Mari Beta Rebut Kembali (Diterbitkan di Bali Pos Edisi Minggu, 15 Maret 2015)

Mungkinkah sebuah patung api yang terbuat dari batu dingin mampu menggambarkan duka ribuan rumah yang kami bangun dengan duka cinta kami  itu ternyata terpaksa lenyap dalam sekerjap malam oleh api yang kata kalian kami sulut sendiri supaya tamu-tamu yang tugasnya melawan kalian itu gagal menggunakannya untuk memusuhi kami, tuan rumah, dengan lebih nyaman?

Dan siapa gerangan kini dari antara para pelancong yang sempat berfoto-foto sambil tertawa di bawah patung api batu itu juga sempat menundukkan kepala demi melihat dan mendengar batu pertama yang kami letakkan di situ berdiri dan menyerukan sebuah lagu “Demi kemerdekaan siapa engkau menghanguskan kota kami?”


Halo, halo, mungkinkah sebuah lagu bernada riang itu bisa mewakili duka kehilangan yang kata kalian harus kami sebabkan sendiri supaya nantinya kami boleh dibilang telah ikut ambil bagian dalam sejarah gemilang yang mengubur kenangan suram?


Halo, halo, apakah pernah engkau mendengar bahwa duka di atas dunia tidak dapat dihapuskan meski tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan apabila kau dan aku tidak keras berusaha diam bersama supaya sayup sayup suara perdamaian itu terdengar lagi?


Jika wakil-wakil kita hendak merebut kemerdekaan kita, mari beta! Rebut kembali. Tapi tunggu dulu. Apa, atau siapakah sebenarnya yang paling merebut kemerdekaanmu? “Tenanglah. Sebab kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.” Para pendahulu pernah berkata seperti itu.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s