Pembacaan Puisi: Yang Dilakukan Istrimu Semenjak Kau Pergi

Pembacaan Puisi oleh Cholifatul Ridwan

Bila langit mendung wajahnya malah cerah.
Dicucinya beberapa potong pakaian kotor,
tak pernah ketinggalan: baju kesukaanmu
yang padahal sudah tidak pernah kaupakai.

Gerimis datang, senyumnya jadi pelanginya.
Bajumu dibiarkan jadi yang terlanjur basah
“Cepatlah bantu aku, Sayang” bisik pelan-pelan
kepada baju itu yang (apakah) sudah kaulupakan.

Di rumah, tubuhnya dibiarkan tetap basah.
Di gerimis itu tentu ada air matamu. Pastilah
kau nanti pulang membawakan oleh-oleh air mata
yang asli, benar-benar dari matamu.

Di ruang tamu, ia bercakap-cakap dengan bajumu
sambil sebentar-sebentar didekap, dan didekap,
lalu didekap, “Lebih eratlah, Sayang. Kurang hangat?”
lalu didekap-dekap “ataukah sudah terasa kering?”

Setiap hampir senja, ia menyeduh teh hangat dua cangkir,
sebentar-sebentar duduk, sebentar-sebentar melongok
ke pagar dari jendela kamar–tempat dulu kalian suka
berdoa sebelum tidur.

Setiap pagi-pagi sekali ia minum teh kemarin
–dua cangkir sekaligus–
sambil berdoa supaya kau dijauhkan dari haus.
“Nanti sore aku buatin yang lebih hangat”

Depok, 2010

About Cholifatul
Saya ini fanatik (maaf– urusan perempuan bukan ideologi).
Favorite Quotations
— Hal tergila apa yang terakhir kamu lakukan …
— Aspek moral dan keikhlasan menunggu.
— Kapan Kamu menuju Saya?
cholifatul ridwan

penulis di http://ridwancholifatul.blogspot.com

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s