BULAN NYARIS BULAT DI DERMAGA

Cahaya emas terapung-apung di dermaga.
Para nelayan bercakap-cakap tentang Indonesia
Membual perihal jala abadi yang takterkoyakkan.
Empat kapal merapat, serapat sambutan para istri.
Tong-tong biru melongo. Kemana ikan-ikan?

Hei, Lihat itu!
Kenapa bulan seperti tersipu
malu, sembunyi di balik mendung?
Konon, ikan-ikan cemburu pada bulan
sebab bulan lebih sering disapa penyair.
Bulan kian bulat bikin ikan-ikan kian cemberut
Menyelinap, sembunyi di balik terumbu karang.

Maka tiap purnama nelayan enggan melaut.
Mereka cuma membayangkan para istri jadi kapal
Kasur jadi lautnya, ayo main nelayan-nelayanan.
Sambil terpejam, mereka mimpi macam-macam.

Malam kian larut, angin tengah ganti arah
Dermaga ini menyimpan gairah-gairah
orang-orang yang berpengharapan
dan tak takut kepada maut.

Yang tertuduh bulan tampak diam
menyinari aku pemurung yang pengecut
Ketika mendung di mataku bergeser
kulihat bulan itu nyaris bulat.

Menjelang fajar
Cahaya emas pindah ke pucuk-pucuk gunung.

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s