CUNONG NUNUK SURAJA: Mencatat Kelisanan Lisal dalam dua sajak Sulis Ginsul

oleh Cunong Nunuk Suraja pada 13 Januari 2011 jam 16:48

Sodokan percakapan batin aku lirik memang merujuk pada kilatan tradisi lisan yang mulai digali sebagai kekayaan intelektual atau kearifan budaya lokal. Simak potongan pelisanannya:

sebab
ia bukan perawat kebun mangga;
cuma seorang yang suka buah

sesekali membeli mangga karbitan
jika beruntung, menemukan yang jatuh
mangga muda atau jambu air,
di pinggir jalan misalnya.

Begitu simpel penyair mensitesa kadar puitik dengan putik bunga pohon mangga yang sesekali akan menjatuhkan buahnya yang ranum;

seumpama mangga matang
yang jatuh sendiri di musimnya
ke dalam sebuah brongsong yang telah disiapkan

Puisi memang hasil persilangan gagasan, imaji dan kelangkaan waktu memilih diksi. Sayang kearifan lokal yang mujarab untuk memuati puisi jadi berbobot terlepas tertumpah ruah hanya sebagai bayangan rujak kata seperti yang tersarankan dengan jelas :

Seringkali tak sempat mengupas, untung
sejumput garam dan beberapa butir cabe
selalu tersedia di saku baju

Kalau toh ini jadi trend puisi mBeling tahun tujuh-puluhan terasa bahwa benar kata penyair:

cukup bisa bikin lidah:
tidak terlalu pahit
tidak terlalu masam

Dan terasa “Lisal tentang Lisal” memang belum masak teruji oleh kelelawar untuk dikuak legitnya, kemudian dibiarkan tergantung setengah matang hingga datang peluang jatuh sebagai puisi tak jadi mentradisikan lisan.

Penyair Sulis Ginsul memang bukan pendatang “haram” di dunia FB karena Huhi  (Jurnal Sastratuhan Hudan) juga telah mencatatnya sekian lama. Sebagai sajak hudanian pun sajak ini jadi memprosa yang kelak kalau penyair mampu boleh dimetamorfosekan menjadi sebuah cerita pendek atau esai pendek tentang “Sastra Mangga”.

Dari hasil intipan di http://bonabene.blogspot.com/ memang rata-rata penyair ini mencoba mentradisi-lisankan puisinya. Simak secara utuh sebagi contoh.

Sebab Esok Sudah Akhir Tahun

Hei, lihatlah ada yang menari
di panggung yang luas: benakku.
Sendiri, bukankah itu engkau?

Jika bisa, melompatlah dari panggung itu
ke depan mataku. Kan kupeluk engkau
malam ini, sebelum pergantian tahun

31 Desember 2010

LISAL 6, HELM YANG LUCU
Berita Kehilangan

1
Telah hilang sebuah helm warna putih.
Bergambar setangkai kembang kenikir ungu
dan seekor tawon coklat loreng-loreng hitam.
2
Dulu helm itu kami beli secara patungan.
Kami menggambari helm itu bersama-sama.
Aku menggambar bunga; dia menggambar tawon.
“Wow, lucu banget!” katanya.
Kami kemudian sepakat memakainya secara bergantian.
3
Apabila kami pergi bersama ke suatu tempat,
jika dia memakai helm lucu itu pada saat berangkat,
maka saya memakai helm yang lain.
Nah, pada saat pulang, giliran sayalah
yang memakai helm lucu itu,
sedangkan dia memakai helm yang lain.
Demikianlah yang terjadi,
helm lucu itu selalu berpindah-pindah
dari kepala saya ke kepala dia,
kemudian kembali lagi ke kepala saya.
4
Pada suatu hari, dia tidak mau melepas
helm lucu itu,
sedangkan saya ingin sekali memakainya.
Saya mengikutinya ke mana-mana__
ke dapur, ke toilet, ke tempat tidur, ke pasar__
tetapi dia samasekali tidak mau melepasnya.
“Apa tidak capek” tanyaku waktu itu.
Dia diam saja, tetap membaca koran
dengan helm lucu itu di kepalanya.
5
Keesokan harinya, saya punya rencana
membeli helm baru_sama model_
kemudian mengajaknya menggambar bersama
di helm putih yang baru lalu melempar undi
untuk menentukan yang mana untuk siapa.
Tetapi helm lucu itu sudah hilang
dibawa dia pergi.
6
Barang siapa menemukan helm itu,
tolong sampaikan pesan saya kepada pemakainya
bahwa saya pun ingin memakai helm lucu itu.
Jika dia tidak bersedia melepasnya,
sempatkankah untuk bertanya begini:
“Apa belum capek?”
sebelum dia berlari menghilang.

Depok
sg

Perihal Airmata yang Jatuh

Ibu mengajari kami untuk berhemat.
Air mata tidak kami hambur-hamburkan.
Saat sedih, kami tabung sedikit-sedikit
agar kelak berbunga pelangi.

Maka sejak kecil aku belajar tabah
menahan air agar tidak tumpah dari mata
kusimpan di kantong mataku yang dalam
hingga kini, air mataku telah membukit.

Ah, mendiang ibu tentu tak rela
tabungan air mataku semakin surut
karena engkau. Engkau mengurasnya.

