini, mencoba-cobakan apa yang telah dicapai kita di masa kini dengan mereka. alangkah tinggi sumbangan bahasa masa lalu kalau dibentukkan ke dalam kerangka seperti yang kini kita pikirkan, bahwa tanpa mereka bagaimana kita hendak mengukur halusnya ikan dan layang layang sulis gingsul – nama kecil penyair ini tum: ia merindukan ibunya yang tak pernah ia jumpai di masa hidupnya – begitu sekian tahun lalu ia membocorkan siapa si tum, atau kini, sulis gingsul. tak ada urusan kerinduan itu dengan kehalusan puisinya, andai puisinya sendiri memang masih kasar seperti puisi moh ghufron cholid tadi – ada juga puisi kawan kita ini yang halus, dan begitulah bahasa: hari ini kita berhasil menuai isi hati, besok mungkin belum berhasil.

    Pitstip ini yang kini saya lihat, rumah kertas, atau telinga, “gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri”, kata awal buku perahu kertas itu atau seperti saya mengawali alinea ini: gila, tum sulis gingsul meminta saya masuk ke ikan dan layang layangnya yang sedang terbang tinggi. itulah buah dari puisi hanyalah bahasa seperti kalimat kita adalah bahasa, atau, terus menerus kita ulang: sekujur tubuh tum sulis gingsul seperti sekujur tubuh sapardi damono: isinya kata semua, kata senyap yang menempati ruang hati – nah, kata, bukan: ruang hati sulis dan sapardi. gila, kita diminta masuk ke ruang hati mereka. Sukar menandingi sapardi itu, tapi ajaib sulis tum gingsul melayang layang di selanya. kini kita mulai melihat ikan dan layang layang seperti yang kita katakan: mengatasi bentuk di “dalam lewat dalam”, untuk nama tiga seuntai hidup yang kita nyatakan itu, di tulisan “siapa aku lirik” ini.

   Tentu saja kita setuju dengan pernyataan Culler sepanjang, tak ada tangan yang kuasa membelenggu kita bergerak ke luar, ke lingkaran bahasa yang begitu menyeluruh itu. Culler dalam The Pursuit of Signs mencoba melihat tanda dalam hubungan dengan makna dalam bahasa, yang harus, katanya, kita uber itu. Melihatnya sebagai struktur, yang otonom mengatur dirinya sendiri, bahwa faktor-faktor dari luar, kini ditadah ke dalam struktur yang mengatur dirinya itu, dan pembaca, untuk merebut makna darinya, harus melihat ke sini.

   “Those old enough to have experienced the transition, its emergence from an earlier mode of literary study, speak of the sense of release, the new excitement breathed into literary education by the assumption that even the meanest student who lacked the scholarly information of his betters could make valid comments on the language and structure of the text. No longer was discussion and evaluation of a work something which had to wait upon acquisition of a respectable store of literary, historical, and bio-graphical information. No longer was the right to comment something earned by months in a library. Even the beginning student of literature was now confronted with poems, asked to read them closely, and required to discuss and evaluate their use of language and thematic organization. To make the experience of the text itself central to literary education and to relegate the accumulation of information about the text to an ancillary status was a move which gave the study of literature a new focus and justification, as well as promoting a more precise and relevant understanding of literary works. But what is good for literary education is not necessarily goodfor the study of literature in general, and those very aspects of the New Criticism which ensured its success in schools and universities determined its eventual limitations as a program for literary criticism. Commitment to the autonomy of the literary text, a fundamental article of faith with positive consequences for the teaching of literature, led to a commitment to interpretation as the proper activity of criticism. If the work is an autonomous whole, then it can and should be studied in and for itself, without reference to possible external contexts, whether biographical, historical, psychoanalytic, or sociological. Distinguishing what was external from what was internal, rejecting historical and causal explanation in favor of internal analysis, the New Criticism left readers and critics with only one recourse.They must interpret the poem; they must show how its various parts contribute to a thematic unity, for this thematic unity justifies the work’s status as autonomous artifact. When a poem is read in and for itself critics must fall back upon the one constant of their situation: there is a poem being read by a human being. Whatever is external to the poem, the fact that it addresses a human being means that what it says about human life isinternal to it. The critic’s task is to show how the interaction of the poem’s parts produces a complex and ontologically privileged statement about human experience.”

