Pelangi Di Akasia

Burung ceriwis kedengaran ceriwisnya di subuhmu
Cahayamu menyusupi jendelaku yang sedikit terluka.
Yang mekar di sajak waktu itu: bunga segarmu
Pencipta wangi yang lain, pembikin hari haruku.

Cinta tumbuh di sepanjang setapak kami sebelum kata
“Di manakah perlunya sebuah vas diletakkan, apabila
dinding pasti ditumbuhi lumut, dan kami niscaya luput?
Laba-laba bikin sarang selalu begitu-begitu saja

Seperti penyair menjebak diri di sajak bebasnya.

Segalanya sedang terus dan akan diubahnya
sambil terus dicintai dengan seluruh-luruhnya.”

Pelangi memulas gerimis dengan cahaya matamu
sebelum senja selesai menghitami pohon-pohon lalu
pelangi memulas gerimis dengan cahaya matamu lagi.

sg

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s