Waktu tak berhenti tuk

Waktu tak berhenti tuk sejenak menunggu.
Tak, padahal engkau sedang asyik menghitung
berapa kali nampak merah-merah di hidungnya.

Engkau yang terlambat sadar–eh
kok tiba-tiba berada di kamar pas
yang cukup untuk berseorang saja
–dan engkau tiba-tiba pengecut

padahal, bukankah engkau pernah diajari macam-macam
keberanian: berani pipis sendiri, berani pergi sendiri
dan seterusnya dengan cara-cara yang unik?
Nah, yang paling sempurna itu barangkali
: ia pergi agar engkau merasa
benar-benar sendiri.

Jika ia tak pernah kembali, biar
anggap saja tugasnya sudah selesai
sudah mengajari engkau lebih berani
hidup berdua-duaan, hidup bertiga-tigaan
hidup berempat-empatan, dan seterusnya hingga
engkau pernah merasa hidup itu bersendiri-sendirian
dan seterusnya. Apa

yang harus dihadapi dengan berani?
Nanti itu siapa yang tahu, sekarang
engkau hampir selesai membaca.

4 thoughts on “Waktu tak berhenti tuk

  1. Iya om, tapi jarang dibuka. Aku langganan dengan blog om sulis, pas masuk lewat email, habis baca langsung koment, kirain tadi balas pake blogspot. Rupanya secara otomatis dibalas lewat wordpress ya :D

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s