    Cerita Culler tentang salah satu pemikiran/aliran kritik sastra (new criticism), serta pengaruhnya dalam hubungan mahasiswa dalam sebuah pendidikan formal, memperlihatkan betapa orang telah memikirkan sastra ke dalam setiap arah yang mereka yakini, tetapi fakta manusia dan fakta bahasa, termasuk puisi, tak kuasa saling menutup walau palang otonomi karya sudah dipasang. Bahasa akan kembali ke acuannya lagi, bahkan melingkar menemui kehakikatan mereka sebagai ada yang saling terhubung, satu yang tengah memecah-mecah dirinya. Kita mengukur “dalam” lewat “luar” dan tapi dalam memang sebuah dunia otonom mengatur dirinya, menjadi struktur, inilah puisi saat ia terlibat hukum yang mengatur dirinya seperti sepasang kaki dan tangan di luar, tak bisa dibuat mengepak kecuali kita meminta batuan kepada pikiran untuk mengubah letak alam menjadi pesawat terbang, atau seperti letak kata yang kita ubah menjadi, signs-kata ke sign-tanda lewat jalan dirinya sebagai bahasa berkias, misalnya metafor atau metonimi.

    Maka oleh pergerakan “luar” masuk ke “dalam” dan kini apa yang di dalam, puisi, kita lihat lagi lewat bayangan imaji-imaji yang mengantarkan kita ke hidup nyata, bahwa di langit bermain keinginan lewat sepasang kata yang telah diubah menjadi tanda, adalah layang-layang dan ikan, di layang-layang dan ikan ini kita melihat keinginan itu bersembunyi, bahkan di balik ini, keinginan itu bersembunyi tapi mengapung keluar lewat, mula-mula tanda, lalu hasil dari struktur yang men-tanda, sampai kepada kita yang terpancing oleh permainan sepasang tanda di langit. Apa yang keluar dari dalam diri ini, sangatlah menarik andai kita melihat apa yang keluar dari puisi sebagai sebuah struktur – bangunan bahasa di mana kata dimulai dan kata di akhiri, sebagai puisi – puisi layang layang dan ikan, atau ikan dan layang layang ini sulis gingsul ini. Izinkan kita masuk ke sini lewat kata yang dibuat agak sedikit gila pada perahu kertas sapardi, kini kita mengalaminya langsung: “telinga” di perahu kertas mengubah diri: jadi ruang sadar pembaca, tempat si gila yang lain kini masuk dan mulai melakukan permainan sepasang tanda sebagai keinginannya dengan cara melemaprkan keinginan itu mengepak-ngepak di cakrawala.

   Perkembangan puisi “telinga” itu yang membuat puisi bertemu atau kembali lagi ke asalnya, tidak harus kembali ke Sapardi, karena permintaan aku lirik Sapardi itu universal: aku itu bisa siapa saja, termasuk, aku-kita-pembaca ini. Jadi “ia digoda masuk ke telinganya sendiri”, adalah sebuah kiasan tanda yang kuat sekali bahwa bahasa itu masuk ke dalam jiwa kita. Telinga telah menjadi Jiwa, atau jiwa kita diraba melalui telinga, yang mendengar bunyi atau sekali lagi jiwa kita diraba melalui mata yang membaca bunyi/lukisan, apakah ia itu kelak pikiran, atau perasaan, dari apa yang masuk oleh hadirnya tiga bait puisi Tum. Puisi adalah dunia permainan, tapi siapa yang berkata bahwa hidup juga, keadaan sebelum puisi, bukanlah dunia senda-gurau? Keuntungan mendefinisikan puisi atau sastra pada umumnya ke jalur “tiga seuntai hidup” (bahkan “empat seuntai”) itu di sini: tak suatu definisi yang menjadi penghambat kita untuk bermain, mempermainkan teks lewat langkah pertama, mengertinya sebagai sebuah struktur untuk diajak bermain dengan diri sebagai struktur yang lain.

   Jadi lewat “telinga” serta “mata” puisi Tum kita masuk dan kini, kata “telinga” Sapardi, ia masuk semata untuk “mendengar apa pun / secara terperinci”. “Setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis / yang mencipakan suara.” Hal ini diminta oleh puisi/penyair semata “agar bisa menafsirkan sebaik / baiknya apa pun yang dibisikkannya /kepada diri sendiri”. Apakah Sapardi dengan begini diam-diam kecewa dengan kritik sastra di negeri kita? Yang melintas dari luar melirik ke dalam untuk kemudian terbang, tidak, kata penyair, masuklah agar bisa menafsirkannya – menafsirkan puisi-puisi itu.

