APON DAN SAMSUL

Saya yakin, seekor kucing diberi insting melebihi manusia dalam hal menebak manusia mana yang penyayang kucing, manusia mana yang bukan penyayang kucing,  dan  manusia seperti apa yang pembenci kucing.
Ketika itu, kira-kira pukul setengah enam sore, kami ber-tujuh sedang duduk-duduk berjajar di sebuah bangku kayu panjang yang berada di halaman depan gudang.
Langit masih terang dan birunya cerah. Seperti biasa, kami membicarakan keburukan orang lain, bukan keburukan diri masing-masing.
Diskusi perihal keburukan orang lain itu tiba-tiba terhenti berkat sekor kucing kecil  berbulu poleng. Panjangnya kira-kira baru sejengkal telapak tangan orang dewasa.
Entah oleh sebab apa, mungkin sudah takdir, kucing kurus itu menerobos masuk melalu sela-sela pagar besi pintu gerbang gudang untuk menemukan Samsul.
Barangkali, seorang manusia telah membuangnya. Sebab, saya yakin bahwa seekor ibu kucing tidak diberi insting alamiah untuk menelantarkan anak-anaknya.
Kucing itu berjalan pelan-pelan melewati kaki beberapa orang, melewati kaki saya, lalu berhenti di kaki Samsul.
Kucing itu menggosok-gosokkan kepala dan badannya ke kedua kaki Samsul.
“Wah, pasti kucingnya perempuan” kelakar seorang tukang yang gemar meledek Samsul yang jomblo.
Samsul cuma tersenyum, lalu mengangkat kucing kecil itu dengan tangan kirinya, mengangkat ekornya dengan tangan kanannya, lalu sambil nyengir ia berkata,” Iya, perempuan!”
Kami serentak menertawakan Samsul. Dan melontarkan ejek-ejekan berikutnya adalah sudah pasti hobi kami, bakat kami.
“Kok tahu?” Tanya saya keheranan. “Ini lho” Samsul menunjukkan kapada saya, “ Ada dua lubang kan? Kalau lubangnya berjauhan, kucing ini pasti laki-laki. Kalau lubangnya itu sedekat ini maka… perempuan.”
“Betina, Sul!” kata si tukang ngledek. Geeer, kami menertawainya lagi. Menertawakan orang lain memang sangat enak rasanya.
Samsul berdiri lalu bergegas keluar. Sekembalinya entah dapat dari mana, dikeluarkannya sebungkus roti dari saku celananya.
 Ia berikan roti itu kepada kucing kecil itu. Secuil kecil. Kucing kecil itu segera mengendus-endus sebentar, tapi tidak mau makan.
“Manja amat” kata Samsul seraya pergi ke dapur.  Ternyata ia mengambil sepotong ikan asin goreng, mengunyahnya, bersama roti itu; lalu ia memberikan hasil kunyahanya itu kepada kucing kecil itu.
 “Kucing ini lapar sekali. Kasihan!” Kucing itu melahap roti campur ikan asin itu sampai amblas.
Melihat sebuah hal baik, kami tidak lantas memuji. Secara diam-diam, kami kaget. Samsul ternyata penyayang. Kenapa penyayang ini jomblo?
Malam pun datang, membawakan selimut hitam yang baru bagi kami, bagi Samsul, dan bagi kucing kecil itu, dan bagi Anda juga tentunya. Kalimat barusan tidak punya maksud menyamakan derajad Anda dengan kami, dengan Samsul, apalagi dengan kucing. Maksudnya, malam tidak pernah membeda-bedakan. He he. Apa maksudnya? Itu!
Samsul menamai kucing kecil itu Apon.
Saya yakin bahwa Samsul tidak tahu bagaimana cara mendidik kucing. Maksud saya, mendidik Apon supaya menjadi kucing dewasa yang berperikucingan, layaknya kucing-kucing yg dididik oleh ibu kucing.
Tetapi Samsul cukup pandai memberi makan kucing dengan menu “disamakan” manusia. Tiga kali sehari.
Hari-demi hari, kucing itu semakin sehat dan tumbuh dewasa. Berbarengan dengan itu, semakin berkuranglah kelucuannya. Waktu kecil, Anda mungkin lucu juga. Anda suka atau tidak suka, saya doakan Anda “semoga lucu”.
Samsul menamai kucing kecil itu Apon. Anda masih ingat kan? Syukurlah, jika demikian, anggap saja ini semacam repetisi yang tidak tepat sasaran.
Setelah beberapa waktu, barulah kami menyadari bahwa kucing kami pulang dengan perut buncit.
Rupanya dia hamil tua. Dasar kucing tidak tidak pernah makan bangku sekolahan. Itu bikin Samsul nampak lebih semangat memberi makan.
Pada suatu pagi cerah yang hangat, saya melihat tiga ekor bayi kucing sedang berjemur di halaman gudang kami yg penuh dengan kerikil. Berjemur bersama-sama. Seperti turis-turis yang kaya, kan?
Tiga kucing bayi yang imut dan lucu: dua kucing bayi berbulu mirip dengan ibunya; satu ekor yang lain berbulu lain, mungkin mirip dengan bapaknya.
“Yang itu mirip kamu, Sul, pendiam! Hahaha!” Mendengar itu Samsul ikut tertawa.
Berhari-hari saya perhatikan, ternyata pada setiap pagi, ketika langit cerah dan mulai hangat, bayi-bayi kucing itu digendong–dengan cara digigit lehernya. Dari loteng dibawa turun ke halaman. Oleh ibunya. Bukan oleh Samsul.
Dengan tekun, Apon menjilati bayi-bayinya, satu per satu. Setelah itu mereka berjemur bersama.
Apon berbaring; ketiga anaknya rebutan puting susunya. Setelah matahari sudah mulai panas, Apon membawa anak-anaknya kembali ke loteng. Begitulah.
Semakin besar, anak-anak kucing itu semakin sering dibawa turun, bermain di halaman, hingga lama-lama mereka bisa turun naik sendiri.
Sekarang tiga anak kucing itu sudah dewasa. Mereka semua telah pergi.
Apon juga telah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada Samsul. “Mereka di mana Sul?” Samsul bilang, mereka sudah bisa cari makan sendiri. Apon tidak sekolah tapi ia sukses: berhasil jadi ibu yang baik bagi anak-anaknya yang, seperti Apon,  tidak jelas siapa bapaknya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s