Perpisahan

“Remang-remang senja ini masih cukuplah buat mata kita untuk saling melihat. Itulah sebabnya—seolah-olah sudah disepakati bersama padahal belum didiskusikan sebelumnya, baiklah serta marilah, begitulah kira-kira kubayangkan ajakanmu— kita saling memalingkan wajah demi menyembunyikan air mata kita masing-masing hingga cahaya benar-benar habis; dan baiklah serta marilah kita berbicara hanya dalam hati saja demi suara yang tidak boleh terdengar demikian menyayat dikarenakan bibir yang terlalu kelu oleh kesedihan menjelang perpisahan. Kesedihan ini sudah cukup banyak; diam barangkali adalah solusi terbaik untuk mencegah percepatan laju kesedihan.” kataku selirih-lirihnya dalam hatiku.

perpisahan? ah, detik ini aku tiba-tiba membenci kata perpisahan dua kali lipat dari hari kemarin.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s