     Sudah lama sekali puisi ini, saya agak lupa apakah namanya ikan dan layang layang, atau layang layang ikan, atau bahkan yang lain. Naskah puisi ini saya ambil dengan esai di dunia maya, tempat di mana puisi ini menyelinap dalam esai yang panjang tapi kita tidak puas, saat pertama kali menuliskannya dulu. Kenyataannya, sebenarnya tidak ada ikan dari dalam lautan di puisi tum, hanya ada layang layang yang mungkin gambarnya adalah ikan, atau ada ikannya. tapi oleh judulnya (?), terutama oleh cara ikan itu diletakkan bersama layang layang, kita mulai melihatnya sebagai dunia jauh yang didekatkan. Kini kita berdiam di dalamnya – sesuai permintaan “telinga” Sapardi tadi, menyimaknya dan merasakan bunyi hati puisi ini.

    Mula-mula menikmati pergerakan bentuk puisi Sulis, melihat bagaimana si aku lirik muncul, hanya sebaris (baris pertama di bait pertama), lalu aku mulai menyapa dirinya dengan “ia”, bentuk ini yang mula-mula menarik hati, bertanya mengapa si aku itu tidak meneruskan riwayat dirinya sendiri tapi harus memakai “ia” – sedang ia itu dirinya sendiri, aku, atau ia itu bukan aku lagi alias ada dua orang yang diceritakan oleh puisi tum? Banyak kata yang biasa sekali, lagi pula apa istimewanya kata seperti “tapi” (di puisi Sutardji yang kita hayati betapa letak kata “tapi” adalah interupsi yang begitu hakiki), atau “jika” di puisi Tum ini, tapi kenyataannya lewat “jika” puisi ini dihidupkan. Membelah baris pertama ikan dan layang layang menjadi separuh baris yang utuh, kita menemukan ada dua aku lirik yang saling berhubungan, aku lirik pertama yang hidupnya sungguh dipengaruhi oleh kata “jika” (boleh ditukar dengan “andai” dan kita mulai menghitung kekuatan seandainya “andai” yang diturunkan menempati posisi “jika”. lamat-lamat kita mungkin akan merasakan “andai” itu agak feminin dibanding “jika” yang terasa kuat dan mengesankan maskulinitas kata dalam perbandingan).

   Lagi pula “jika” itu mempunyai sifat “mengulur”, yang berbeda dengan “tapi” yang menghentikan. Dengan “jika” itulah mula-mula seseorang mengulurkan (langit dibelah dari sisinya yang “negatif”, menjadi “positif” oleh langit cerah), dan kata “jika” itulah yang memperlihatkan kepada kita dimulainya harapan di puisi ini, harapan yang sungguh halus diceritakan, seolah-olah kita membaca “bukan” tapi “ia”, harapan itu, di akhir puisi, tapi kini kita sedang mencobakan bagaimana “jika” ini mengirimkan “tali” agar langit bisa didaki, dipanjat oleh “harapan” lewat benda-benda, objek yang terasa akrab sampai kita nyaris tak melihatnya, bahwa harapan, yang sedang ditumpangkan ke langit yang kini, puisi mulai mempermainkan kita, dengan menambah “seekor” untuk layang-layang sebab di ujungnya ada “ikan”.

   Hati manusia menumpang di dalam bahasa, dan sekali lagi menumpang di dalam alam atau bersama alam, bahasa itu naik, membawa (bagian-bagian) alam dan di sanalah hati manusia ditempatkan. Ia puisi tapi itulah muasal selengkapnya puisi: ada manusia penyair dengan masalahnya, ada dunia yang dilihat oleh penyair sebagai latar keberadaan dirinya, dan akhirnya ada bahasa sebagai alatnya – tapi bahasa ini sendiri, bagian langsung dari apa yang disebut dengan dunia – kedudukan bahasa itu seolah manusia, atau seakan langit, sama-sama isi dunia – dunia beserta isinya, ya kita ini, yang saling ter/berhubung sehingga, terus menerus kita katakan ini, tak suatu yang sanggup meminta hak hidupnya sendiri atas nama unik apa pun.

   Harapan diletakkan di kata “jika”, bukan dibuat berhenti lewat kata “tapi”, walau sangat lain hitungannya dari sudut puisi, tapi kita melihat betapa kata, yang bukan dimaksudkan untuk kecuali kedudukannya sebagai “penghubung” (“tapi” serta “jika” ini), dalam kenyataannya telah dipakai penyair dan menghidupkan puisi ke arah apa yang mereka inginkan. Di situlah kita melihat kemunculan pertama kali aku-lirik itu, membawa “jika” sebagai harapan yang diam-diam ia sembunyikan lewat keadaan hari (‘jika’ “langit cerah”), kata aku-lirik yang sekali ini saja kemunculannya, selanjutnya ia pindahkan dirinya ke “ia”. “Jika langit cerah”.

