CERPEN, Yang Tak Terevakuasi

oleh Sulis Gingsul pada 12 Desember 2010 jam 18:43
dimuat di majalah HIDUP 19 Februari 2012

Pagi ini cerah, secerah hatiku. Matahari mengintip dari celah-celah rumpun bambu. Awan putih seperti barisan biri-biri, berbaris rapi di langit biru. Kudengar burung-burung bersiul riang. Mungkin mereka mendengar perbincaganku di telepon dengan Kristin. Ah, inilah cara pandangku yang buruk terhadap sebuah hari, yang sering mengacaukan banyak hal. Indahnya hari hanya kusadari di saat hatiku senang. Sebaliknya, saat pikiran kacau, hari seindah apapun terasa seperti nasib buruk. Bukankah semua hari baru baik adanya, Tum?

Kristin memintaku menemuinya. Dia ingin aku ikut ambil bagian dalam renovasi gereja. Aku diminta untuk mengajukan proposal secepat mungkin agar tak keduluan yang lain. Ah, Kristin, Kristin! Kau hafal betul kesiapsediaanku dalam segala urusan yang ada duitnya. Enam ratus buah bangku kayu panjang tiga meteran bukanlah jumlah yang sedikit.

Jam sembilan tepat aku sampai di halaman gereja. Tangan Kristin melambai-lambai. Hahai…indahnya! “Bagian mana yang mau direnovasi Kris? Gereja kita ini tampak masih oke!” Kristin menyodorkan proposal. “Nih, baca dulu, Tum!” Aku membaca sekilas. Di halaman pertama ditampilkan desain_dalam bentuk tiga dimensi, hampir seperti foto_bangunan gereja bertema The Green berdiri megah. Pohon-pohon rindang berjajar di pelataran, seperti berdiri di atas hamparan padang rumput yang menyerupai bukit dan lembah. Ini bukan renovasi namanya; perombakan total. Di halaman ke-dua, mataku seperti melihat kilat di malam hari. Baru kali ini, kulihat angka nol berbaris sepanjang itu. Tujuh belas milyar. Wow, aku semakin paham mengapa burung-burung penghuni pohon jambuku tadi bersiul-siul lebih keras. Ah, Setelah ini, pasti, aku lebih rajin pergi ke gereja.

Entah, bagaimana cara Kristin, ketua panitia renovasi gereja ini, bisa menggalang dana sebesar itu. Dengar-dengar, sudah banyak donatur murah hati yang bersedia menyumbang untuk keperluan gereja. Ada juga basar, konser amal, kotak dana, dan semacam amplop yang setiap minggu diserahkan kepada setiap umat paroki, khusus untuk penggalangan dana renovasi. Di setiap kotbah, tak pernah lupa Pastur menyinggung-nyinggung soal renovasi. Ada beberapa kalimat kotbah sore itu, yang masih menggema di benakku, “Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, dua tahun terakhir ini, gereja kita terendam banjir selutut. Adalah kewajiban kita sebagai umat Allah untuk bersatu membangun rumah-Nya, agar di dalam situsi apapun, kita tetap bisa bersyukur dan mengagungkan nama-Nya di tempat yang kudus. Untuk itu, kita akan mengadakan pembaharuan. Tanah gereja akan kita tinggikan. Di atasnya, akan kita bangun gereja baru yang ramah lingkungan dengan desain bertema The Green, agar bisa menjadi tanda di tengah-tengah gedung-gedung kotak-kotak yang kaku dan monoton. Gereja ini akan seperti oase, tempat kita_para rusa padang gurun_memperoleh kesejukan dan mereguk kesegaran. Dengan demikian, dunia akan semakin melihat gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan. Tuhanlah Gembalaku. Ia membaringkan aku di padang rumput menghijau. Ia menyegarkan jiwaku. Amin.”

Memang, banyak umat paroki gereja yang terletak di kawasan elit ibu kota ini yang kaya raya, walau jumlahnya tak sebanding dengan jumlah umat yang miskin. Tak sedikit pula yang menganggur. Ah, buat apa ambil pusing. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku bisa mendapat proyek pengadaan bangku.

Bazar penggalangan dana renovasi gereja diselenggarakan setiap minggu. Peserta bazaar dengan sukarela menyisihkan sekian persen dari omset untuk disumbangkan. Semakin variatif saja yang dijual. Semuanya berbau rohani, seperti: kitab suci bersampul trendi, kalung dan gelang salib, buku-buku rohani, dompet handphone bergambar santo-santa, tas laptop bertuliskan ayat-ayat kitab suci, kaos bergambar wajah Yesus. Ada juga yang memasarkan perumahan bernafas Kristiani. Bazar diiringi dengan konser musik, pembacaan puisi, dan aneka perlombaan. Sungguh meriah. Aku sedang duduk tertegun mendengar seorang bocah membaca puisi,

“ tuhan,

dimana rumahmu?

kata ayah, rumahmu di gereja

apa kamu pergi terus?”

Tiba-tiba ada gembel gondrong, bercelana pendek, telanjang dada, berlari masuk halaman gereja. Dengan cepat ia meloncat ke panggung, menjunjung bocah itu dan menciumnya. Bocah itu tertawa geli lalu meloncat-loncat kegirangan memainkan balon pemberian gembel itu.

Gembel itu berteriak di depan mikrofon, “ Bongkar! Bongkar bangunan ini! Dalam tiga hari akan kubangun lebih kokoh.” Para petugas keamanan segera tanggap. Ini tentu bukan bagian dari pembacaan puisi. Mereka mengejar gembel itu. Gembel itu berlari kesana kemari sambil menjungkirbalikkan meja bazar dan memporakporandakan barang dagangan. Suasana menjadi gaduh dan mencekam hingga gembel itu menghilang diantara kerumunan. Pastur segera naik ke panggung untuk menenangkan suasana,

“Tenang, saudara-saudara! Petugas telah berhasil menyingkirkan gembel perusuh. Memang, dalam segala kehendak baik, selalu ada si jahil. Tetapi, kita harus tetap tenang dan membulatkan tekad. Demi kemuliaan Allah!”

Semua kembali terkendali.

Entah, bagaimana dana sebesar itu terkumpul begitu cepat. Seperti mukjizat, tiba-tiba saja, aku sudah duduk di samping Kristin di salah satu bangku yang kuadakan, di dalam gereja yang lebih megah dari gambar yang kulihat dalam proposal tiga bulan lalu. Andai hal semacam ini ditulis dalam sebuah cerpen, tentulah akan banyak yang mencibir. Tetapi, begitulah kenyataan. Terkadang, kenyataan lebih tak masuk akal daripada sebuah fiksi yang paling tak masuk akal. Dan, benarlah kotbah pastur di sore itu. Kini gereja tak terendam banjir. Padahal, selama tiga hari tiga malam, hujan turun dengan curah yang menurutku berlebihan, disertai guntur dan petir pula. Rumah-rumah di sekitar gereja tenggelam. Orang-orang dievakuasi, diungsikan di gereja. Gereja ini mendadak penuh.

Handphone Kristin berdering. “Iya, gimana Pak? Semua sudah dievakuasi ? Apa? Ada satu yang tak selamat? Lesus? Kurang jelas! Yesus? Yesus siapa? O,…gembel yang bikin heboh di bazar waktu itu? Itu Yesus?” Wajah Kristin mendadak pucat. “Ada apa Kris?” tanyaku. Kristin menghela nafas, “Tum, Yesus mati tenggelam!”


SG

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s