Segulung Ombak Garang dan Secangkir Teh Hangat

Anggaplah
aku segulung ombak garang pada siang bolong
engkau secangkir teh hangat di sepotong sore teduh.
Bukankah kita sama-sama air?

Jika kelak kita mengalir bersama
pada sepasang mata yang bercahaya karena bahagia,
kalau bukan matahari, siapakah yang mampu
menjadikannya sepasang air mata?

Eh, apakah engkau bisa menebak nanti itu
aku terjatuh ke pipi dari mata sebelah mana?

Andai engkau bersama aku,
apakah engkau berharap:
dari mata itu kita lalu jatuh
pada segulung ombak yang garang?

Andai aku bersama engkau,
barangkali kelak, aku ingin kita jatuh
di sepotong sore yang teduh.
Pada secangkir teh, yang hangat.

Eh, pernahkah engkau segila orang itu?
Pernah kudengar orang itu berdoa dengan lantang
semoga ia dan kekasihnya kelak menjelma
setetes embun yang bahagia.

Apakah engkau mengerti apa maksudnya.

Ah.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s