10 Sajak Yang Mengandung Ibu

PERIHAL MENGAPA AKU PERNAH
SUKA TIDAK SUKA PAKAI SEPATU

Ada yang menabur biji tomat
di tubuh ibu, gerabah rapuh itu.
Tanah adalah ibu yang baik, kata ibu

Ayah suka menyirami ibu dengan air hidup
Hidup berasal dari air, kata ibu, percayalah
Di matamu ada mata air yang cukup
Dan duka cuma debu kecil, percik api sesaat.

Pada gerimis yang tidak kau kenal
Namamu telah dibisikkan

Dalam tujuh hari, biji tomat telah jadi pohon
Betapa kenakalanmu seperti baru saja kemarin.
Dan kini ada yang sedang berkembang lonjong.
Kuncup mekar, merindukan hangat cahaya
Dengung kumbang dan liukan benang sari.

Umur tiga bulan pohon tomat berbuah ranum
Bukan ayah, bukan ibu. Siapa yang mewarnainya?
Setiap saat kau dan aku menjadi yang lain
Kita terkejut: Kita pun berubah warna
Tanpa sadar Tanpa kita mau.

Sebelum pergi, ibu mengukur telapak kakiku
Ibu berjanji membelikan aku sepatu sekolah.
Tapi Ibu tak pernah kembali. Dan aku percaya
Tanah adalah ibu yang baik, juga bagi ibuku.

Aku pun percaya, matamu mata air istimewa
Duka cuma seperti debu, tak ada apa-apanya
Luka-luka ber-iringan menuju samudra.
Sewaktu tanah melahirkan ibu-ibu baru.

…………………………………………………..

TEKO

Yang hidup, perlahan akan tumbuh sendiri
Yang hidup, perlahan akan kering sendiri.
Sama seperti ranting, tanggal tiba-tiba
Jatuh sendiri pula di pekarangannya.

Kakek mengumpulkannya, mengikatnya
Nenek menaruhnya dekat kuali, di samping tungku.
Demikianlah, bahkan ranting kering pun menunggu
Sama seperti mayat itu, menunggu waktu menjadi abu.

Mengapa tidak kaki kursi jati lapuk ini dijadikan kayu api
Meskipun kaki kursi ini pernah didesain secara khusus?
Bukan calon batu bara, bukan calon batu cincin
Di bawah kuali, semua kayu bernasib sama.

Nenekku buta puisi, sederhana sekali
Tidak tahu denpasar, tidak tahu parfum.
Ranting kering di pinggir tungku
Sedemikian girang menunggu.

“Hei, tiang bengkok berjalan lurus
Kemarilah, ini teh-Nya siap sedu”

…………………………………………………..

SORAK GELATIK
PAYUNG PATAH LUKA JALAN

Es-es batu yang berjejal di gelas soda gembira
tidak merasa betapa beku tubuh mereka itu
Dan betapa dingin tatapan sebutir hujan
kepada payung patah yang berteduh
di sebatang pohon kehabisan daun itu.

Api yang habis melahap puntung-puntung
tidak merasa betapa liar tubuh mereka itu
Dan betapa panas diam luka trotoar
kepada biru layu yang bersembunyi
di sepotong langit renggang mendung itu.

Tetapi aku merasa.
Betapa sejuknya cukup, dan hangatnya pas
Sepasang pemulung renta bergandengan tangan
Berjalan di bawah payung patah di bawah hujan.

“Awas…hiyak!”
Mereka berhasil melangkahi luka trotoar
dengan kekuatan yang tersisa di senja senyap.
Ketika itu seekor gelatik mengerami tiga butir telur
Jauh dari mini market yang menawarkan free wifi.
Apakah engkau juga merasa?
Di mata saya
Payung patah itu tampak bangga
Luka trotoar itu kelihatan bersyukur
Bahkan seperti saya dengar telur gelatik bersorak
Dari dalam liang pohon itu: Aku ingin aku ingin.
Aku ingin bersama-sama seperti mereka,
Bersama engkau.

