Lima Sajak Sulis Gingsul AS di Bali Post Edisi Minggu 29 Maret 2015

TITIK TERANG

Sebaiknya kuakhiri sajakku yang bertele-tele
Kepada yang jauh itu, dengan sebuah titik
Tapi belum kutemukan sebuah titik kecil
Yang sungguh bulat dan bercahaya

~~~

ALIRAN

Sepotong bambu di atas kolam itu, yang oleh karenanya air kolam kecil itu menjadi gemericik, tidak pernah menyimpulkan bahwa rindu selalu mengalir dari masa lalu ke masa yang akan segera berlalu.

~~~

TUJUH LARIK SAJAK MATAMU

Matamu jendela pagi rumahku dirundung malam
Matamu celah cahaya dukaku mekar di kegelapan
Matamu mata air  ikanku menggelepar kekeringan
Matamu air mata lukaku butuh pembasuhan
Matamu sejuk rindang rinduku kepayahan
Matamu malam sunyi mimpiku kesepian

Matamu jendela celah mata air sejuk malam.

~~~

SEBATANG KARA

Ketika pergi, sebatangkara ingat tak mengunci pintu.
Ketika kembali, seseorang telah menguncinya.

~~~

WAKTU

bajuku yang berlengan itu tak bisa memeluk engkau
apalagi bajuku yang tak berlengan ini.
baju engkau yang berlengan ini tak bisa memeluk aku
apalagi aku, meskipun aku ini berlengan.

~~~

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s