18 Kata dari Kita yang Ke-2

Di Tepi Februari
Langitku sedang kertas hitam
Dan kata-katamu jadi bulan bintang.
Kauremangkan sajak tepi laut februari
yang sedang belajar mengutuhkan diri.
       “Mataharimu pijar dian haus
        Pelurumu pejal kerikil dingin
        Perisaimu rapuh daun kering.
        Petarung, pernahkah kau menang
                           melawan diri sendiri?”
Mari belajar bangun, katamu
meski cinta tak ada sekolahnya.
Mencatat yang terjadi di luar mimpi
tanpa mencacat
             yang lusuh, yang luruh,
             dan segala yang melintas
             di spion retak ini.
Gelombang seng produk pabrik-pabrik
Tak sebanding dengan gelombang rambutmu
      Yang seperti gelombang laut.
Yang baka melampaui segala yang baku
terluput dari sekapan buku-buku.
Sebentar lagi awan putih menaungi kita
Dan pupus daun pisang melindungi kelelawar kecil
dari mimpi manusia. Sebelum bocah penggiring angin
menjadikan hujan sebagai minuman kerbau dan sapi.
Aku berjaga di pinggiran sajak
Kulihat dirimu tampak utuh
tertidur di lembaran sajakku.
Kuingat kata-katamu. Lalu “Stttt!” kataku
kepada tanda baca yang berseru-seru
di selimutmu.

Catatan:
Atra Senudin:
luput, lusuh, luruh
Maulana Rizki:
buku, baku, baka
Arya Dhimas:
seng, pijar, spion
Dadi Reza:
kerikil, kelelawar, tarung, 
Kim Al Gozali:
awan, angin, gelombang, 
Sulis Gingsul:

dian, daun, sekolah


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s