Kicau Nuri Di Akasia

Kepada Unda

Di hadapan ibu saya sendiri
belum pernah saya menyebut ‘ibu’.
Ibu saya pergi sebelum saya mengenal kata
sebelum saya bisa mengucapkan apa…apa.
Ibu saya pernah pulang. Satu kali.
Tapi saya memanggilnya “kamu”.
Seringkali karena keadaan kami
saya perlu berpura-pura tidak tahu.
Benar-benar saya tidak mengerti 
seperti apa perih hati ibu 
tersayat kata ‘kamu’ 
Sebelum ibu saya pergi lagi
ibu saya mengukur telapak kaki saya.
Ibu saya pergi untuk belikan saya sepatu sekolah.
Tapi Ibu saya tak pernah kembali. Dan saya percaya
Tanah adalah ibu yang baik, juga bagi ibu saya.
Kakek saya punya sumur tua
Sejak kecil saya belajar menimba kesedihan
Dua genggam bugenfil merah saya petik 
di pinggir sumur. Tanpa putus asa
mengharap sebuah kedatangan.
Saya meremas dalam air
Menuang dalam plastik bening
kesedihan saya. Seplastik air merah belia.
Saya mengangkat harapan tinggi-tinggi.
Terperangkap di sana cahaya matahari pagi.
‘Cahaya matahari ibu lebih indah dari ini?’
Sejak kecil saya bebas bertanya 
kepada langit yang diam. Ngelangut
kepada yang jauh.         
Pada segerombol mendung kelam menahan
Berkilau-kilau air yang hampir tergelincir 
masih bertahan. Menggantung dingin saya
di sudut-sudut mendung.
Yang hidup, perlahan akan tumbuh sendiri
Yang hidup, perlahan akan kering sendiri.
Sama seperti ranting, tanggal tiba-tiba
Jatuh sendiri pula di pekarangannya.
Kakek mengumpulkannya, mengikatnya
Nenek menaruhnya di samping tungku.
Ranting-ranting kering itu menjadi teman saya
sebelum nenek memasukkannya ke dalam tungku.
Kakek dan Nenek saya pergi juga akhirnya
Pergi ke dalam tanah. Saya orang percaya: 
Tanah adalah ibu yang baik.
Baik bagi nenek saya, baik bagi kakek saya
Baik baik bagi ibu saya, baik bagi bapak saya
Baik bagi saya, baik bagi kita semua.
Es batu yang berjejal di gelas soda gembira
Tak hirau betapa dingin tatapan sebutir hujan
kepada payung patah yang berteduh
di sebatang pohon kehabisan daun itu.
Tetapi saya merasa
Betapa sejuknya cukup, dan hangatnya pas
Membayangkan kalian bergandengan tangan
Berlindung di bawah payung patah di bawah hujan.
Saya ingin bersama-sama seperti kalian
Benyanyi sama-sama seperti nuri di akasia.
Di sini kami hinggap Di ranting yang belum patah.
Di sini kami hinggap Di ranting yang masih basah.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s