   Sering kita melampaui saja kata karena ingin cepat tahu arti – syukur tahu maknanya, dan karena itu kata lalu seolah burung yang basah, tak mengepak-ngepakkan sayapnya, tapi saat kita sungguh-sungguh menyimak mereka, burung basah ini pun mendadak kering dan bangkit memperlihatkan dirinya, seperti terlihatnya “jika” tadi dan kini, “selalu” yang keduanya mendahului kehadiran si aku. Agar cepat: “selalu” ini membawa ingatan kepada bentuk ini: “selalu aku mengingat wajahmu”. “Selalu” itulah samaran dari “jika”, suatu pendaman “harapan” yang diderita si aku tapi begitu halus dimainkan di dalam bahasa ini, bahwa “jika”, jika masih, sebab “selalu” aku menunggu. Tibalah si aku itu memperlihatkan dirinya lewat “seekor layang-layang ikan”.

   Apakah kita akan melampaui “seekor” ini, atau kita mencoba mengaitnya, agar terhubung dengan “ikan” sebab apakah lazim di udara kita berkata, lihat ada seekor layang layang, putus asa dan kesepian di cakrawala. Apa tidak: ibu tadi baru saja membeli seekor ikan, tum, untuk makan malam kita berdua. sebab ayah – nah, ayah yang tersudut dalam kosakata ibu dan anak, atau ibu yang terpojok dalam rimbun pohon yang sama, dan selalu anak, tapi baiklah tak ada ayah, juga ibu, di sini, tapi ikan tetap akan menjadi acuan seekor, “seekor ikan”, bukan “seekor layang layang”.

   Saat kita mencoba melihatnya dengan jalan membuatnya terhubung, maka “seekor” itu terkait dan membuat seakan-akan kita melihat ada “seekor ikan” yang menumpang di “sebuah layang-layang”, hal yang membuat latar seekor ikan, lautan, kini ikut membalik sehingga cakrawala jadi seakan penuh dengan air. Inilah sebuah dunia didekatkan, kemampuan baris puisi mengaduk ruang dan waktu, lautan seolah terentang di cakrawala lewat kata “berenang-renang”, “seekor” (ikan), layang-layang (terbang seakan harapan hati manusia), dan manakala kita bergerak mundur, kita akan bertemu dengan “selalu” yang pasrah itu, (selalu aku mengharapkanmu, seperti “jika” yang menunggu kita: andai langit cerah, andai hidup berubah. soal apakah isi yang diam diam disembunyikan oleh si aku, itulah kawasan imajinasi, ruang kita bisa mengisinya dengan ingatan akan apa saja.

   Lewat “seekor” dan “ikan”, layang-layang itu telah membuat persepsi kita sejenak berubah, dan akhirnya memang berubah saat kita sadar kualitas tanda yang dibawanya, bahwa itu adalah tanda, bukan semata layang-layang yang, bentuknya mungkin saja adalah ikan. Kini kita melihat dengan amat jelas aku-lirik di bait pertama ini, memang melakukan manipulasi (mungkin lewat insting, intuisi sulis, bukan lewat wacana, tapi memang begitulah wacana dalam ide: ia dibangun oleh penyair/sastrawannya lewat intuisi bukan lewat cara orang bermain catur: kuletakkan dulu jika lalu selalu, kuhiasi layang layangku dengan seekor serta ikan, agar ruang waktu bisa aku aduk, semacam itu. kita/teori/pikiran yang membaca alamatnya ini. di sinilah orang berbicara tentang talenta antara satu penyair dengan penyair lain, bahwa mereka yang berbakat itu, menulis lewat “hati”-nya bukan, lewat pikirannya, yang sering mengeringkan puisi sebagai daerah bahasa yang mustinya sarat emosi di idenya) dengan jalan menambahi layang-layang dengan “seekor” serta “ikan”, agar langit jadi berubah: ia mendekat ke hatinya – hati si aku lirik ini.

   Rima akan selalu datang dari pengulangan (repetisi), apakah ia diletakkan lewat suku kata (yang instingtif juga kita pakai, bukan kita mengatur suku kata saat letusan puisi itu keluar dari dalam jiwa penyair, hal yang mungkin apa bila kata telah sedemikian kita akrabi), atau pengulangan kata seperti “berenang-renang” menjadi “bergerak-gerak”, rima yang membawa maksud hati baris pertama, bahwa itulah lanskap dari ia langit yang didukung oleh “jika” dan “selalu”, harapan, kecerahan, dan wujudnya si harapan “seekor layang-layang ikan” itu “berenang-renang di langit”, “bergerak-gerak kesana-kemari”. apakah yang dibawanya? kesan pertama, dirinya sendiri – diri “seekor layang layang ikan” itu, walau kita telah tahu bahwa ia ditumpangi oleh hati si aku lirik, yang makin terlihat saat bait puisi ini bergerak ke bawah.

