Teratai di Pelabuhan Kertas

Di Kintamani, ada yang menangisi sepi yang tak berisi bunyimu.
Sajak malam mengawini sunyi kemarin dan hari ini. Kematian cinta,
kenangan, harapan, rokok, dan kopi tersesat di dalam dalam rindu.

Tiga puluh tiga pucuk surat dari ayah untuk kedua sahabatku,
perempuan dan nyamuk, berisi cuma sebuah kalimat sederhana
yang diulang-ulang “Kemarin dan hari ini, Kekasih lebih dari kekasih!”

Hujan dan aku jatuh cinta kepada tidak apa-apa. Tidak mempertanyakan
mimpi sang kekasih. Kemarin mimpi kami adalah barisan serasi 18 huruf;
Hari ini, “maukah kau bersamaku” menjelma teratai di pelabuhan kertas.

Renon, 2014
Sendang Wulang

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s