…………………………………………………..

SIUL MANYAR

Sebatang ranting kering tanggal tiba-tiba
dari dahan pohon peneduh yang kehabisan daun.
Seekor manyar panik berputar-putar, lalu tertegun
Tanpa terpelanting, sebuah sarang jatuh ke tanah

terguling di rumput kering, Cairan lengket mengalir bisu
Bayang-bayang merambat seperti siput, menghampirimu
Tapi seekor manyar tidak tahan tidak hinggap di ranting
Dan seekor manyar tidak tahan tidak bersiul.

Yang tanggal, tanggalah Yang jatuh, jatuhlah
Yang pecah, pecahlah Yang tumbuh, tumbuhlah
Yang naik, naiklah Yang bersatu, satulah.
Dan aku bersiul seperti kemarin, seperti biasanya

Di sini aku hinggap Di ranting yang belum patah.
Di sini aku hinggap Di ranting yang masih basah

…………………………………………………..

18 KATA DARI KITA

“Sungguh indah sederhana lukamu hari ini!”
Kakekku berkelakar mengelus perihku di atas tikar
Setelah kepiting sungaimu nyapit ibu jari kecilku.

Kerikil gunung kokohmu tersesat di kota rapuhku.
Sering tergesa aku berlalu, tak tahu mengucap rindu
kepada semua yang sabar mencintaiku secara bisu.

“Sudahkah imajinasi menyelamatkanmu dari waktu?”
Jerit androidku yang bercahaya dari waktu ke waktu.
Kulihat gambar kepiting sungai nampak kian gurih
merayu kekasihku yang kian canggih.

O langit bisu yang tak pernah putih, berilah kami
lirih rintikmu . Agar telingaku jauh dari derit rindu
Supaya mataku bersih dari terpaan debu.

…………………………………………………..

MERAH MUDA AIR BUGENFIL

Bocah itu menimba air sumur berlumut tua
Dituangnya ke pengaron yang coklat retak
seperti hatinya

Dua genggam bugenfil merah dalam air
Diremas-remas, disaring, dituang
ke kantong plastik yang bening berbercak
seperti rindunya

Seplastik air merah belia diangkat tinggi-tinggi
Terperangkap di sana cahaya matahari pagi

‘Cahaya matahari ibu lebih indah dari ini?’
ia bertanya hanya kepada langit itu
yang jauh ngelangut

Kepada sepasang mata yang
aduh gusti, jauhnya
Ingin ditunjukkannya seplastik cahaya
‘Ini cahaya untukmu kembali’

Segerombol kelam mengunjunginya
Ketika ia menunduk
Berkilau-kilau air yang hampir tergelincir
Masih bertahan. Masih menggantung
Turut berkabung, di sudut-sudut mendung

(Diterbitkan di Bali Post edisi Minggu 24 Mei 2015)

…………………………………………………..

CELANA BARU
yang ada senternya

Ibu merawat sedap malam pertama
yang kautanam untuk kautinggalkan.
Kata ibu, kau mencari yang lebih bunga
untuk mempercantik beranda rumah kita.

Pada malam akhir tahun kami jaga nyala lilin
dari angin baik, yang menawarkan gelap dingin.
Cukup terang kecil bagi mata yang terlatih
melihat yang memudar di pigura sedih.

Terompet tahun baru jadi wakil kami
Sebab kami ini orang yang tidak pandai
berdoa ‘agar kelak kebahagiaanmu nanti
sama dengan kebahagiaan kami’

Tahun baru dan ibu dandan lebih cantik
Pagi sekali kami tamasya ke kotalama
Bergandengan, bergantian nenteng hadiah
untukmu. Celana baru, yang ada senternya.

Ibu sedang berdiri di bawah matahari
menjemur satu setel kuyup yang serasi:
Baju tahun baru kami melambai-lambai
mengapit celana tahun barumu
yang menyala.

Dari dalam aku memandang
Kau hidup sekali di luar rumah
Dan mata ibu secantik jendela kaca
yang tabah buram di musim hujan.