   Kini kita melihat si aku itu berubah: bukan aku lagi tapi “ia”. Setelah seolah orang tertegun menatap ke cakrawala, lalu melepas mimpi-mimpinya ke cakrawala, si aku tersadar dan mulailah ia mengubah letak “pesan”-nya. Ia kini mengambil jarak, membiarkan pesan itu berucap langsung lewat “ia” bukan dirinya lagi. Dua bait sisa (bait 2 dan bait 3) sulis begitu halus, nyaris tak teraba apa pesannya yang begitu nyata tapi oleh sifat kata yang dibawa ke dalam “tanda yang penuh”, kita seakan sukar menangkapnya. Penyair memainkan bahan awalnya yakni layang-layang, propertinya, (benang), tapi sajak bukanlah sebuah nafsu untuk mengatakan diri, melainkan hasrat yang terkendali, melalui jalur-jalur pengucapan yang abstrak dibuat ke yang bisa kita pahami, namun lewat tanda, bukan lewat pengucapan langsung dan karena itu terkesan halus. Dan karena itu pula mereka yang gemar puisi senang, karena tidak dihujani penyair lewat kata yang tak terbungkus – dibungkus tanda, mekar sebagai dunia makna lewat dunia kiasan, yang kita lihat kini, di bait kedua, yang kelak memuncak, di bait ketiga.

   Letusan yang sedemikian berkesan kita temui di baris-baris bait kedua, harapan yang dibawakan secara ganjil. Puisi mula-mula berputar ke “ia”, mengambil jarak, dan mulai melepas lewat jarak harapan-harapannya. “jika” itu masih terpakai, tapi mulai diubah isyaratnya – bukan “jika langit cerah” lagi, tapi “jika angin semakin kencang”, langit, dengan “layang-layang”, dan “ikan”, keberadaannya sendiri bagian dari jalan berputar yang ditempuh oleh si aku, dan begitulah puisi: manusia membelah diri di dalam bahasa, dan kini, puisi membelah diri di dalam kata agar si kata menjadi tanda – kata yang masih dipakai, tapi kata itu telah mengikat sebuah riwayat, ia jadi tanda, pelan-pelan bergerak ke arah alamat dari isi hati si aku. Ada apa orang berucap seperti itu? Sangat tidak biasa, seolah menahan hati. Langit masih dipakai sebagai kiasan, (mengapa tidak bumi dengan kedalamannya, pernah kita terbaca novel bertanya akan kontras langit – kata goenawan: langit terlepas, atau kata tum kini: langit ruang bagi aku yang merindukan lewat jalan seolah dunia kanak-kanak kita dulu: bertepuk tangan untuk sesuatu yang pantas. tapi pantaskah tepuk tangan itu agar si layang-layang ikan benangnya putus oleh angin kencang dan agar ia jatuh, tapi jatuh ke pangkuannya. Inilah isyarat tanda yang begitu halus seandainya kita menghubungkan bagian kedua ini dengan koherensinya – bagian ketiga, saat si aku merenung dan renungannya begitu penuh dengan tanda, seolah-olah orang bercakap dengan hatinya sendiri, yang diberi bentuk konret adalah bayang-bayang, dan yang dipercakapkan adalah benang – benang panjang, yang telah putus di langit itu. layang-layang pun tak jatuh ke pangkuan si aku. ia terbang, dibawa angin entah ke mana.

   Mengamati baris yang tak biasa itu, baris yang mengacaukan susunan kejadian di dalam puisi (tapi tak mengacaukan kalau kelak kita baca dari sudut yang lain), yang secara halus saling menopangkan. 1) seseorang bertepuk tangan, 2) orang yang sama berdoa, 3) harapan yang hampir mustahil, 4) semoga jatuh, 5) kawat jemuran baju. Itulah lintasan-lintasannya. Pelan-pelan mencoba merangkainya, ikut berpikir mengapa ada seseorang yang berharap “mainannya”, “seekor layang-layang ikan”, jatuh karena “angin semakin kencang” (dan) “hatinya bertambah girang”.

