Pohon Megatruh

Janganlah ditebang pohon itu supaya pada suatu hari ada yang masih bisa menyembunyikan bayang tubuh di bawahnya ketika matahari sedikit condong ke timur persis ketika seseorang sedang tertawa di sana padahal di situ engkau sedang merasa sangat ingin terjatuh seperti daun kering telah terlepas dari dahan tapi lantas tersangkut di seutas benang laba-laba sehingga terkatung-katung diputar-putar angin begitu lama padahal betapa bukankah tanah sudah begitu siap menerima segala kejatuhan.

Jangan, janganlah ditebang pohon itu supaya pada suatu hari ada seseorang yang berteduh di situ ketika gerimils membersihkan langit dengan caranya sendiri, perlahan-lahan, menjatuhkan dirinya sendiri.

Akan kita rayakan segala sesuatu yang bermekaran pada hari hari biasa tanpa merisaukan reranting merapuh tanpa bertanya kepada daun daun megatruh mengapa mereka tidak mengaduh ketika angin menjadikannya sebagai yang sedang ditanggalkan. Segala sesuatu. Segala sesuatu yang bermekaran. Dan segala sesuatu yang tak luput dari kesadaran.

(Diterbitkan di Bali Pos Edisi Minggu 1 Maret 2015)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s