Angin di Akhir April

Dari ruang-ruang beku, ia menerobos setiap celah, menyusuri lautan, lembah, dan gunung-gunung. Ingat? Ketika memergoki kau dan aku saling tatap, angin itu segera singgah di dada kita yang hangat.
Ingat? Ketika angin itu kemudian mengobarkan api, kita terbakar dan menjadi hangus. Tanah-tanah menjadi tandus; bunga-bunga tiada mekar; dan tunas-tunas enggan tumbuh

Kini, di sini malam dingin. Bulan belum muncul. Kepadanya aku menulis puisi yang purnama, tentang daun-daun basah yang digerak-gerakkan oleh angin.

SABTU, MEI 2010

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s