   Bahasa yang dipakai bukanlah diperuntukkan kepada layang-layang tapi kepada manusia, “sambil mendoakan sebuah hal yang hampir mustahil”, sehingga layang-layang hanyalah pengalih belaka bagi harapan ini, atau ia memindahkan harapannya ke layang-layang, dan kegiatan bermain layang-layang ini juga, dimanipulasikan: siapa sebenarnya yang bermain layang-layang? di bait pertama si aku, selalu melihat seekor layang-layang di langit. Kemudian ia membelah diri: aku digantikan ia, tapi seperti bait pertama (“selalu kulihat”), “ketika layang-layang ikan putus”, tidak memperlihatkan aku-ia yang bermain layang-layang, kesan bahwa aku-ia bermain layang-layang muncul di bait ketiga, ini pun lewat jejak orang sehabis bermain layang-layang (“menggulung benang”), alat untuk menaikkan layang-layang itu.

   Jadi bagaimana atau apa peristiwa yang terjadi di ketiga bait puisi ini. Kalau ia-aku yang bermain layang-layang, mengapa ia mengharapkan layangan itu jatuh, lewat irama bahasa yang dibuat riang dan mengesankan permainan dari dunia anak-anak, bertepuk tangan, lalu layang-layang jatuh; apa yang membuatnya berdoa “menjadi dewasa” dengan harapan, “semoga”, mendoakan, “sebuah hal yang hampir mustahil”.

    Seolah-olah puisi kehilangan koherensi dibaca seperti itu, kita pembaca diperdaya oleh sifat kata yang mengantarkan tapi mematahkan lagi. Tapi koherensi itu kembali saat kita memikirkannya dari sudut lain, sudut seseorang yang sama bermain layang-layang dan ia ada di sebuah tempat dengan tanpa layang-layang – hanya benang panjangnya saja dan bayang-bayang di seputar dirinya. Tapi di atas ada layang-layang ikan dan inilah yang dilihatnya, aku-ia yang bermain layang-layang ikan tanpa layang-layangnya. Hal yang memang disengaja sebagai peristiwa di dalam puisi, sebab justru (seekor) layang-layang ikan itulah yang membuat aku-ia ini memegangi benangnya dan berpikir tentang seekor layang-layang ikannya yang entah ke mana, dan karena itu ia berdoa, walau doa yang mustahil terjadi, tapi ia masih berdoa karena memang di situlah kegiatan pokoknya dari diri bermain seekor layang-layang ikan.

   Latar disiapkan di baris-baris di bait pertama itu, langit yang dihidupkan dengan harapan, dan doa yang dipanjatkan akan semoga ada layang layan ikan jatuh, seekor saja, tapi jatuh ke pelukannya yang mengambil daerah intim sekali: belakangan rumah, tempat ia menjemur bajunya. jatuh sebagai pakaiannya sendiri, miliknya sendiri, lemari di dalam rumahnya kini pindah ke halamannya. ruang-ruang dalam jiwanya kini dihidupkan dengan cara menghadirkan ruang belakang dari rumahnya, dan di sinilah ada kawat jemuran tempat pakaiannya dibuat kering, oleh matahari, oleh langit yang mengirimkan sinarnya menghidupkan kembali apa yang tak bisa dipakai karena basah, pakaian itu, atau kini, hati itu: tak wujud karena seekor-nya telah pergi, dan ia berharap agar langit yang sama dengan matahari yang sama membawa kepadanya kembali. apa yang dibawa itu? seekor layang layang ikan. tapi seekor layang layang ikan apa? puisi halus sekali menyembunyikan impiannya. bahkan di detik terakhirnya, di bait ketiga, apa yang halus makin dibuat semakin sublim dengan cara menyublimasikannya menjadi sesuatu yang tersisa padanya: benang dan bayang-bayang harapan itu sendiri.

Hingga petang ia masih duduk di pematang
menggulung benang sambil bercakap-cakap
dengan bayang-bayang tentang benang panjang.
(sg)

   Bahwa ada harapan yang sirna, pupus dan tak pernah kembali dan puisi membantu apa yang tak pernah kembali itu, suatu waktu, ruang, yang lama dan itulah dia: puisi tak mengatakan kepada kita pembaca, kapan si aku yang mengalih jadi ia itu duduk bermain layang-layang ikan hatinya, di lapangan itu, segalanya harus kita bayangkan lewat kerangka imaji yang kita imajinasikan, dan adalah mengharukan melihat si aku-ia ini, yang “merenungi” seekor layang-layang ikan”, sebuah kiasan untuk seseorang (kita manusia itu seekor hewan yang bertulang belakang tegak) yang tak kunjung disapanya kecuali lewat kehilangan yang telah ia ubah, sehingga nasib kini jadi agak tak terlihat kecuali jejaknya, berupa seekor layang-layang ikan yang hanya tersisa harapannya saja yakni benang serta bayang-bayang di dirinya. renungan puisi di sini, yang begitu kuat akan kepergian dan tak pernah kembali lagi.

