TEKO

TEKO

Yang hidup, perlahan akan tumbuh sendiri
Yang hidup, perlahan akan kering sendiri.
Sama seperti ranting, tanggal tiba-tiba
Jatuh sendiri pula di pekarangannya.

Kakek mengumpulkannya, mengikatnya
Nenek menaruhnya dekat kuali, di samping tungku.
Demikianlah, bahkan ranting kering pun menunggu
Sama seperti mayat itu, menunggu waktu menjadi abu.

Mengapa tidak kaki kursi jati lapuk ini dijadikan kayu api
Meskipun kaki kursi ini pernah didesain secara khusus?
Bukan calon batu bara, bukan calon batu cincin
Di bawah kuali, semua kayu bernasib sama.

Nenekku buta puisi, sederhana sekali
Tidak tahu denpasar, tidak tahu parfum.
Ranting kering di pinggir tungku
Sedemikian girang menunggu.

“Hei, tiang bengkok berjalan lurus
Kemarilah, ini teh-Nya siap sedu”

MISALKAN SONETA
TEKO

Kakek mengumpulkan ranting-ranting yang tanggal
Nenek menaruhnya dekat kuali, di samping tungku.
Demikianlah, bahkan ranting kering pun menunggu
Api menjadikannya abu, tanpa ada yang tertinggal

Mengapa tidak kaki kursi jati lapuk ini dijadikan kayu api
Meskipun kaki kursi ini pernah didesain secara khusus?
Bukan calon batu bara, bukan calon kapur barus
Kayu-kayu api bernasib sama di bawah kuali

Nenekku buta puisi, sederhana sekali
Tidak tahu paris, tidak tahu parfum.
Ranting kering di pinggir tungku berapi

Sedemikian girang menunggu.
“Hei, tiang bengkok berjalan lurus
Kemarilah, ini teh-Nya siap sedu”

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s