Tujuh Gelinding Awan

TUJUH GELINDING AWAN
1
Angin tidak tidur. Dibangunkannya matahari
Perlahan bisiknya: “Pagi, Bagaskara!
Tiba waktu kita memper-awankan air.”
2
“Awan terbuat dari apa?” tanya air.
Dari ludah para pendoa, serta air mata para pendosa.
Betapa luas tatapan kosong. Semua ditampungnya.
3
“Lantas?” sela burung.
Jika terbang merupakan cita-cita sebutir air
Segumpal awan merupakan kumpulan butiran air sukses
Yang akan tumpah pada waktunya, ke tanah tumpah airnya.
4
Di siang yang getir itu, awan biri-biri berbaris
Kesana-kemari, tanpa memikirkan garis finis
dan siapa yang akan dijatuhkan paling akhir.
5
Awan yang pipinya kemerah-merahan itu
duduk manis di langit sore. Tak ada yang ngaku
“Eh, dulu aku soda gembira di gelas dukamu”
6
Aku ingin berjalan pelan di lurung becek itu
Mengenang, awan beku di sudut mata soremu
Yang mencair. Dengan amat sangat lancar.
7
Air yang sibuk bekerja di kantong mata ini
Nanti boleh keluar, bertamasya di awan kue tar

Yang diam-diam menauingi hari ulang mekarmu.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s