   Tak bisa kita meluputkan diksi di dalam puisi, seperti “jika”, “kulihat”, “ada” – “jika langit cerah kulihat ada seekor layang layang ikan”, dan kini “hingga” yang membawa ingatan kita akan sifat kata yang dibawa oleh “hingga” ini – “hingga usiaku selesai” – atau hingga akhir masa kita, tak lagi kamu kulihat, “hingga” puisi ini berakhir, si aku-ia masih juga menyamarkan maksud hatinya akan siapa seekor itu, yang diubahnya jadi harapan di langit yang terus diulurkannya, “hingga petang”, katanya, sebuah keadaan hari, ruang waktu, di mana segalanya mengabur kembali diambil oleh malam hari. “Hingga petang” usaiku ini, kamu hanya serupa malam yang mengirimkan bayang-bayang saja sementara tanganku masih memegangi benang harapan agar langit cerah dan aku bisa melihat kamu di cakrawala.

   Orang tak menyerah dengan impiannya, si aku-ia ini juga, ia bermain dengan mimpinya tanpa bahasa kecuali kata yang melukiskan pesan yang dikandung oleh bahasa itu. Puisi yang baik selalu memakai tanda yang menjadi bungkus pesannya. Penyair tak berkata seolah novelis: oi istriku, aku sudah di tikungan ini dan kulihat seolah bayanganmu muncul dari balik tikungan dan tanganmu melambai kepadaku. Tidak begini puisi: tapi mengisap segalanya karena niat awalnya memang ia telah bertekad bermain tanda – bisa juga begini puisi, tergantung niatnya saja yang kita raba dari gerakan kata pertama dipakai di dalam puisi. Emosi kehilangan ini yang terasa sublim sekali.

   Kita jadi mengerti mengapa si aku itu mengambil jarak, tidak lagi memakai aku-saya tapi memindahkannya dirinya jadi ia-bayangannya, karena ia sungguh-sungguh merasa dirinya berjarak dengan impiannya, dan impian dijarakkan seperti itu (bukan aku lagi tapi ia), membuatnya kuasa menata segalanya dan masuk ke dalam renungannya. Atau baiklah kita katakan begini: si aku keluar dari tubuhnya dan tertegun melihat dirinya sendiri, seorang (sulis lelaki tapi entah siapa aku lirik dalam puisi ini, seorang yang membayangkan orang lain) dan ia “hingga petang” masih juga bermain dengan bayangannya. Hari memang baik hati: ia membantu puisi dengan ruangwaktu, petang hari, sebentar lagi malam, dan kita melihat si aku lirik – siapa aku lirik? – masih juga merenungi segala yang telah pergi dalam hidupnya – siapa yang telah pergi dalam hidupnya itu? – dengan cara “menggulung” kembali untuk siapa tahu besok bisa diulurkan kembali ke langit, harapannya, ya siapa tahu langit baik hati dan ia jatuhkan seekor manusia tepat ke dalam tubuhnya – pakaiannya yang ia buat jarak juga: jadi kawat jemuran, tempat nasibnya dijemur oleh matahari di situ, di belakang rumahnya, di belakang tubuhnya sebagai peristiwa di masa lalu tapi “hingga” kini masih juga mengejarnya.

   Tahukah kita bahwa ia-nasib-ia-Pencipta-ia-alam banyak berbicara dengan kita lewat tubuh kita sendiri: kau-lelaki atau kau-perempuan adalah pakaian bagiku aku-lelaki atau aku-perempuan, dan inilah yang diambil penyair walau mungkin ia tak memaksudkannya ke sini. kosakata tubuh sebagai pohon meniscayakan pakaian – pakaian ini di sana seolah puisi goenawan: langit terlepas, pakaian tersingkap dari tubuh adam, dan kini dipakai oleh sulis dalam kegiatan domestiknya: kawat tiang jemuran, tempat ia meletakkan pakaian basah alias harapan yang belum kunjung tiba. pakaian, itu perempuan sulis – mungkin isterinya, mungkin ibunya tum yang pernah di sebuah masa ia ceritakan kepada esais ini, bahwa ibuku pergi, mas, dan hingga kini tak pernah kembali lagi. ia pergi, hanya itu keterangan penyair sebagai sebuah biografi yang tak musti mendukung puisi ini sebagai teks dalam bahasa. dalam hati kita juga berkata: ibuku juga pergi mas sulis, kehidupan telah mengambilnya kembali.