‘Bersabarlah, Nak

Tahun sedang berganti celana’

…………………………………………………..

KARCIS

Bocah pipi tomat ranum mendekap karcis
Yang nyaris gembira di sekaten terakhir.
karcis karcis terjerembap di alun-alun
Tertelungkup di atas rumput berembun.

Berapa lama naik delman istimewa
Harapan dan duka akan pecah juga.
Seperti mendung jatuh berderai
Menyiram segala yang belum usai.

‘Akan kita apakan karcis ini, Ibu?’
‘Kita jadikan judul puisi apa, Nak?’

Si bocah mengusap pipi dengan karcis
Yang sobek berkat basuhan hujan.

‘Kelak kau sendiri tukang karcis baru
Karcis gratis yang tahan segala alufiru’

…………………………………………………..

MEONG

Kucing kecil, entah dari mana, datang ke tempat tinggal kami. Kucing kecil berbulu hitam-putih itu tidak kami beri nama.
Kami tidak tahu bagaimana memberi nama yang baik untuk seekor kucing. Kami juga tidak tahu bagaimana cara mendidik kucing supaya menjadi kucing dewasa layaknya kucing-kucing yg dididik oleh seekor ibu kucing. Kami hanya memberinya makan, itu pun makanan manusia, dan menurut aturan makan manusia: tiga kali sehari. Hari-demi hari kucing itu semakin dewasa, dan semakin berkurang kelucuannya.

Selama beberapa minggu, kucing itu pergi. Pulang-pulang perutnya buncit. Rupanya dia hamil. Kucing tidak perlu bermoral. Karena hal ini, kami merasa gembira.
Pada suatu pagi yang cerah dan hangat, saya melihat tiga ekor bayi kucing sedang berjemur di halaman kami yg penuh dengan kerikil. Tiga kucing bayi yang lucu. Berhari-hari saya perhatikan, ternyata pada setiap pagi, ketika langit cerah dan mulai hangat, bayi-bayi kucing itu digendong (dengan cara digigit lehernya) oleh ibunya, satu per satu. Dari loteng dibawa turun ke halaman.
Dengan tekun ibu kucing menjilati bayi-bayi kucing itu, satu per satu. Setelah itu mereka berjemur bersama. Ibu kucing berbaring; ketiga anaknya berebut putting susu. Setelah matahari sudaha gak panas, ibu kucing itu membawa anak-anaknya kembali ke loteng. Satu per satu, tentunya. Semakin besar, anak-anak kucing itu semakin sering dibawa turun, bermain di halaman, hingga lama-lama mereka bisa turun dan naik sendiri.
Sekarang tiga anak kucing itu sudah dewasa. Mereka semua telah pergi. Ibu kucing juga telah pergi. Dan saya tidak bertanya kepada kucing siapakah yang mendidik seekor anak kucing yang tidak dirawat oleh ibu kucing supaya menjadi seekor ibu kucing
yang mengetahui apa-apa yang perlu dilakukan oleh seekor ibu kucing kepada bayi-bayinya. Saya tahu kucing akan menjawab dengan satu kata saja: “Meong!”

(Diterbitkan di Bali Post Minggu, 9 Agustus 2015)

…………………………………………………..

MANYAR BARU

Waktu, kehangatanmu, ataukah geliatku
Yang memecahkan cangkang telurmu?

Waktu, pengorbananmu, ataukah takdirku sendiri
Yang menumbuhkan bulu-bulu di sayap sepi?

Waktu, hujan, ataukah kesombongan kita
Yang mencipta dingin-perih di malam duka?

Ah, cinta adalah kenyataan
Yang ada di luar pertanyaan dan jawaban.

Nyatanya aku bisa terbang tepat waktu
Sebab ibu meninggalkan aku tepat waktu.

Dan hari ini adalah hari ini
Dahan tumbuh hari demi hari pun demi hari ini.

Maka kubikin sarang kecil dari rumput kering
Pada hari ini, di dahanmu yang digoyang-goyang angin.

…………………………………………………..

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s