SORAK TELUR GELATIK

SORAK TELUR GELATIK
Es batu yang telah mencair di gelas itu
Tak merasa betapa padat tubuh mereka 
Sewaktu beku. Dan betapa lembut dingin 
butir-butir hujan menyentuh payung patah 
Yang berteduh di bawah pohon kehabisan daun.
Api yang mati sehabis melahap puntung 
tidak merasa betapa liar tubuh mereka 
Sewaktu hidup. Dan betapa tajam panas 
luka trotoar menganga pada lembayung layu
yang sembunyi di langit renggang mendung.
Tetapi aku ini hidup, dan terlanjur punya perasaan
Apakah aku sudah gila, mengapa aku merasa begini
Betapa sejuknya cukup, dan hangatnya pas
Sepasang pemulung renta berjalan menerobos hujan
Di bawah payung patah bergandengan tangan.
         “Siap … Hiyak!”
Mereka melompati luka trotoar yang menganga
Yang dipenuhi genangan keruh, sambil tertawa
Sewaktu seekor gelatik mengerami telur-telur.
Di bawah warna yang tersisa di senja senyap.
Apakah aku sudah gila
Mengapa payung patah itu tampak bangga
Mengapa luka trotoar tercium harum
Mengapa telur gelatik kudengar bersorak
Dari dalam liang pohon itu:  
       Cita-cita kami sederhana
       Terlahir dengan selamat
       Mengepakkan sayap dan hinggap
                                     hingga senyap

 

       Bersama engkau.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s