   Ada di kitab itu (al quran) tentang lelaki dan perempuan adalah pakaian satu sama lain. kau pakaianku dan aku pakaianmu, untuk memetafora-memetonimia betapa dekat jiwa soulmate yang saling tak terpisahkan. kita tak perlu bertanya kepada penyairnya, sulis tum gingsul, siapa pakaiannya itu, cukup bertanya kepada puisinya dengan cara membuat setiap kata jadi intensif, siapa tahu kita memiliki jawaban siapa aku lirik kedua yang dirindukan oleh si penyair, atau si aku-ia dalam puisi ini.

Aku-Lirik Itu memperlihatkan dirinya, dalam lingkaran amat halus, yang dilihat penyair

bercakap-cakap
dengan bayang-bayang tentang benang panjang.

   Masih ingin kita melihat bagaimana kuasa kata itu mengambil seraya melepas, yang diambilnya adalah setiap peristiwa yang dilepas lewat kata, dan yang mengambilnya juga kata, yang kini menjadi tempat kembali bagi segala peristiwa yang sampai lewat bahasa (yang disusun oleh baris-baris pembentuk dua bait Tum Sulis), sebelum kata yang menjadi representasi dari peristiwa di masa lalu si penyair, yang kini mengalih jadi bahasa dan peristiwa di masa lalu aku yang bergerak jadi ia, bagaimana ia menjadi sebuah kata adalah “bayang-bayang”, dan si aku ini kini bercakap dengan bayang bayang, tapi bayang-bayang ini, dia yang abstrak, kini diberi bentuk konkretnya adalah benang panjang.

    Jadi bagaimana kata yang kita amati ini: dipegang di ujungnya, bayang-bayang, segera ia bergerak ke arah lain, benang panjang, untuk suatu harapan yang tak kenal menyerah, tapi untuk suatu peristiwa yang telah lama juga dialami, seolah masa lalu adalah bayang-bayang dan bentuknya di tangannya sendiri: benang panjang yang mengulur, mengambil lagi, melepas lagi, setiap yang tak nyata kini dibuat nyata, tapi hanya benang panjang saja, yang dimainkan oleh sepasang lengan si aku sambil bercakap-cakap dengan bayang-bayang.
Andai kita mengambil bayang bayang adalah produk matahari, maka boleh juga bayang bayang ini adalah kiasan dia yang bercakap secara tersembunyi dengan matahari, dan andai matahari ini kita tingkatkan lagi, maka produsen matahari ini adalah Ia yang kini dijadikannya bayang-bayang dengan benang panjang di tangannya, bercakap-cakap dengan Ia lewat segala rupa benda/objek di dalam dunia. Akhirnya puisi, si aku lirik ini, sedang bercakap dengan Ia lewat Ia yang mengalih jadi bayang bayang dan pokok percakapannya adalah benang panjang alias nasib yang begitu serupa seutas tali: panjang, tak kita ketahui di mana ujungnya.

   Nasib yang bergerak jadi benang panjang dan jejaknya adalah serupa bayang bayang. alangkah kuat kata menyimpan dirinya sebagai jejak penanda yang membawakan alamat bagi dunia yang begitu padu, saling terhubung, dan menyeluruh tanpa suatu yang dinafikan.
Penglihatan Culler yang mempertanyakan gagasan aliran new criticism itu mebawa sastra ke luar, ke arah konteks-konteksnya (sejarah, wacana lain), yang dibawakan oleh Fritjof Capra dalam bukunya tao of physics, lewat bab 10 Kesatuan Segala Sesuatu, sehingga kini fisika bergema ke sastra, sebelum dunia spiritual timur masuk ke orang seperti Capra atau pendahulunya, Heisenberg, kesatuan segala sesuatu, yang menjadi ciri mitis timur dan fisika modern juga, kata capra, atau kata kita kini bahwa itulah gejala yang tak suatu ada kuasa melepaskan dirinya dari kesalingterhubungan, muasal teks tersegel hanyalah ilusi dan ia harus diber ventilasi agar isi kuasa mengintip kembali ke asalnya. Dengan cara dunia menyeluruh begini kata tiba-tiba menjadi begitu lentur, ia tak memerlukan linguistik seperti “hukum anaforis” yang diproyeksikan Teeuw ke sajak Abdul Hadi Ombak Itulah, atau yang telah mengacaukan pandangan Nirwan dengan “derau” saat melihat bagian bagian Senja Di Pelabuhan Kecil Chairil Anwar, karena dunia menyeluruh itu, ventilasinya dibuka lewat imajinasi yang pandai menautkan segalanya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s