Lihat! Air mataku keluar dengan bahagia.
Dapatkah kau lihat warna-warni pelangi
ada pada tiap tetesnya?
_____________________________________

2/ Dimana Air Mata Jatuh

Aku selalu lupa bahwa waktu
tak mau sejenak saja menunggu
ketika aku sedang asyik menghitung
berapa kali bibirmu kulihat tersenyum.

Itulah sebab aku selalu terlambat
menyadari telah sampai pada tempat
yang layak dan pas hanya buat diriku. Sendiri.

Padahal, sejak kecil ibu mengajari
agar aku semakin berani sendirian
( pergi sendirian, pulang sendirian, misalnya)
dengan cara yang paling menyakitkan. Pergi

Bila kelak ibu kembali padaku
akan kuceritakan tentang orang-orang
yang seperti ibu, mengajarkan keberanian
dengan cara yang seperti ibu gunakan.

Aku tak akan jujur pada ibu sebab malu
untuk bilang bahwa aku masih penakut
takut jika suatu saat kau pun pergi dariku.

Sebab hanya di depanmu aku rela
membiarkan air jatuh dari hatiku
mengalir lewat kedua mataku.
_____________________________________

3/ Air Mata Kekasih

Aku melihat air tumpah dari mata
mereka yang masih mengasihi engkau.
_seperti embun di daun yang rindu jatuh
basahi tanah kering yang retak-retak.

Aku telah mendengar jeritan hati
yang kau lukai berkali-kali.
_keluar dari bibir-bibir gemetar
yang kelu membunyikan nada pilu.

Adakah matamu telah dibutakan
oleh apa yang kau sebut cinta?
_membabibuta kau rusak pagar-pagar.

Adakah telinganmu telah ditulikan
oleh bujuk nafsu yang teramat syahdu?
_geleng-geleng kepalamu seiring nada sumbang.

Kami merindukan ingatanmu pulang
kembali memeluk kami seperti dulu
di musim bunga-bunga bermekaran di hati.

Depok
sg

Kemudian kembali ke sajak yang ke dua yang ditawarkan untuk ditayang dipajang dicernakan. Sajak yang kedua terasa lebih lkuat daya sarannya.

Setelah itu mungkin hati engkau jadi merana
–mengingat betapa banyak yang sudah hilang
: lebat rambut engkau, sintal tubuh engkau,
tatapan mata aku, tak bisa lagi seperti dulu.

Ah, cucu kita sudah mempersiapkan kamera
untuk mengambil gambar jika engkau menangis
sebab aku sudah tak kuat menggendong engkau.

Beban pesan yang sarat dengan keharmonisan alam begini memang layak ditradisi-lisankan sebagai kekayaan budaya walau sekedar muncul dalam FB ataupun blog-blog kreatif.  Penyair ini menjanjikan warna sastra yang tak sekedar sastra mangga yang tidak masak tapi juga sastra lisan yang memancarkan pesan gagasan yang sering terhapuskan karena modernitas.

Huhi aku ingat pesanmu untuk selalu mencatat dan mengumpulkan remah-remah yang terlewatkkan tak terlihat para perawat sastra yang sudah mulai mukim di panggung pagoda istana emasnya.

Semoga

Bogor usai hujan ssore-sore 2011.

LISAL tentang LISAL
23 Desember 2010 jam 1:57

Tum tak mengerti apakah itu puisi
seumpama mangga matang
yang jatuh sendiri di musimnya
ke dalam sebuah brongsong yang telah disiapkan
oleh seorang perawat kebun mangga
yang tua, rajin, dan sabar
_manisnya bikin kangen;
bijinya bakal hidup

sebab
ia bukan perawat kebun mangga;
cuma seorang yang suka buah

sesekali membeli mangga karbitan
jika beruntung, menemukan yang jatuh
mangga muda atau jambu air,
di pinggir jalan misalnya.

Seringkali tak sempat mengupas, untung
sejumput garam dan beberapa butir cabe
selalu tersedia di saku baju
cukup bisa bikin lidah:
tidak terlalu pahit
tidak terlalu masam
ah, kau paham kan, seperti apa :-D

Hadiah Kejutan Bingkai Kenangan

Aku telah menyiapkan bingkai dari kayu
—cukup muat menampung fotofoto lama
yang mengingatkan betapa kita sering lupa
kenyataan bahwa semua akan tinggal kenangan.

Barangkali engkau akan terkejut menerimanya,
Mungkin pipi engkau lalu merona melihat fotofoto itu
mampu mengingatkan betapa sering aku memeluk engkau.

Setelah itu mungkin hati engkau jadi merana
–mengingat betapa banyak yang sudah hilang
: lebat rambut engkau, sintal tubuh engkau,
tatapan mata aku, tak bisa lagi seperti dulu.

Ah, cucu kita sudah mempersiapkan kamera
untuk mengambil gambar jika engkau menangis
sebab aku sudah tak kuat menggendong engkau.

nb
*
Terimakasih saya sampaikan kepada Pak Cunong Nunuk Suraja yang telah mengulas beberapa Lisal Saya. Saya sangat senang.

* kutipan komentar

Lendy Soekarno Setyawan:

  • LISAL ” itu apa ya?
  • 16 jam yang lalu

Sulis Gingsul:

  •  Tulisan Asal.

  • maksud saya, cuman rekaman dari ide, belum sempat jadi puisi yg direnungkan dengan matang.
  • 16 jam yang lalu

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s