Jus Wortel Ala-kau

jus wortel

Apakah kau masih menyimpan kepedihan yang indah dan mendalam?

Kemarin sore, aku sengaja pergi ke tempat yang tidak kusukai
yang tetapi sangat kausukai. Iya, pasar, untuk membeli satu kilogram buah, kesukaanmu, wortel. Aku juga membeli sebuah parut kecil yang terbuat dari stenlis, sebuah mangkok kecil yang terbuat dari aluminium, sebuah saringan teh, dan dua buah gelas kaca, kecil tapi tinggi dan bening.

Seperti “Petunjuk Praktis Cara Menyehatkan Mata” yang pernah kautulis di sore itu, enam buah wortel muda berwarna cerah telah kupilih untuk diparut. Wortelnya masih sangat segar-segar. Kau lupa kan? Kau belum menuliskan untukku cara mudah memarut wortel secara baik dan benar.

Nah, berlandaskan mangkok aluminium itu, tangan kiriku memegang parut. Sebuah wortel, dengan sangat cermat, kupegangi dengan kelima jari kananku. Lalu, dengan sangat hati-hati, kugerak-gerakkan wortel itu ke atas dan ke bawah sambil sedikit kutekan ke dada parut. Pada awalnya, bagiku, memarut wortel terasa sangat sulit. Tapi setelah wortel yang ke-lima selesai kuparut, tiba-tiba aku merasa sudah hampir menyaingi keahlianmu memarut wortel.

Sebenarnya aku ingin sekali menelpon kau. Ketika itu, tinggal satu buah wortel lagi yang harus kuparut. Dan aku sangat ingin mendengar kau tertawa mendengar aku bilang begini: “Tinggal satu parutan wortel lagi, jus wortel ‘ala-kau’ bikinanku akan segera dapat kusajikan.” Tapi aku dan kau telah bersepakat, bukan? Iya, kita telah bersepakat untuk lebih giat belajar sabar menunggu segala sesuatu, sambil tabah menanggung segala sesuatu.
“Marilah kita bertekun merawat
sesuatu yang hidup di dalam penantian
sampai nanti semesta memberi kesempatan
kepada kita, untuk bertemu dan saling berbagi
perasaan-perasaan yang sehat dan segar
dalam jumlah yang secukupnya”
Aku masih mengingat kata-kata kau di sore itu. Makanya, aku tidak jadi menelpon kau. Wortel ke-enam (yang terakhir) itu akhirnya kuparut dengan sangat pelan, sambil terus memikirkan kau.

Permukaan mangkuk aluminium itu agak licin. Kaki parutku tergelincir sedikit. Jari manisku sedikit tergores. Ah, hari itu, aku serasa diberi hadiah sebuah rasa perih, yang namun terasa indah. Karena kau.

Rasa-rasanya, aku ingin kau mengetahui ini. Ketika aku sedang menulis surat ini, dadaku terasa sudah terlalu penuh oleh ulah aneka perasaan yang sekian lama telah tersimpan. Kau tahu kan, hanyalah kepada kau ingin kutumpahkan segala yang penuh itu.

Maka kali ini, di pucuk surat ini, kutumpahkan sedikit jus wortel. Sedikit saja, untuk kau. Sedikit yang telah turut serta menyumbang perasaan sedikit pedih yang sekaligus sedikit indah, di sebuah soreku yang tanpa kau.

Kali ini aku tetap meminta kau untuk menjauhkan diri dari rasa khawatir. Memang, segala sesuatu bisa berubah. Tapi, percayalah, tidak ada yang akan benar-benar bisa habis. Masih kusimpan untuk kau begitu banyak perasaan. Perasaan-perasaan yang mendalam, yang kelak akan menjadi lampu-lampu bagi masa lampauku. Perasaan-perasaan meruah yang, hanya kepada kau, aku ingin mereka tertumpah.

Barangkali engkau pun tahu, sesungguhnya, ketika engkau sedang di sana, di tempat yang terjauh, aku selalu merasa menjadi yang sedang terjatuh. Perasaan-perasaan yang aduh seperti ini begitu cepat berloncatan, lalu dengan mudah tertangkap, dan kemudian perlahan-lahan tersimpan di sekujur hidupku.

Oh iya, ternyata saringan teh-nya terlalu besar, sedangkan gelasnya terlalu kecil. Itu menyebabkan jus wortel “ala kau” itu sedikit tumpah-tumpah di lantai. Meskipun begitu aku tetap bisa tersenyum gembira ketika sedang membayangkan kau mengajakku tertawa bersama di hadapan dua gelas jus “ala-kau” itu.

Sebenarnya, yang segelas itu untuk kau. Sebenarnya.
Tapi kau sedang tidak ada. Jadi, aku minum saja semuanya.
Dua gelas jus itu kuminum sekaligus– sambil berdoa:
Semoga Tuhan menjauhkan engkau dari haus.
Semoga Tuhan melindungi engkau dari serangan kekhawatiran.
Semoga Tuhan menuntun aku dan engkau menuju perasaan-perasaan
yang lebih cerah, lebih segar, dengan manis yang sehat.
Seperti segelas jus wortel yang nampak ceria tanpa pewarna
dan terasa manis tanpa perlu ditambah gula.
Seperti seulas senyummu yang selalu kukenang,
cerah, segar dan manis yang ingin selalu kupandang.

Kali ini aku hanya bisa mengirimi kau foto jus wortel bikinanku.
Lain kali, jika engkau mau, dan waktunya telah tiba untuk kita,
kita akan minum bersama yang bisa kita bikin bersama,
mungkin saja: Satu gelas Jus wortel.

Semoga surat pendek ini bisa menambahkan kebahagiaan di hatimu.
Denpasar, 13 Februari 2014
Tum

3 thoughts on “Jus Wortel Ala-kau

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s