SUNGAI MISSISSIPPI (Frans Nadjira)

1

” Mesin, berikan kartu nasibku hari ini “
kataku sejam lalu
sewaktu menekan tombol sebuah kotak.
Tapi yang meluncur ke luar
Sebuah kapal es krim. Begitu sempurna.

Dengan kapal itu, kini
Kulayari Mississippi. Sesat
Di antara penumpang lain
yang tak kukenal. Bercakap
Campur aduk
       Mabuk
          Semaput
Saling beradu gelas
Bayangan mereka tindih menindih dalam kaca:
“Minum, ini anggur dari cairan orak orang Indian.”

Minum, baru sejam lalu aku meminta
kartu nasibku pada sebuah kotak es krim.
Wajahku yang aneh menempel pucat di kaca
Awal musim dingin.
Menempel pucat di daun yang terhimpit
Di bawah sepatu orang tua
Yang meludah seenaknya.
Di tepi jalan  Di taman-taman
Awal musim dingin
Belahan bumi yang lain
Cuaca yang lain. Mengapa bumi tak rata
Agar matahari dapat membagi cahayanya?

Baru sejam yang lalu aku menginginkan
                        kartu nasibku
Setelah makan kenyang
Setelah membanggakan Borobudur
Yang kini sedang dipugar
pada seorang komunis sinis
Setelah melihat daun rontok
Terseret angin sepanjang jalan.
Mississippi, masa lalu adalah kawat bawah laut
Dan anggur tak akan mampu mengusir rasa takut.

2
You’re crazy! Tapi kita sama
Tak paham diri sendiri
Menolak    Menerimanya
     Berlari
Ke halaman suatu senja
Berdiri mengangakan mulut ke langit
Meramal gelagat cuaca
Memandang ke dua garis asap melengkung jingga.
             Orang-orang berangkat
                Entah tiba entah tidak.
Namaku Mark Twain. Aslinya Samuel Clemens. Kau?

Aku? Baru sejam yang lalu aku bicara dengan seseorang
Tentang borobudur  Tentang bumi yang tak ceper
Tentang mereka yang lahir di suatu tempat
Tapi tak lagi memiliki tempat
Tentang salju dan angin puyuh
Tentang roh  Kelahiran   Nasib dan kematian
Tentang diriku yang retak bagian dalamnya
Dan selalu menjenguk keluar.
Sebab inginku
Lahir sebagai gunung
Yang dapat menghancurkan tubuhnya
Dan setiap pecahan menjadi kristal api
Atau
Jadi RASA         Mengalir dalam udara
      Meniup ke paru-paru
Berkata         Hirup yang dalam
     Hirup      Hirup
    Lalu mereka pun hidup.
Jadi aku yang memberi hidup
Aku yang meniupkan roh
Aku yang menyeberang di siang lengang
Menyapa bayang-bayang
Yang setia mengikuti raga.
Tapi nyatanya
Aku tak pernah tahu
Kapan aku akan lahir   Dari rahim yang mana
Dan begini            Jadi orang sukar
Akrab dengan diri sendiri. Yes, I’m crazy memang
But I’m not a suicidal person.

“Tapi kau belum menyebutkan namamu.”

(puisi karya Frans Nadjira)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s