Perihal Mengapa Aku Pernah Suka Tidak Suka Pakai Sepatu

Ada yang menabur biji tomat
di tubuh ibu, gerabah rapuh itu.
Tanah adalah ibu yang baik, kata ibu

Ayah suka menyirami ibu dengan air hidup
Hidup berasal dari air,  kata ibu, percayalah
Matamu mata air istimewa
Sehingga duka cuma seperti debu
Yang ada percik apinya.

Pada gerimis  yang tidak kau kenal
Namamu telah dibisikkan

Dalam tujuh hari, biji tomat telah jadi pohon
Betapa kenakalanmu seperti baru saja kemarin.
Dan kini ada yang sedang berkembang lonjong.
Kuncup mekar, merindukan hangat cahaya
Dengung kumbang dan liukan benang sari.

Umur tiga bulan pohon tomat  berbuah ranum
Bukan ayah, bukan ibu. Siapa yang mewarnainya?
Setiap saat  kau dan aku menjadi yang lain
Kita terkejut: Kita pun berubah warna
Tanpa sadar      Tanpa kita mau.

Sebelum pergi, ibu mengukur telapak kakiku
Ibu berjanji membelikan aku sepatu sekolah.
Tapi Ibu tak pernah kembali. Dan aku percaya
Tanah adalah ibu yang baik, juga bagi ibuku.

Aku pun percaya, matamu mata air istimewa
Duka cuma seperti debu, tak ada apa-apanya
Luka-luka ber-iringan menuju samudra.
Sewaktu tanah melahirkan ibu-ibu baru.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s