Tujuh Yang Jatuh

1

Belajar menulis puisi di saat sepi.
Kau sedang di sana, di tempat yang terjauh
Aku di sini merasa, seperti sedang terjatuh.

2

Pada suatu siang ada pohon peneduh
Jangan ditebang. Biar aku merengkuh
bayangan yang jatuh di bawah dahan.

3

Rindu tanah kepada daun nangka
kering yang melayang. Siapa sangka
tersangkut di seutas benang laba-laba.
Terkatung-katung, diputar-putar angin.

4

Mendung masih menggantung
Seperti air mata menunggu waktu.
Aku rindu caramu membersihkan langit
Dengan perlahan-lahan menjatuhkan diri.

5

Akan kita rayakan hari biasa
Tanpa merisaukan apa apa
Tanpa menghitung reranting jatuh
Tersenyum kepada daun daun luruh.

6

“Aku mencintaimu sebab kau bukan badut
Yang pada bibirnya terlukis tersenyum lucu
Pada pipinya terlukis air mata hitam-hitam
Yang tak bisa jatuh dari topengnya” katamu.

7

Setelah buah dipetik kalong
Di pinggir sungai mentari jatuh
Cintanya bakal hidup, bakal tumbuh
Di tempat yang tak dapat disangka.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s